Chapter 9

514 83 26
                                        

Miska kian melotot mendengarnya, tak menyangka bahwa Ayah tirinya akan setega itu menjebloskannya ke penjara. "Pi, Pi, tolong, Pi. Miska gak mau masuk penjara. Miska gak mau"

"Om, tolong, Om. Jangan biarkan saya masuk ke penjara. Saya cuma ikut rencananya Miska aja. Saya gak ada niat jahat apapun sama keluarganya Aidan, Om" Tori ikut mengemis, memohon pada Caleb.

"Saya gak pernah menyuruh anak saya sama sekali untuk balas dendam. Saya memang menceritakan kronologi saya sampai masuk ke penjara. Bukan berarti kalian harus ikut campur apalagi dendam sama keluarga Arjul. Siapa kalian, berani seenaknya sok balas dendam?" tukas Caleb. "Bawa mereka, Pak!"

Begitu Caleb memerintahkan dua orang polisi untuk membawa Miska dan Tori, mereka berdua semakin panik dan ketakutan. Histeris meminta-minta ampun. Memohon pada Caleb dan lainnya. Sampai dua orang polisi itu menyeret mereka sampai ke sel sementara. Menunggu persidangan tiba.

~

"Aku mau ngomong sebentar sama Caleb" ujar Arsen pada Julian yang berada di lobby kantor polisi.

Julian berusaha menolak, "Tapi, Sen..."

Arsen mendongak menatap Julian, mengisyaratkan dia sudah capek berdebat dan hentikan saja drama ini.

Julian mengerti, lalu dia menjauh dari Arsen dan Caleb. Dia duduk di lobby kantor polisi bersama Aidan dan lainnya.

"Sen... saya gak enak sama Julian" tutur Caleb.

"Gak perlu gak enak. Justru seharusnya kamu jangan masukkan anak kamu ke penjara. Kasian, mereka masih anak-anak, Cal" tutur Arsen.

"Kasian??? Justru anak seusia mereka itu harus tau rasanya kalau mereka coba-coba untuk melakukan tindakan kriminal" tukas Caleb. "Biarin aja, Sen. Biarin mereka dihukum. Toh, saya gak pernah nyuruh mereka untuk ngelakuin hal konyol apapun"

Arsen menatap mata Caleb, bertanya-tanya apakah Caleb jujur atau berbohong. Lalu dia berujar, "Yaudah, terserah kamu kalau menurut kamu itu terbaik. Yang jelas aku cuma bisa ngehargai keputusan kamu"

Caleb manggut-manggut. "Miska itu aku ambil di panti asuhan pada saat aku bebas dari penjara. Dia remaja yang tangguh di panti itu. Makanya aku mengangkat dia sebagai anak. Menyekolahkannya sampai dia sukses. Belajar bertanggung-jawab lewat dia"

Arsen di kurai rodanya turut tersenyum luluh pada kebaikan Caleb. "Kamu memang baik, Caleb. Sama seperti saat aku pertama kali ketemu kamu dulu"

"Halte bis ya?"

Arsen tertawa seketika.

"Hujan-hujan bukan?"

"Iya" Arsen menyelesaikan tawanya.

Di saat itu, Robert disofa tunggu turut memperhatikan Arsen dan Caleb yang tertawa lepas seperti itu. Dia melamati pemandangan yang tak biasa itu.

"Papa kenapa kok ngeliatin Kak Arsen sama Om Caleb segitunya?" tanya Dali.

Robert seketika terengah, lalu menoleh pada Julian yang juga memandangi Robert balik. Seakan keduanya memiliki jalan pikiran yang sama.

"Mas Robert punya pikiran yang sama kayak saya?" tanya Julian pada Robert.

Robert mengangguk lalu kembali memandangi tawa renyah Arsen dan Caleb disana.

"Bokap lo keliatan akrab banget sama Om Caleb" ujar Yasmin pada Aidan yang juga sedang menatap tajam pada Arsen dan Caleb disana.

"Dan!" Yasmin menyenggol lengan Aidan.

"Setau gua, tuh orang pernah naksir buta sama Papa Arsen. Sampe ngelakuin hal gila! Dan berakhir di penjara" jawab Aidan sekenanya.

"Bokap lo apa gak cemburu tuh, Dan?" tanya Rabu.

"Hus ah!" Sabtu menoyor kepala Rabu.

"Apa sih?" tanya Rabu tanpa suara, protes.

"Gak enak, nanti di denger, goblok!"

"Orang nanya doang, jablay! Jauh ini jaraknya!"

"Berisik!"

Aidan menatap Daddy-nya yang duduk lemah di ujung sana bersama Robert, Hema dan Dali. Menatap Daddy-nya yang lelah seperti itu, Aidan malah semakin kasihan padanya.

Aidan bangkit dari duduknya lalu dia berjalan menghampiri Daddy-nya. Dia turut memijit kedua bahu ayahnya itu. "Are you okay, Dad?"

Julian mendongak ke atas, memandang anaknya. Lalu dia tersenyum dan mengelus lengan Aidan yang masih memijatnya. "Yang penting Papa kamu seneng, Nak"

Aidan kembali memandangi Arsen disana bersama Caleb, lalu dia berujar pada Julian. "I'm really proud of you, Dad. And I'm so sorry about last night"

Julian tersenyum lalu mengelus-elus lengan anaknya lagi, "No, it's okay. Don't you think about it"

Aidan tersenyum, "Thanks, Dad" kemudian dia melirik ke arah Dali disana bersama kedua orangtuanya.

Dali tersenyum ke arah Aidan, dan memberikan tanda cinta lewat dua jarinya pada Aidan.

Aidan tersenyum, lalu memberikan tanda fuck you pada jari tengahnya.

Muka Dali langsung masam, geram pada kekasihnya itu. Sampai kemudian dia melihat lagi Aidan mengubah simbol jemarinya menjadi tanda cinta padanya. Dai tersenyum, menahan tawa. Geleng-geleng kepala dengan sikap Aidan yang menyebalkan baginya.

Sementara Robert disana masih terpaku menatap punggung Caleb disana. Isi kepalanya bertanya-tanya, merontak tak mau diam. Dia bergumam penuh getir dalam hati, "Caleb... sebenarnya ada apa dengan kamu. Apa yang membuatmu tiba-tiba kembali lagi pada kehidupan Arsen. Saya gak akan tinggal diam, Caleb. Meskipun Arsen berjuta-juta kali percaya dengan trik murahan kamu untuk meminta maaf padanya. Tapi saya gak akan tinggal diam begitu saja. Saya tahu di otak kamu penuh dengan kebusukan. Bahkan sampai sekarang. Saya yakin akan itu. Saya akan cari tahu dan buktikan pada Arsen dan Julian, bahwa kamu sama sekali belum berubah. Bahkan kamu memiliki rencana baru. Lihat saja nanti"

Mata tajam Robert terus memekik pada punggung Caleb, seakan dia ingin sekali menembak punggung Caleb jika saat ini dia membawa senjata. Sayangnya tidak. Meski niat sangat, tak urung Robert berani untuk nekat melakukannya.

"Mereka ngobrolin apaan sih? Lama banget" tanya Hema seketika.

Robert hanya diam, sambil mengelus lengan suaminya itu.

"Kasian loh itu Julian jadi keanggur kayak gitu. Dia kan suaminya Arsen" protes Hema.

"Mungkin ada yang penting, Yah" ujar Dali pada Hema.

"Kita pulang aja yuk, udah malem" ajak Hema.

"Mas Hema sama Dali aja duluan, gapapa kan? Saya ada urusan sebentar" ujar Robert.

"Oh, yakin, kamu mau sendirian, Bert? Full pengamanan aja ya? Takutnya ada apa-apa" Hema khawatir.

"Gapapa, Mas. Ini penting. Saya udah biasa ngadepin hal-hal seperti ini" tandas Robert sambil terus menatap tajam ke arah Caleb disana.

Hema mengerti akan itu, meski khawatir, dia tetap mendukung da menghargai keputusan Robert. "Aku tunggu di rumah, kalau ada apa-apa, langsung telpon, okay?"

Robert mengangguk, "Baik, Mas. Mas hati-hati ya"

"Iya"

"Bye, Dali" ujar Robert pada Dali.

"Bye, Papaah" balas Dali.

Sehabis lambaian tangan itu, Dali memberikan kode "telpon aku" lewat tangannya pada Aidan.

Aidan menganggukkan kepala dan tak sabar menunggu Dali tiba di rumah untuk menelponnya. Membicarakan hal-hal dan membahasnya secara detil.

Robert masih terus memandangi punggung Caleb dengan berbagai pikiran dan perkiraan akan satu rencananya yang masih sedikit ragu untuk dia lakukan. Tapi setidaknya, Robert yakin, hasilnya tidak akan sia-sia.
  

TO BE CONTINUED

STUCK ON YOU 5 (FINAL 21+)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang