Chapter 26

358 63 16
                                        

"Pokoknya kamu jangan jauh-jauh dari Papa ya, Nak! Ini Papa udah baik banget loh, nurutin kemauan kamu untuk jalan ke Mal. Tapi kamu harus pake maskernya ya!" ujar Caleb sambil memperbaiki masker di wajah Adrial.

"Kenapa harus pake masker, Pah? Saya kan lagi gak sakit" ujar Adrial.

"Pokoknya kamu dengerin aja apa kata Papa! Jangan maumu doang yang diturutin!" cetus Caleb.

Adrial meski sedikit sedih karena dibentak seperti itu oleh Caleb, dia memilih mengangguk saja.

Adrial lalu terengah pada sebuah trik sulap yang diperlihatkan di tengah-tengah Mal tersebut. Ia nampak tertarik dan penasaran dengan area yang cukup ramai tersebut. Sejurus dia pun berjalan dan menghampiri tempat tersebut untuk menyaksikan atraksi tersebut.

Saking riuhnya begitu Adrial berada di tengah-tengah kerumunan itu, dia sedikit sesak dan kesulitan bernapas. Maka Adrial pun turut melepas masker dari wajahnya.

Hingga seketika seseorang ternganga melihat sosok Adrial di seberangnya. "Anjrit!"

"Kenapa lu?" tanya teman dari orang tersebut.

"It-itu... bukannya Adrial? Anaknya Tuan Julian?" tanya orang itu.

Dia pun turut menoleh dan melotot, "Shit the fuck up!" imbuhnya.

"Samperin samperin!" ajak lelaki itu.

Dua lelaki itu pun turut menghampiri Adrial. Seketika Adrial tersentak ketika dua orang tiba-tiba menghampirinya. "Tuan Muda Adrial!"

Adrial menatap lelaki itu di tengah-tengah keramaian. "Anda siapa?" tanyanya panik.

"Saya Alvaro, Tuan" jawabnya, "Ini Jerome, teman saya"

"Kalian mau apa?" tanya Adrial heran.

"Tuan Muda masih hidup? Saya gak nyangka sekali melihat Tuan sekarang" ujar Alvaro.

"Sumpah, gak nyangka banget" timpal Jerome.

"Masih hidup? Kalian siapa?" tanya Adrial masih terheran-heran.

"Kami ini pegawainya Tuan Besar Julian, Ayahnya Tuan Muda Adrial" jawab Alvaro seadanya.

Adrial mundur seketika dengan mata yang bergerak-gerak. Dia kebingungan bukan main. Ayah Julian. Sejak kapan dia memiliki Ayah bernama Julian. Bukannya Caleb.

Tiba-tiba saja kepala Adrial terasa nyeri sekali. Pikirannya bagai tertumpuk kacau. Dia heran bukan main akan dirinya sendiri.

Hingga dalam satu tarikan napas, Adrial pun terjatuh pingsan.

~

Adrial membuka matanya seketika, dia tersentak melihat seisi tempat itu sudah dikerumuni oleh orang yang sama sekali tak dikenalinya.

"Kalian siapa?" tanya Adrial seketika.

Arsen langsung saja memeluk tubuh Adrial, "Ya Allah, Naaak. Papa seneng banget ternyata kamu masih hidup, Naak"

Adrial terkekeh merasa asing di rumahnya sendiri. Merasa linglung pada sekumpulan orang-orang ini.

Aidan kemudian duduk di sebelah Adrial dan memegang bahu adiknya itu dengan akrab, "Welcome back my bro! Gue seneng ternyata lo masih hidup! Ternyata bener apa kata Stefan dan yang lain. Lo benar-benar masih ada disini"

Adrial tak enak hati bertanya, "Lu siapa?"

Aidan tersenyum dan menjawab, "Gue abang lo! Aidan!"

Adrial mencoba mengingat-ingat, "Aidan?"

"Iya. Dan ini Papa kita, Papa Arsen" Julian mengelus bahu Papanya. Lalu dia kembali menunjuk ke arah Daddy-nya, "Kalo yang ini namanya Daddy Julian"

"Daddy Julian?" ulang Adrial lagi.

"Mereka kedua orang tua kandung kamu, Yal" ujar Alvaro seketika.

"Orang tua kandungku? Terus Papa Caleb???" tanya Adrial bingung sekali.

"Dia cuma orang yang ngaku-ngaku jadi Papa lo, Yal! Dia palsu!" tukas Aidan.

Adrial tertegun seketika. Hening sekali dia bolak balik memandang Julian dan Arsen dengan lirih dan berusaha yakin meski ragu. "Jadi saya anak dari pasangan sejenis?"

Arsen dan Julian berpandangan. Yang lain sama tak enaknya dengan Arsen dan Julian.

"Iya, Yal! Dia orang tua lo! Orang tua kandung lo! Lo lahir dari rahim seorang laki-laki bernama Arsen. Orang yang sangat menyayangi lo!" tukas Aidan.

Adrial masih bingung memandangi Arsen. Arsen menatap lirih pada Adrial, berusaha tersenyum ditengah-tengah terlupanya ia di memori Adrial. Dan itu rasanya amat sakit. Begitupun Julian yang hanya bisa menegarkan hatinya sekuat mungkin.

Aidan kemudian berujar, "Lo... belum bisa terima ya, kalo orang tua lo itu..."

"Udah udah ya, Adrial perlu istirahat. Lebih baik kita biarin dia tenang dulu yuk" ajak Julian pada yang lain untuk keluar dari kamar Adrial.

Tinggalah Arsen dan Adrial di kamar itu saling berdiam lama. Adrial canggung sementara Arsen sekeras mungkin membubuhkan rasa kasih sayangnya.

Arsen tertegun pada luka di kaki Adrial, "Ini lukanya kok basah, Nak?"

Adrial hanya diam, bingung harus jawab apa.

"Sebentar ya" kata Arsen sambil beranjak.

Adrial pun diam di atas tempat tidurnya dengan heran. Siapa sebenarnya dirinya. Siapa sebenarnya keluarga ini. Yang mana yang harus ia percaya.

Tak lama kemudian Arsen kembali dengan sekotak perlengkapan P3K dan segelas susu vanilla hangat.

Adrial seakan tak enak hati melihat Arsen kerepotan dengan barang-barang ditangannya. Dia bergerak sedikit berniat untuk menolong Arsen, namun Arsen melarang. "Udah, Nak. Udah gapapa. Kamu disitu aja ya. Papa bisa kok"

Setibanya di depan Adrial, Arsen langsung memberikan susu itu pada Adrial. "Diminum susunya ya"

"Maaf, jadi merepotkan" ujar Adrial.

"Enggak dong, Sayang. Kamu sama sekali gak merepotkan kok. Justru Papa mau direpotin sama kamu terus, ya" ujar Arsen.

Adrial mengangguk.

"Diminum susunya, Nak. Papa mau obatin luka kamu dulu" ujar Arsen.

Adrial seketika terus memandangi ketulusan Arsen dalam merawatnya. Sungguh beda sekali rasanya dengan Caleb yang mengaku Papanya. Tak sama. Adrial bahkan dapat merasakan ketulusan pada lelaki satu ini yang sibuk membersihkan luka di kakinya.

"Makasih ya, Pah" ujar Adrial seketika.

Arsen tersentak seketika, "Kamu bilang apa barusan, Nak?"

"Eh, maaf. Salah ya?" tanya Adrial, canggung dengan suara pelan.

"Enggak kok, Nak. Enggak! Saya justru senang sekali kamu memanggil saya dengan sebutan Papa" ujar Arsen.

Adrial menyunggingkan senyumnya meskipun ragu.

~

Pagi itu suasana di rumah Arsen tiba-tiba saja digaduhkan dengan kedatangan beberapa orang yang masuk seenaknya ke rumah mewah itu.

"Apa-apaan ini???" tanya Julian seketika yang lebih dulu dongkol dengan keriuhan dirumahnya.

"Kalian semua... silahkan angkat kaki dari rumah ini" cetus Caleb yang masuk paling belakangan.

Baik Julian maupun Arsen dan Aidan turut tersentak melihat kehadiran Caleb.

"Mau apa lo, anjing???" teriak Aidan.

Adrial yang di meja makan pun turut tertegun melihat kehadiran Caleb dan dengan sikap yang amat berbeda dari sebelumnya.

"Liat ini???" Caleb menyodorkan sebuah map ke arah Julian.

Julian pun membuka isi surat tersebut. Pengalihan harta benda warisan atas nama Adrial yang diakuisisi pada Caleb.

Julian melotot membacanya. Tak menyangka bahwa hal yang sama beberapa puluh tahun lalu akan terulang lagi pada hidupnya.

TO BE CONTINUED



STUCK ON YOU 5 (FINAL 21+)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang