Absen dulu yu, orang mana aja yang baca cerita ini(☞^o^) ☞
VOTE. KOMEN!
_
HAPPY READING ~
Hampir setiap malam Luna merasa dirinya kesepian. Sore tadi kedua orangtuanya pergi ke luar kota, katanya ada urusan pekerjaan.
Di rumah Luna tinggal berdua bersama asisten rumah tangga.
Sunyi dan sepi Luna rasakan di rumah besar bak istananya itu.
Luna duduk di meja makan, kedua matanya pokus kepada layar laptop, tak lupa ditemani camilan dan minuman dingin serta melengkapi.
"Aku punya segalanya, tapi aku merasa gak bahagia. Orang tua yang ku anggap paling berharga pun selalu sibuk dengan pekerjaan mereka."
Jari jemari Luna menari-nari di atas keyboard laptop, gadis itu merangkai kata sesuai realita kehidupannya.
Luna meraih hp nya, lalu di bukannya aplikasi WhatsApp. Dia mencari-cari nama kontak seseorang. Kontak itu tanpa Poto profil, polos seperti biasa.
"Aku pikir kamu sama aku bisa jadi kita, tapi kenyataannya kata 'kita' enggak akan mungkin ada di antara aku dan kamu, Savana"Lirihnya.
Luna menutup layar laptopnya ketika mendengar suara derap langkah kaki seseorang. Di situ dia masih berpikir positif. Mungkin saja itu art nya,'kan?
"Bi Jeje?"
Suara langkah kaki itu semakin mendekat, namun Luna tidak melihat siapapun di sekelilingnya.
"Bi Je?"
Luna memanggil nama art kembali. Tidak ada sahutan seperti pertama.
Ketika mata Luna melihat ke bawah, tepat di lantai ada jejak langkah kaki seseorang. Di situ perasaan Luna mulai tidak enak, padahal tadi lantai rumahnya bersih, tidak kotor apalagi ada jejak telapak kaki orang dewasa.
"Jejak kaki?"Dengan berani Luna mengikuti sepanjang jalan
Jejak kaki itu. Sambil memanggil-manggil Bi Jeje.
Jejak kaki itu menghilang tepat di depan kolam berenang. Luna pun bertanya-tanya, siapa orang yang mau berenang di malam hari? Sekarang pertanyaannya tidak ada jawaban. Namun yang Luna herankan adalah, jejak kaki siapa ini? Dan, kenapa jejak kakinya hilang di depan kolam berenang, padahal Luna tidak melihat orang yang sedang berenang.
TOK TOK TOK!
Suara ketukan pintu keras terdengar. Luna bergegas pergi ke pintu utama.
TOK TOK TOK!
Ternyata bukan pintu utama yang di ketuk, melainkan pintu suatu ruangan. Luna kembali berlari.
Suara ketukan semakin jelas terdengar saat Luna berada di depan pintu ruangan misterius. Ruangan khusus kedua orangtuanya, yang bahkan tidak memperbolehkan dirinya masuk.
Pintu yang Luna tau selalu terkunci tiba-tiba saja terbuka dan memberi sedikit celah. Tangan Luna mulai bergetar. Jiwanya takut, namun raganya seolah berani untuk masuk.
Baru kali ini Luna melihat ruangan serba hitam. Semuanya bewarna hitam, tidak ada jendela sama sekali.
"Ruangan ini terlihat biasa saja, terus kenapa Daddy sama mommy ngelarang aku masuk ke sini?"Berdiri di tengah-tengah ruangan sambil bertanya. "Apa mungkin ada se--"
KAMU SEDANG MEMBACA
SALBIRA
Acak∆Mohon jangan Plagiat!. [Sequel •Istri kampung ku•!] Alan dan Salbia tidak pernah menyangka jika anak-anak mereka memiliki kemampuan istimewa yang membuat mereka di incar oleh para pemuja ilmu hitam untuk membangkitkan ratu mereka yang telah lama me...
