Chapter 40

335 53 6
                                        

Arsen duduk dihadapan Caleb, sesekali menahan napas karena entah mengapa lelaki itu begitu mengeluarkan bau yang tidak sedap dari tubuhnya. Bahkan Caleb sempat ragu untuk memesan tempat saking sadar dirinya dia memiliki separuh badan yang telah digerogoti.

"Waktuku gak banyak, Caleb! Aku gak bisa lama-lama. Kalau sampe Julian tau aku temui kamu hari ini, aku gak bisa bayangin apa yang terjadi sama diri aku sendiri" ujar Arsen membuka percakapan.

Caleb mengangguk lemah. "Aku..."

Arsen menunggu.

Caleb berusaha bernapas dengan normal tapi tak bisa. Dayanya tak lagi sama seperti dulu. "Aku sakit, Sen"

Arsen membusungkan dadanya, menghela napas. Sesekali ada rasa tak tega dan kasihan beriringan dengan benci pada Caleb. "Aku tau"

"Aku... mau min-ta ma-af ke kamu, Sen" tutur Caleb. Wajah pucatnya seakan membuat Arsen merasa iba.

Arsen membuang wajahnya dari pandangan Caleb. Dia seakan percaya tak percaya dengan penuturan dari Caleb barusan. Matanya berkaca-kaca saking ragunya. "Minta maaf? Aku gak tau apa ini semua trik baru kamu atau enggak. Aku gak tau juga apa kamu benar-benar tulus minta maaf atau semuanya cuma boongan. Aku juga gak bisa langsung percaya sama kamu gitu aja setelah apa yang udah kamu lakukan ke keluarga aku, Caleb!"

Caleb mengedipkan matanya, menandakan paham akan sakit hatinya Arsen terhadapnya. "Aku udah diujung nyawaku, Sen"

Arsen memicingkan matanya. "Dari dulu, Cal! Dari dulu! Aku pikir aku kenal kamu pertama kali di halte, aku mengenal sosok orang paling terbaik dalam hidup aku, Cal! Ternyata aku salah. Bahkan setelah aku berusaha lepas dari kamu, kamu kembali muncul dengan berbagai rencana jahat kamu untuk pisahin aku sama Julian. Sekarang sampai anak-anakku juga jadi korbannya, Cal! Ya Allah. Kamu sadar gak sih kamu seiblis apa?"

"Ak-aku tau, Sen. Aku juga sadar diri. Aku merasa bahwa aku sama sekali gak pantes untuk dapet maaf dari kamu. Tapi... aku sekarang udah menerima balasannya, Sen. Bahkan kalau aku mati pun, aku tau tempatku akan dimana dan seperti apa. Aku hanya ingin meminta maaf dari kamu, Sen" ujar Caleb dengan penuh daya yang pikirnya adalah saat pengabisan.

Arsen memicingkan matanya. Bahkan jika dihitung, Caleb telah berhasil memudarkan sisi baiknya sendiri di mata Arsen. Bibir Arsen seketika bergetar, air matanya tumpah. Lalu dia berdiri dan menampar pipi Caleb dengan keras. "Hrghhh!!!" PLAK!!!

Caleb memejamkan matanya, menahan sakit meski dia sadar ini tak sesakit apa yang tengah dirasakan Arsen selama ini.

"Aku benci kamu, Caleb!!!" tegas Arsen sambil berlalu pergi meninggalkan Caleb sendirian di sana.

Setelahnya, Caleb terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya. Dia semakin bersedih, entah berapa lama lagi dia akan hidup.

Sementara Arsen di mobilnya yang dijalankan oleh supirnya, hanya bisa menangis dan bersedih. Ada rasa pilu pada dirinya sendiri yang entah bagaimana tak bisa memaafkan Caleb begitu saja.

Disisi lain, Arsen juga merasa bahwa dirinya hanyalah manusia biasa. Yang memiliki perasaan. Baik peduli maupun benci. Dia masih memendam perasaan benci terhadap lelaki itu. Setelah wajah Adrial teringat jelas berputar-putar di kepalanya dengan penderitaan yang telah Caleb bawa. Dia tak bisa memaafkan Caleb.

~

"Oooh, gini doang ternyata" cetus Adrial pada Stefan dan Aidan di toilet tersebut.

Stefan berdiri dari tempat duduknya dengan cepat. "Bang Iyal"

Aidan pun ikut berdiri dengan biasa saja. "Kenapa lo?"

Adrial malah tertawa remeh.

"Mikir apaan?" tanya Aidan lagi.

STUCK ON YOU 5 (FINAL 21+)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang