Ali termenung menatap hamparan rumput yang ditanam di halaman belakang rumahnya. Sudah nyaris satu jam laki-laki berwajah tampan itu menghabiskan waktunya di sana.
Ali terus memikirkan percakapan terakhir dirinya dengan sang istri. Wanita yang ia kira lemah dan mudah ia tindas ternyata badas juga.
Ali pikir gadis itu hanya bisa menangis jika ia perlakukan semena-mena tapi lihat saja tadi bahkan saat Ali mengendus aroma tubuhnya alih-alih takut gadis itu justru menantang dirinya.
Dan sialnya lagi kenapa Ali bisa bergairah pada gadis itu?
Ali meraup wajahnya dengan kasar ia terus memikirkan syarat yang diajukan oleh istrinya. Prilly akan mengizinkan ia menyentuh tubuhnya jika Ali bersedia mengabulkan permintaannya.
"Apa syaratnya cepat katakan!" Tanya Ali saat istrinya masih terlihat ingin mempermainkan dirinya.
Tanpa Ali tahu jika saat ini Prilly mati-matian menahan diri supaya tidak melarikan diri dari hadapan suaminya.
"Mas harus bersedia mengikuti terapi lagi." Prilly tidak sengaja mendengar perbincangan keluarga besar suaminya beberapa saat setelah akad mereka dilaksanakan. Mereka terus menggunjing suaminya yang lemah dan tidak mau berjuang padahal kemungkinan Ali untuk sembuh sangatlah besar.
Prilly sama sekali tidak tahu perihal alasan kenapa suaminya menolak terapi dan lebih memilih menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda. Prilly sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu tapi hatinya tidak terima ketika suami sombongnya terus menjadi bahan gunjingan dikalangan keluarganya sendiri.
Ali harus kembali melakukan terapi bagaimana manapun caranya Prilly akan memaksa suaminya untuk itu dan Prilly yakin tidak akan butuh waktu lama untuk suaminya kembali berjalan seperti semula.
"Tidak akan!" Jawab Ali dengan ekspresi yang kembali berubah dingin tak tersentuh namun sama sekali tidak membuat Prilly gentar.
"Kenapa hm?" Tanya Prilly dengan sengaja melebarkan sedikit pahanya supaya Ali bisa melihat pangkal pahanya meskipun samar-samar.
Katakan Prilly jalang tapi ia tidak peduli toh yang ia goda suaminya sendiri lagipula tujuan Prilly baik dan Prilly berjanji akan melakukan segala cara termasuk yang terlicik sekalipun asal suaminya bersedia kembali menjalani pengobatannya.
Ali menelan ludahnya dengan kasar, ia memang lumpuh tapi hanya kakinya tidak dengan gairah dan jiwa kelakiannya. Ia masih normal dan melihat pemandangan indah dihadapannya jelas ia terangsang.
Sial! Gadis mungil ini sangat tahu cara menaklukkan dirinya.
"Jika Mas menolak maka dengan terpaksa jalan Mas untuk." Prilly menatap bagian bawah tubuhnya lalu ia rapatkan kembali kedua kakinya. "Aku tutup." Ucapnya sebelum melenggang pergi meninggalkan suaminya yang menganga lebar.
Prilly sudah memikirkan cara lain untuk menjerat suaminya namun ternyata takdir berpihak padanya tepat saat dirinya akan menghilang dibalik walk in closed untuk mengenakan pakaian tiba-tiba suara berat suaminya terdengar.
"Oke! Fine! Saya akan terapi lagi. Puas kamu!!" Marah Ali sebelum berbalik meninggalkan istrinya yang nyaris berguling-guling dilantai karena kesenangan.
Dan disinilah Ali sekarang menyesali keputusannya dengan duduk termenung di taman belakang rumahnya.
"Mas ngapain disitu? Panas Mas! Masuk sini!" Suara menyebalkan istrinya kembali memasuki indra pendengar Ali yang membuat laki-laki itu mendengus jengkel namun tangannya tetap urung menekan tombol di kursi rodanya untuk berbalik memasuki rumahnya.
"Saya masuk bukan karena kamu ya!" Ketus Ali sebelum melewati Prilly yang terkekeh geli melihat kelakuan suaminya.
Ternyata Ali tidak sesombong dan sebrengsek yang ia pikirkan. Sepertinya menjalani rumah tangga dengan laki-laki tidak buruk-buruk amat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Manisnya Luka
RomanceSeorang gadis yang harus merelakan masa depannya demi sebuah perjodohan yang tak lain hanyalah kedok sang Ibu tiri untuk mendapatkan uang demi kebahagiaan putri kandungnya. Prilly gadis mungil berparas ayu harus menerima takdirnya dengan menikahi se...
