Pagi itu di meja makan, keluarga Januar nampak berbahagia. Ada Aidan yang sedang memainkan game di ponselnya. Adrial yang menaruh selai kacang di atas rotinya. Julian yang meminta tolong Arsen untuk mengupaskan kulit buah pir untuknya.
Aidan sejak tadi kalah terus bermain game akhirnya memilih untuk keluar dari aplikasi permainan daring tersebut. Lalu ia memerhatikan kedua ayahnya yang nampak begitu mesra. Sejurus dia meminum susunya sambil mendehem, "Pokoknya Idan gak mau ya punya adik lagi"
Adrial tersedak rotinya.
Arsen dan Julian berpandangan ngeri. Arsen kemudian berujar pada Adrial yang masih terbatuk-batuk. "Minum susunya, Nak!"
"Kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu?" tanya Julian pada Aidan dengan tatapan jenaka.
"Suara kalian tuh! Berisik banget tadi malem! Idan sama Iyal aja denger! Ya kan, Yal?" tanya Aidan.
Adrial sedikit salah tingkah, tapi dia mengangguk saja.
Julian memberikan senyuman tertahan pada Arsen. Arsen memukul lengan Julian saking malunya.
"Pokoknya Idan sama Iyal gak mau punya adek lagi ya! Nanti ilang lagi perhatian Papa sama Daddy ke kita!" cetus Aidan sekenanya.
Julian tertawa pelan, "Kamu kok ngomongnya kayak gitu sih, Nak? Anak itu kan anugerah dari Tuhan! Gimana sih"
"Tapi anugerah Tuhan yang kali ini tuh, kalian rencanain! Iya kan?"
"Tau nih, Daddy! Udah deh, dua anak kan lebih baik" Adrial ikut membeo.
Arsen dan Julian makin geleng-geleng kepala dan tertawa, "Ini anak-anak Daddy kok pada nyerang gini sih" tanya Julian.
Bersamaan dengan keramaian suasana dapur di rumah Julian, suara pintu luar rumah di ketuk berkali-kali.
"Biar Arsen buka dulu ya" Arsen berdiri dari duduknya lalu menghampiri pintu tersebut sambil meninggalkan keramaian yang terjadi antara Julian dan kedua putranya.
Pintu masih diketuk berulang kali, hingga Arsen pun membuka pintu tersebut. Dia tertegun seketika.
"Arsen..." suara itu terdengar parau dan lemah.
Arsen langsung menutup pintu dan bersembunyi di balik pintu tersebut. Ia tak menyangka bahwa Caleb masih saja berusaha untuk mengganggu ketenangan rumah tangganya.
Arsen diam sebentar dengan jutaan pikiran yang membabi buta di pikirannya. Lalu dia pun mengumpulkan ribuan nyalinya untuk kembali menghadapi Caleb. Dia membuka pintu lagi dan menatap Caleb dengan tajam. "Mau apa kamu kesini, hah? Mau apa lagi??? Belum puas kamu udah rebut semuanya dari saya dan suami saya???"
"A-aku..." Caleb terlihat lelah ketika bersuara pada Arsen.
"Aku gak ngerti lagi ya, Cal. Urat malu kamu itu dimana? Apa udah putus atau emang bener-bener hati kamu itu udah mati!" tukas Arsen.
"Sen... aku kesini... aku mau-"
"Pergi Cal! Sebelum saya telpon polisi!"
"Ar... sen..."
"PERGIII!!!" teriak Arsen sambil menunjuk keras ke arah pagar rumah Julian.
Caleb dengan napas yang terpatah-patah akhirnya memilih pergi. Pikirnya mungkin waktunya kurang tepat. Dia akhirnya berbalik dan berjalan keluar menghampiri mobilnya yang terparkir disana bersama supir pribadinya.
Arsen berkaca-kaca melihat punggung Caleb yang menjauh, lalu dia pun memilih untuk mengabaikan masalah ini dan kembali ke meja makannya.
"Siapa, Yang?" tanya Julian pada Arsen.
"Oh, cuma orang nyasar. Salah rumah"
"Siapa? Kamu gak ngasih tau arah yang dia tuju?"
"Udah. Udah kok. Yaudah lah ya, kita lanjut makan. Kasian nanti kamu sama anak-anak bisa telat"
Julian meski ragu akhirnya mengangguk saja dan melanjutkan makanannya.
"Pah!"
"Ya sayang?"
"Pokoknya Idan gak mau ya punya adik"
Arsen tertawa mendengar pernyataan dari anaknya itu. Sampai dia termangu lagi gara-gara kepikiran apalagi rencana Caleb untuk keluarga kecilnya kemudian.
~
Adrial berjalan masuk menuju kelasnya dan merasa aneh ketika ditatap sangar oleh Yasmin disana.
"Ada apaan sih?" tanya Adrial pada Rabu.
"Lu parah sih!" jawab Rabu.
"Parah kenapa?" tanya Adrial heran.
"Heh, Yal! Gue tau lo mungkin gak punya perasaan apa-apa sama si Stefan ya! Tapi bisa gak sih, otak pinter lo itu di pake?" tukas Yasmin pada Adrial.
"Gue gak ngerti maksud lo apa"
"Makanya dipake otaknya! Liat si Stefan sekarang! Dia gak masuk sekolah gara-gara lo kan! Lo ngebiarin dia ujan-ujanan sampe sekarang dia malah masuk rumah sakit!" tegas Yasmin.
"Itu dianya yang bego! Sosoan mau nganterin gue balik, taunya mobilnya gak bener!" tukas Adrial. "Baru ujan gitu aja udah lebay!"
"Emang lo tuh gak punya hati!" tukas Yasmin. "Gue sumpahin pada saatnya nanti, lo bener-bener gak lagi dibutuhin sama si Stefan!"
"Silahkan! Gue juga gak pernah butuh dia! Tukang ganggu!"
"Semoga aja lo akan butuh dia, Yal! Lo inget baik-baik omongan gue! Dulu, Uncle Julian nolak mentah-mentah Om Arsen berkali-kali. Tapi akhirnya apa? Mereka malah punya lo kan!"
Adrial terdiam sebentar.
"Kita liat aja nanti, kelanjutan kisah lo sama Stefan gimana!" Yasmin melengos pergi meninggalkan Adrial di tempatnya.
Adrial termangu dengan kata-kata Yasmin barusan. Jujur ada perasaan sedikit bersalah ketika mendengar kabar bahwa Stefan masuk rumah sakit.
Tapi sekali lagi dia merasa bahwa itu bukan salahnya. Itu salah Stefan sendiri yang terlalu memaksa. Sampai akhirnya dia sakit, itu sudah jadi resiko yang dia harus terima.
TO BE CONTINUED
KAMU SEDANG MEMBACA
STUCK ON YOU 5 (FINAL 21+)
Novela JuvenilLGBT 21+ CONTENT!!! homophobic, DONT!!! Akankah utuh??? ~~~ Thank you, selamat membaca. Lara & Husband First Chapter : 6 April 2020 Final Chapter : 28 Agustus 2022
