"Jadi kenapa sih pada ribut-ribut gini?" tanya Anwar pada si kembar, Rabu dan Sabtu.
"Rabu noh! Pelakor!" cetus Sabtu
"Dih, elu tuh pedunkor!" timpal Rabu.
"Apa itu pedunkor?" tanya Anwar bingung.
"Perebut gadun orang!" cetus Rabu.
"Eh, elo ya njing! Bukan gue!" Sabtu tak terima.
Ditengah keributan Rabu dan Sabtu, Adit dan Anwar malah menahan tawa dengan istilah baru dari Rabu barusan.
"Eh, udah udaaah..." Adit berusaha melerai, "Emangnya siapaaa, gadun yang kalian rebutin tuh siapaaa, hah?" tanya Adit.
"Tau nih. Sespesial apa sih dia, sampe direbutin segala?" tanya Anwar.
"Spesial lah! Yang jelas dia tajir, penyayang pula!" jawab Rabu.
"Ganteng! Wangi, lagi!" tambah Sabtu.
"Buat gua itu!!" tukas Rabu.
"Buat gua lah!" balas Rabu.
"Udah! Udaaaah! Stop!" Anwar melerai lagi. "Kalian ini saudara, gausahlah ribut-ribut cuma karena gadun doang!"
"Iya! Papa juga belum dijawab pertanyaannya! Siapa gadun kalian, hah?" tanya Adit.
Rabu dan Sabtu diam sejenak, sampai kemudian mereka secara bersamaan menjawab, "Pak Imam"
"WHAT???" Adit dan Anwar kompak terkesiap.
~
Arsen kembali mendatangi rumah sakit yang kemarin ia datangi bersama Nanto untuk memastikan lagi berita tentang Caleb dan penyakitnya. Ia berusaha untuk mencari informasi tentang Dokter spesialis kanker yang merawat Caleb.
"Sus, saya mau tau tentang keberadaan Dokter spesialis kanker hati, Sus" ujar Arsen pada suster resepsionis.
"Baik, Pak. Kalau boleh tau, Dokternya atas nama siapa?" Suster bertanya balik.
Arsen tertegun sebentar, "Itu dia, Sus. Saya lupa kemaren namanya siapa. Nngg... atau gini deh. Saya boleh tau apa disini ada pasien yang bernama Cal-"
Belum selesai Arsen bertanya, ponselnya tiba-tiba saja berdering. "Maaf, sebentar, Sus"
"Baik, Pak" jawab Suster tersebut.
Arsen kemudian melihat ke arah layar ponselnya. Betapa terkejutnya ia melihat sebuah kontak bernama Caleb tengah menghubunginya kini. Ia mengernyitkan keningnya, "Caleb?" Setelah sekian lamanya Caleb sudah tak pernah lagi mengganggunya, kini ia menelpon juga. "Semoga dengan ini kamu beneran panjang umur, Cal!" ujar Arsen.
Kemudian Arsen pun segera menjawab panggilan telpon dari Caleb tersebut. "Halo?"
"A-A-Arsen..." suara lirih nan payah terdengar berat di sana.
"Caleb! Kamu dimana?" tanya Arsen.
"A-a-aku butuh ketemu sama kamu, Sen" napas Caleb terdengar lelah disana.
Mata Arsen berkaca-kaca. Ia ingin menangis tapi ditahan. "When?"
"Ter... hhh... terserah kamu aja. Tapi... waktuku sudah tak banyak..." Caleb bersusah payah untuk berkata.
Arsen menelan ludahnya dengan berat. Dia menghela napas, "Temui aku di restorannya Adit dan Anwar. 20 menit lagi dari sekarang"
"Baik... Sen... See you there..."
Telpon ditutup. Arsen memegang kepalanya, menyeka rambutnya. Segala perasaan campur aduk disana. Meski ragu, tapi nurani tetap memaksanya untuk segera kesana. Maka Arsen pun tak lagi membuang waktu. Ia kesana sendirian.
KAMU SEDANG MEMBACA
STUCK ON YOU 5 (FINAL 21+)
Teen FictionLGBT 21+ CONTENT!!! homophobic, DONT!!! Akankah utuh??? ~~~ Thank you, selamat membaca. Lara & Husband First Chapter : 6 April 2020 Final Chapter : 28 Agustus 2022
