Nanto berjalan menaiki anak tangganya, lalu dia menemui Sari, asisten rumah tangganya yang berjalan balik dari ruang kerja Junior sambil membawa secangkir kopi.
"Kenapa, Sar?" tanya Nanto.
"Maaf, Bu. Saya tadi niatnya pengin nganterin kopi ini buat Bapak. Tadi sih dia ada di depan ruang kerjanya. Tapi pas saya balik, udah gak ada. Mungkin lagi di ruang kerjanya ya, Bu" jelas Sari.
"Kalo gitu kenapa gak kamu anterin aja ke dalem ruang kerjanya?" tanya Nanto lagi.
"Ya kan Ibu tau sendiri toh, ruang kerjanya gak boleh di masukin" jawab Sari.
Nanto baru tahu akan peraturan itu. Sejak kapan ruang kerjanya tak boleh dimasuki. Sebelumnya Nanto tak pernah mendengar peraturan itu dari Junior. Baru sekarang dari mulut Sari.
Sementara itu Nanto yang kian lama makin penasaran dengan peraturan tersebut, langsung mengambil cangkir kopi itu dari tangan Sari.
"Eh, Bu. Kok di ambil?" tanya Sari.
"Udah kamu balik kerja lagi, biar saya aja yang anter kopinya ke ruangan Bapak" jawab Nanto.
"Tapi, Bu-"
"Udaah, sana balik kerja"
"Baik, Bu"
Nanto pun berjalan menuju ruang kerja Junior disana.
~
Saat Stefan sudah rapih dan bersih sehabis mandi di toilet personal siswa sekolah, dia kembali ke kelasnya. Namun dia sangat merasa aneh ketika orang-orang memperhatikannya dengan geli.
Stefan merasa tak nyaman dengan tatapan-tatapan itu. Dia gelisah ketika semua mata turut menatapnya dengan jijik sambil memegang ponsel sedada.
Rabu dan Sabtu seketika keluar dari kelas dan tercekat sebentar kala melihat Stefan di tengah-tengah koridor. "Widiiihhh... Fan! Oke juga punya lo!" tukas Sabtu.
"Yoi. Nurun dari Pak Imam yak? Ups! Sorry sorry!" tukas Rabu, keceplosan.
"Boleh laah, kapan-kapan kita test drive!" timpal Sabtu.
"Kalian berdua ngomong apaan sih, hah?" tukas Stefan.
"Mending lo ke kelas, terus lo liat dah tuh!" tukas Rabu.
Stefan dengan penasaran yang kian menjadi, berjalan cepat menuju kelasnya dan tertegun begitu ia berhenti di ambang pintu.
Dia menganga dengan perasaan yang tak menentu. Bibirnya bergerak-gerak, wajahnya terpelongo ke arah layar hologram di depan kelas.
Para murid di kelas turut menyoraki Stefan sambil meledeknya. Wajah Stefan merah, air matanya tumpah kala melihat videonya tengah mandi tadi sedang terputar di layar hologram tersebut. Lampu infokus kiat menyala, menyorot tembus ke arah layar.
"Punya lu panjang juga, Fan! Tapi sayang, gak ngaceng!!!" salah satu gadis mencela Stefan langsung di kelas itu.
"MATI-IIIIIIIN!!!! teriak Stefan. "MATI-IIIINNN!!!"
"Diiiiihhh apa sih looo huuuuuuu!!!" para siswa turut melempari Stefan dengan bola-bola kertas.
Sejurus Stefan mundur sampai ke layar hologram tersebut lalu melihat Aidan menertawainya secara santai dan remeh.
Stefan menangis, pikirnya menjurus bahwa ini adalah ulah Aidan atau antek-anteknya. Tapi yang jelas dia yakin bahwa Aidan-lah biang keroknya.
Stefan pun keluar dari kelas dan menangis lagi. Dia berlari secepat mungkin sampai tak sengaja menabrak Aldo yang baru keluar dari ruang olahraga tiba-tiba.
"Fan... are you okay? Gua belum liat video lu. Tapi yang gue denger dari anak-anak, video lu nyebar di grup sekolah, Fan!" jelas Aldo.
Stefan makin mengamuk, "Terus lo juga mau ngejudge gue??? Lo mau liat gua bugil, hah? Oke! Biar lo puas bisa liat langsung, kan!!!"
Stefan melepas semua pakaiannya sampai hanya menyisakan celana ketat hitam yang dikenakannya. Para siswa turut berkumpul disana ramai sekali. Stefan terus meluapkan emosinya, "PUAS LO HAH???"
Sejurus Stefan hendak melepas celana terakhirnya, Aldo langsung mengambil celana Stefan yang ada di lantai dan langsung memakaikannya lagi pada pinggang Stefan, "Fan! Lu apa-apaan sih??? Jangan gila lo, goblok!!!" teriak Aldo.
"Iya, gua tau gua goblok!!! Gua emang orang super goblok!!! Puas lo!!!" teriak Stefan dengan benar-benar kacau. Ia mendorong tubuh Aldo sambil kembali memungut kemeja sekolahnya di lantai dan pergi dari tempat itu, meninggalkan keadaan kacau tersebut.
Aldo terdiam sebentar mengamati punggung Stefan yang kian menjauh. Lelaki itu terlihat kasihan. Menjadi penanggung-jawab dari kematian Adrial yang bahkan sudah jelas-jelas bukan ia pelakunya.
Aldo pun berniat mengikuti Stefan seketika.
Stefan ternyata menghampiri makan Adrial yang masih segar tanah dan bunganya disana. Bahkan fotonya masih terpampang rapih di depan nisan.
Stefan meringkuh nangis di depan nisan Adrial. "Kamar maafin Malik... Maafin Malik, Kamaaaarr... Malik tau Malik salah sama Kamar. Malik udah nyia-nyiain Kamar kayak gini. Sekarang Malik menanggung bebannya. Kepergian Kamar benar-benar bikin Malik hancur. Malik malu, Kamaaar. Gak ada lagi yang peduli sama Malik. Gak ada lagi yang perhatian sama Malik kayak Kamar dulu. Maafin Malik, Malik menyesal, Kamar...." isak tangis Stefan membara disana. Sesenggukan.
Air mata Aldo pun turut menetes kala dia melihat lemahnya lelaki itu dihadapan nisan Adrial. Bahkan rasanya tak ada pantasnya sama sekali untuk Stefan mempertanggungjawabkan tuduhan dan kesalahan dari sepeninggalnya Adrial.
Aldo menundukkan kepala sebentar, lalu melihat lagi ke arah Stefan disana, tertunduk layu memeluk papan nisan Adrial sesenggukan.
Saat itu Aldo mulai mengikrarkan sebuah janji, yang hanya dirinya dan hatinya-lah yang tahu itu.
~
Nanto seketika membuka pintu ruang kerja suaminya itu. Dia langsung tercekat melihat aksi yang tengah dilakukan Junior di kursi kerjanya sambil membelakanginya, memandang ke arah dinding yang dipenuhi dengan foto-foto Arsen disana.
Nanto menitihkan air matanya kala dia melihat suaminya tengah melakukan masturbasi sambil memandangi banyak foto-foto Arsen yang terpampang lugas disana.
"JUNIORRRR!!!" teriak Nanto seketika, tatkala teriakannya mampu membuat Junior tersentak.
"Tasya!" Junior terkejut, bagaimana mungkin istrinya bisa selancang ini masuk ke ruangan pribadinya.
PLAAKKK!!!! Suara hentakan tangan mengenai pipi terdengar nyaring di ruangan itu. Junior memejamkan mata, menahan sakit di pipinya.
Nanto tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Sama sekali tak percaya. Bertahun-tahun. Memiliki Yasmin. Tapi tega-teganya Junior mencampakkan dan menghianati perasaannya.
"AKU PERCAYA SAMA KAMU!!!" teriak Nanto dengan lantang. Tangisnya pecah menggenang.
"Kamu ngapain disini, hah???"
"GUA UDAH PERCAYA SAMA LO, BANGSAT!!!" Nanto memukul-mukul dada Junior dengan keras. "LO TEGA BANGET SAMA GUE!!!"
"Sya! Dengerin aku dulu!"
"KENAPA HARUS ARSEN???? KENAPA HARUS SAHABATKU SENDIRIIIII" Nanto membungkuk, tangisnya tak tertahankan. Dia menutup wajahnya.
"Sya, maafin aku"
"Jahat banget lo, Jun! Lo bener-bener jahat!" kata Nanto. "Ngapain lo nikahin gua kalo lo itu homo, anjing??? Lo cuma jadiin gua pelampiasan aja selama ini hah???"
"IYA, GUE CINTA SAMA ARSEN! DARI DULU!!! GAK BERUBAH!!! GUE JAUH LEBIH CINTA SAMA ARSEN DARIPADA LO, SYA!!!" tegas Junior seketika, berapi-api.
TO BE CONTINUED
KAMU SEDANG MEMBACA
STUCK ON YOU 5 (FINAL 21+)
Novela JuvenilLGBT 21+ CONTENT!!! homophobic, DONT!!! Akankah utuh??? ~~~ Thank you, selamat membaca. Lara & Husband First Chapter : 6 April 2020 Final Chapter : 28 Agustus 2022
