Chapter 2

630 94 36
                                        

Aidan tak sengaja menjatuhkan gelas di meja makan. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba menjadi tak keruan. Padahal sejak tadi, dia tak merasakan hal aneh apapun. Melihat ke arah pecahan gelas, serasa satu pertanda telah terjadi sesuatu baginya. Bak semesta tengah memperingatkan.

"Idan? Kenapa?" tanya Dali yang seketika bingung melihat Aidan tak sengaja menjatuhkan gelasnya. "Kok bisa sampe jatoh gelasnya?"

Aidan tak menjawab apa-apa. Otaknya berpikir keras. Apa yang sedang terjadi. Sungguh, hatinya berperang seketika. Jantungnya berdegup cepat, tak seperti biasanya.

Dali bangkit dari mejanya, berniat untuk membersihkan pecahan gelas tersebut, namun dihalangi oleh Aidan yang terburu-buru mendahului gerak Dali, "Udah, Dali, biar gua aja. Aawww"

Pecahan gelas itu tak sengaja menggores jemari Aidan. Membuat Aidan tambah yakin dengan sesuatu yang tak beres dimanapun itu.

"Tuh kan. Berdarah kan" Dali memasukkan jari telunjuk Aidan yang berdarah ke dalam mulutnya. Dihisapnya darah itu oleh mulutnya. Luka perlahan mengering oleh liur.

"Gua ngerasa ada yang gak beres deh, Dal" kata Aidan, seketika.

"Emang. Idan gak mau hati-hati sih" kata Dali sambil meneteskan obat merah pada jari Aidan, lalu membalutnya dengan plester luka.

"Enggak, enggak, enggak. Maksudnya tuh, kayak ada yang gak beres di luar, Dal. Ada yang terjadi. Gua ngerasa gak tenang banget"

Dali ikut terdiam, kepikiran dengan ucapan Aidan barusan.

Aidan terlihat cemas dan khawatir. Lalu dia memeriksa ponselnya, mati total. Dia lupa mengisi daya baterai ponselnya.

"Kita pulang aja ke Platinum yah?" kata Dali.

Aidan mengangguk setuju.

~

"Hai, Sen" sapa Junior memasuki ruang kerja Julian. Dia menemui Arsen disana.

"Eh, Jujun!!! Tumben banget lo ke kantor?" balas Arsen, tak menyangka.

"Iya nih. Padahal tadi gua udah ke rumah lo, tapi kata orang rumah, lo ikut si Gajul ke kantor" kata Junior.

Arsen tertawa kecil, "Iya. Soalnya laki gua hari ini banyak meeting sama klien. Terus gue mau bantuin dia aja dulu, ngehandle kontrak yang numpuk nih di meja dia"

"Ooohhh. Mmm, gue boleh duduk kan?" tanya Junior.

"Boleh dooong. Sorry, ampe lupa nawarin gua jadinya. Mau minum apa nih? Kopi, teh, soft drink?"

"Apa aja"

"Oke, wait a minute" Arsen menelpon sambungan pada OB lalu memesan minuman untuk Junior.

Junior tersenyum memandangi Arsen yang tak kunjung berubah sejak SMA. Laki-laki itu nampak tampan dan menggemaskan walau sudah beranak dua.

"Sooo, menir penuh kejutan. Ada apa nih, pagi-pagi udah dateng kesini? Kok gak sama Nanto?" tanya Arsen, membuka topik.

"Dia di rumah" kata Junior, setengah hati. "Dia juga gak tau, kalo gue mau kesini"

"Kenapa??? Biasanya kemana-mana berdua"

Junior tertawa remeh, "Sejak kapan sih, Sen?"

Arsen mengernyitkan kening mendengar Junior mengucapkan kalimat itu tiba-tiba.

"Sejak kapan gue selalu berdua sama Nanto?" tanya Junior.

"What?" Arsen tertawa, guna meyakinkan diri bahwa Junior hanya becanda.

"Gue udah nyoba. Tapi gue gak bisa, Sen"

"Maksud lo?" tanya Arsen, dia menatap mata laki-laki itu. Mata sahabatnya sendiri. Dan, benar saja, ada yang tidak beres disana. "O'ow! No!"

"Dari dulu, Sen..."

"Junior, don't!!!"

"Dari dulu gue belajar untuk cinta sama Tasya. Tapi tetep aja hati gue cuma terpaut di elo! Elo, Arsen Arzafka!"

Arsen tertawa lagi, "Lo jangan gila deh, Jun! Kita kan temenan"

"I know, Sen! I know that bullshit at all! But there is one thing another that you have to know!!!"

Arsen menatap tajam mata Junior.

"I always in love with you, Arsen. I do! After all this time" aku Junior.

"Jun... lo tau kan, hati gua cuma untuk siapa?" camkan Arsen, "Hati gua cuma buat Bang Yayan, Jun! Suami gue! Ayah dari anak-anak gue! Lo gak liat apa, anak-anak kita udah pada gede-gede? Lo gak malu untuk akuin ini di saat seperti sekarang ini? Kita udah bukan anak SMA lagi, Jun! Please!!"

Junior menatap mata Arsen dengan napas yang memburu. Dia menatap tajam mata lelaki itu sampai lelaki itu salah tingkah dan menunduk.

Junior berdiri dari duduknya seketika. Satu gerakan cepat membuat Arsen menatap lelaki berpostur tinggi ideal ini dengan awas.

Sampai ketika Junior menghampiri Arsen dan langsung menjurus ke bibirnya. Di lumatnya dengan paksa bibir Arsen yang merah menawan dan selalu menjadi fantasi Junior dalam berhubungan intim dengan Nanto.

"Juniooooorrr!!!" Arsen berusaha merontak dan mendorong tubuh Junior, tapi Junior terlalu kuat untuk di jauhkan dan di lawan. "Lepasin gueeee!!!"

Junior terus memaksa mengecup bibir Arsen dengan beberapa gerakan paksa. Bahkan dia mengeluarkan lidahnya agar ia bisa menikmati celah rongga mulut Arsen yang terasa kopi dan mint. Sementara Arsen juga terpaksa merasakan aroma rokok dari bibir Junior.

PLAKKK!!! Arsen berhasil menampar pipi Junior dan menjauh darinya. "Pergi lo dari sini! Pergi!!!"

"Sen, I'm so sorry, I just..."

"Cukup, Jun! Gue gak mau denger apa-apa lagi dari lo!" tegas Arsen, "Lo tuh jahat tau gak! Anak lo sekolah, istri lo di rumah, mereka pikir semua baik-baik aja, tapi lo-nya??? Keterlaluan lo!!!"

Junior menatap Arsen dengan rasa bersalah, "Arsen..."

Ponsel Arsen berdering. Membuat Arsen semakin gelagapan dan bingung di situasi seperti ini. Dengan sedikit panik, dia menerima telpon tersebut yang hanya nomor saja disana. "H-halo???"

Junior mendekat, namun Arsen menghindar lagi sambil menunjuknya dengan awas.

"Y-ya, dengan saya sendiri? Ini darimana ya?" tanya Arsen, masih gugup. "Kepolisian???"

Junior masih memandangi Arsen dengan jarak 4 meter darinya.

"Hah??? Kecelakaan???" Arsen tak percaya mendengarnya.

~

Campur aduk perasaan Julian yang rela meninggalkan meetingnya begitu mendapat telpon dari kepolisian atas kabar mobil Adrial yang mengalami kecelakaan di pinggir kali.

Dengan tetesan air mata, kalut dan keringat, Julian di dalam mobilnya tergesa menelpon Arsen, "Halo! Sayang kamu jangan panik dulu ya, Sayang"

"Gimana Arsen gak panik, Bang. Adrial, Bang! Adrial!!!" tangis Arsen memuncak di mobilnya. Sejak tadi Arsen menyuruh supirnya untuk cepat melaju ke lokasi kejadian.

"Iya, Sayang. Kita berdoa yang terbaik untuk Adrial ya. Insha Allah, Adrial gak kenapa-napa" walau Julian berusaha menguatkan kekasihnya itu, tapi batinnya terluka. Hatinya teriris. Bagaimana tidak, lagi-lagi naas harus menimpa putra keduanya.

Sementara Arsen lemas, menjatuhkan ponselnya di mobil tersebut. Tak bisa berkata apa-apa lagi selain berdoa untuk keselamatan anaknya. "Ya Allah, Adriaaaaalll!!!"

Julian menangis sambil berusaha fokus menyetir. Cobaan tiada habisnya menyelimuti keluarganya tersebut. "Ya Allaaah, selamatkan anak hamba, ya Allah! Selamatkanlah Adrial"

"PAK CEPET DONG, PAAAAKKK!!!" teriak Arsen pada Pak Muhlis.

"Iya, Tuan. Ini saya juga sedang berusaha agar lebih cepat" kata Pak Muhlis.

Arsen memegang kepalanya, penat. Lelah. Sakit. Derita. Tangisnya pecah sejadi-jadinya. "Adriaaaall..."

TO BE CONTINUED

CERITA AKAN UPDATE LEBIH CEPAT, BERDASARKAN JUMLAH KOMENTAR. TERIMA KASIH.

STUCK ON YOU 5 (FINAL 21+)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang