Chapter 28

380 70 15
                                        

"Rumah ini kamarnya cuma ada tiga. Jadi pas banget deh. Kalian tinggal pilih aja ya, mau tidur dimana" ujar Arsen pada kedua anaknya begitu mereka sudah tiba di rumah Julian.

Adrial tertegun pada bingkai-bingkai foto yang terpampang di sebuah dinding. Disana ada banyak sekali bingkai foto dari foto Almarhum Ayah Julian, Ibu Julian, Ambu Nasidah sampai pernikahan Arsen dan Julian.

Julian kemudian menghampiri anaknya itu dan mendekatinya. "Kenapa? Heran ya?" tanyanya.

Adrial menoleh, lalu tersenyum datar. Persis seperti Julian dahulunya.

"Daddy gak akan marah loh, kalo kamu sedikit nyesel kenapa kamu lahir dari rahim seorang laki-laki" kata Julian lagi.

Adrial memandangi foto-foto itu lagi. Kemudian dia berkata, "Kalian berdua keliatan bahagia banget disini"

"Banget, Nak!" jawab Julian. "Tapi di balik itu semua... ada banyak cerita sedih, tragis dan menyakitkan yang tersimpan rapih disana" jawab Julian.

"Tragis?" ulang Adrial.

"Ya" kata Julian. Kemudian dia menunjuk ke arah foto Ayahnya. "Ini Papanya Daddy. Kakekmu. Dia meninggal setelah berjuang melawan sakitnya saat Daddy masih kecil"

Adrial mengamati foto tersebut. Terlihat wajah Ayah Julian begitu mirip dengan Julian disana.

"Ini nenek kamu. Mamanya Daddy. Dia meninggal ditabrak orang secara tragis setelah Daddy dan Papa resmi pacaran" ujar Julian lagi.

Adrial terlihat ngeri mendengarnya.

"Dan orang yang nabrak Nenek kamu itu adalah Caleb" tambah Julian dengan tegas.

"Caleb?" ulang Adrial.

"Ya. Dia dulu itu mantan orang terdekatnya Papa Arsen sebelum Papa ketemu sama Daddy. Cobaan Papa Arsen begitu banyak yang ditimbulkan oleh Caleb hanya untuk menghancurkan hubungan kami, Nak. Sampai harus merenggut nyawa Mama saya sendiri" terang Julian.

Adrial setengah melotot mendengar penjelasan Julian barusan.

"Yang ini namanya Ambu Nasidah. Dia neneknya Daddy. Rumahnya hampir di rampas oleh Caleb, sama seperti sekarang. Bedanya, dia gak berhasil dapetin rumah itu sebelum akhirnya ia masuk ke penjara" tegas Julian.

"Kenapa ada orang sejahat Caleb, Dad?" tanya Adrial.

"Itu pengaruhnya dari kekuatan cinta, Nak. Cinta bisa merubah seseorang untuk bertindak apa saja. Bedanya jalan yang ditempuh Caleb adalah jalan yang gelap dan salah. Makanya dia hidup bersama nestapa sampai sekarang" tukas Julian.

"Beda banget sama cintanya Papa sama Daddy" Aidan tiba-tiba menimbrung, "Cinta kalian kuat sampe sekarang. Gak ada yang bisa ngalahin, siapapun orangnya. Ya kan, Dad?"

Julian tersenyum dan merangkul pundak Aidan. Adrial tersenyum pada mereka berdua.

~

"Take care ya kak... I will always here for you" ujar Stefan pada Aldo saat ia hendak memasuki departure bandara udara.

"Lo juga ya. Jaga diri lo baik-baik, Fan" ujar Aldo.

Stefan mengangguk. Kemudian dia memeluk tubuh Aldo begitu erat setelah lama memilih diam. Berat rasanya bersiap ditinggal jauh oleh orang yang ia sayangi.

Yasmin, Dali, Rabu dan Sabtu turut bolos sekolah untuk mengantarkan kepergian Aldo menuju Austria.

"Aldo... yuk! Udah harus check in" ajak Tante Aldo.

"Iya, Tan" jawab Aldo, lalu dia kembali menatap Stefan dan mengacak-acak rambutnya. "Good bye Stefan"

Stefan berusaha tersenyum ditengah kepergian Aldo. Aldo melambaikan tangannya pada teman-temannya sebagai bentuk perpisahan yang sempurna.

STUCK ON YOU 5 (FINAL 21+)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang