_34_ Temen doang, nih?

146 31 102
                                        

"Dia lucu, makanya gue temenin."

Setelah 10 menit berdiri disini, Jean rasa cukup untuk membuat Shaneen tenang dan relax

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Setelah 10 menit berdiri disini, Jean rasa cukup untuk membuat Shaneen tenang dan relax.

"Udah?" tanya Jean yang tangannya tersimpan cool di saku celana.

Shaneen yang tadinya memejamkan mata sembari menikmati semilir angin yang berdiri membelakangi Jean itu berbalik badan.

3 detik kemudian ia tersenyum dan mengangguk.

"Yuk, ke dalem," ajak Jean mulai bergerak untuk melangkah ke dalam.

Merasa Shaneen gak ngikutin dia, Jean balik badan liat Shaneen lagi dengan alis yang terangkat tinggi.

"Lo pasti bisa," cetus Jean yang paham apa yang sedang di benak gadis itu.

"Meskipun keadaan gue yang buta warna ini?"

Jean sedikit melebarkan kelopak matanya karena diam-diam terkejut akan ucapan Shaneen barusan.

Bukan terkejut karena baru tau, tapi kata itu keluar langsung dari mulut Shaneen.

Entah kenapa dadanya langsung berdenyut nyeri ketika mendengar kalimat itu.

Namun buru-buru ia tersadar dan mengedipkan matanya untuk menormalkan ekspresi kembali.

"Dengerin gue," Jean menatap lekat Shaneen. "Selama lo gak putus asa dan masih punya kemauan, keterbatasan bukan satu dari seribu alasan buat ngubur mimpi seseorang."

Shaneen diam mendengarkan omongan Jean.

"Lo tau Ibrahim Hamato?"

Shaneen menggeleng lemah.

"Dia seorang petenis meja yang mempunyai kondisi terbatas, kedua tangannya di amputasi, jadi dia main pake mulut, kalo menurut kita gak mungkin banget main tenis meja pakai mulut, tapi beliau? Beliau Berhasil matahin asumsi itu berkat kegigihannya mengejar apa yang beliau mau."

Shaneen tergeming mendengarkan tiap kata yang terangkai pada mulut Jean.

"Gini," Jean masih menatap Shaneen dengan lekat lagi dalam, "kalo saat ini lo masih ragu sama diri lo sendiri, seenggaknya gue mohon sama lo buat dengerin dan percaya sama gue, kalo lo itu pasti bisa, pasti bisa, Shaneen," ujarnya yang tidak ingin meninggalkan setitik keraguan pun dari benak Shaneen.

Shaneen masih terdiam menatap Jean. Ada satu dari dua alasan yang membuat hatinya kini menghangat, yang pertama karena kata-kata semangat barusan, dan yang kedua--

Karena Jean menyebut namanya dengan benar.

Ini baru pertama kali Shaneen denger Jean nyebut namanya dengan benar, lembut, dan diiringi dengan sorot mata yang lunak.

Tidak ada nada bentakan, nada tinggi penuh amarah, juga tatapan tajam yang dulu selalu ia terima.

"Kalo lo hari ini berhasil di seleksi tahap kedua, gue traktir lo sempol sama cireng sepuasnya," ucap Jean mencoba mencairkan suasana.

CrushineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang