41 - cerita sebenarnya

1K 51 1
                                        

________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

________

Larissa berlari menyusuri koridor rumah sakit, bersama ibunya yang mengekor dibelakangnya. Larissa mendapat kabar pagi ini bahwa sepupu jauhnya itu kecelakaan, tentu saja kabar itu membuatnya terkejut dan khawatir, maka dari itu mereka langsung pergi kerumah sakit tanpa persiapan untuk melihat keadaan Devan, juga sahabatnya, Seren.

sampai di depan ruangan dimana Devan dirawat, Larissa lengsung masuk saja tanpa menyapa para sahabat Devan yang merupakan teman sekolahnya itu, juga Vannisa yang merupakan Tantenya itu tak sempat ia sapa. Larissa bergegas masuk ke dalam dan menemukan Seren yang tengah duduk di samping ranjang Devan, menatap sendu saat melihat bagaimana penampilan Seren saat ini. matanya bengkak, wajahnya yang biasanya jutek kini menyendu, matanya menatap kosong Devan yang tengah tertidur dengan alat-alat medis menempel di tubuhnya.

Larissa melangkahkan kakinya pelan menghampiri Seren, memanggil gadis itu lirih "Seren..."

Seren menoleh, matanya membulat dengan air mata menggenang di pelupuknya, ia berdiri dan langsung memeluk Larissa erat "Devan La..." suaranya tanpak serak.

Dan Larissa pun tidak bisa menahan air matanya, ia mengusap punggung Seren guna menenangkan "gapapa, gapapa devan pasti bakal baik-baik aja."Seren hanya engangguk, tidak memiliki kekuatan lebih untuk kembali mengungkapkan ketakutannya.

Tak lama setelah itu pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok Vanissa dengan plastik berisi makanan di tangannya. "sye, kamu makan dulu ya sayang? jangan sampai ikutan sakit juga."

kedua gadis remaja itu mengurai pelukannya, Seren menggeleng dan duduk mendekati Vanissa yang sudah berada di sofa sembari memeta makanan di atas meja, Larissa pun ikut duduk di sebelah Vanissa, memeluknya tiba-tiba dan berkata "tante sabar ya, Devan pasti baik-baik aja. dari semuanya aku tahu tante yang paling rapuh dan butuh kekuatan. maaf Larissa baru dateng sekarang."

"gapapa, tante cukup lega sekarang karena udah liat kamu sama mama kamu dateng dan nguatin tante."

"Nis kita ngobrol diluar yah, ada yang mau aku omongin sama kamu," ibu dari Larissa bersuara, vanissa lekas mengurai pelukannya dan mengangguk.

Setelah dua wanita paruh baya itu pergi, Larissa kembali menatap Seren lekat, membuat gadis yang di tatap mengernyit kebingungan "kenapa liatin gue kayak gitu sih, La?"katanya.

Larissa tersenyum "gak, gue cuma bingung harus kayak gimana supaya sahabat gue yang paling gue sayang ini gak sedih lagi, pengen tahu cara hilangin sedihnya sahabat gue ini, biar mau makan, gimana ya?" Gadis itu memasang wajah seolah bertanya-tanya, bahkan meletakan jarinya di dagu agar nampak seperti benar-benar tengah berfikir.

Mendengar ucapan sahabatnya itu, sontak membuat Seren mendengus tapi tak bisa berbohong bahwa kata-kata sahabatnya itu sukses Memunculkan lengkungan segaris di bibirnya, hanya seperti garis kecil yang tak kasat mata.

"Gimana, Sye?" Tanyanya lagi, sembari mendekati Seren "apa gue suapin aja ya, jarang banget rasanya romantis-romantisan sama sahabat sendiri."

"Geli, La!" Dengus Seren, namun seolah mendapat ide, Seren mengulum senyumnya "ada sih cara biar sahabat Lo ini mau makan."

My EX [COMPLETED✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang