Berteman

105 10 0
                                        

Mereka mengerjakan dengan teliti soal yang ada di papan tulis, karena jika salah kata saja mungkin mereka akan di hukum dengan menghafal berbagai rumus, guru killer pertama sebelum pak Bambam adalah Pak Suho.

"Jangan ada yang berani mencontek, atau akan saya robek kertasnya dan hukuman lain menanti!" Ucap Suho.

Mereka nampak bekerja keras untuk nilainya, namun...

Brakkk

"Sejak kapan saya mengajarkan kamu membawa contek kan di pensil hah!" Jiwoo membulatkan mata ia mendongkak.

"Ti-dak Sseam, ini pensil yang saya pinjam dari dia!" Tunjuk Jiwoo pada Sullyoon.

"Kamu mencontek?" Tanya Suho pada Sullyoon yang gemetar, ia hanya diam saja karena takut jika ia jujur pun guru tidak akan percaya.

"JAWAB!!" Sontak Sullyoon mengangguk karena ketakutan membuat Suho menatap tajam ke arahnya.

"Sseam!!" Lily menatap sinis ke arah Jiwoo.

"Ya?"

"Saya rasa bapak harus lihat tulisannya, samakan saja, jika benar itu milik Sullyoon seharusnya tulisannya persis dong?" Jiwoo menatap Nyalang ke arah Lily, ia kini di tatap tajam oleh Suho, saat hendak di ambil Jiwoo langsung membungkuk.

"Main Sseam, benar saya yang mencontek." Ucap Jiwoo.

"Sekarang kamu keluar, bersihkan halaman belakang dan minta ke Sseam Bambam memberikan tugas saya yang ada di meja nya!" Jiwoo segera pergi sambil menunduk.

"Kalian, kerjakan kembali!" Semua pun segera melakukan pekerjaannya.

Bel istirahat berbunyi...

"Ah aku belum memperkenalkan kalian, Jinni ini Sullyoon dan Sullyoon ini Jinni temanku." Ucap Lily dan dengan senang hati Sullyoon membalas jabatan tangan Jinni.

"Oke mulai sekarang kita berteman oke?" Sullyoon mengangguk setuju.

Brakkk

"Beraninya gadis sepertimu membuat reputasi ku hancur!" Teriak Jiwoo dengan wajah marahnya.

"Ekhem, Nuguya?"

"Jangan pura-pura gak tau deh, kamu Jeon Lily yang gak punya malu beraninya mencoreng nama baikku Kang Jiwoo!" teriaknya.

Lily berdiri memegang surai Jiwoo dengan berdecak, namun segera tangannya di genggam oleh teman Jiwoo yang bernama Haewon.

"Jangan menyentuh Jiwoo dengan rasa tidak suka mu!" Ucap Haewon dengan wajah datarnya, Lily menatap Haewon dari atas sampai bawah.

"Maaf bisakah kau mengulang kembali? Jujur saja dari awal aku tidak suka karena prilakunya, tapi dilihat lagi sahabatmu ini sepertinya orang yang baik namun tertutup rasa iri." Jiwoo mengepalkan tangan lalu menarik rambut Lily hingga ia mendongkak.

"Dengar B*tch jika kau ingin berurusan denganku maka kau salah karena aku bukan gadis lemah!" Ucap Jiwoo dengan mata menatap tajam.

Jinni hendak membantu Lily, namun tangannya di pegang Kyujin yang ada di sebelahnya dengan keras sehingga ia tidak bisa maju sedangkan Sullyoon sudah ditatap tajam oleh Haewon hingga ia mundur karena di gengnya Haewon adalah salah satu anggota killer.

Lily menatap tajam Jiwoo dengan sekali pegang ia memelintir tangan Lily, saat Haewon hendak mendekat Lily berkata "Mendekatkan maka temanmu ini akan jadi bangkai!" Mendengar itu Haewon menatap Lily tanpa berkata.

"Dengar, aku tidak suka keributan, tapi jika kau yang memulai maka aku siap menjadi pihak yang menyerang!" Setelah itu Lily mendorongnya menjauh.

"Lepaskan Jinni, sebelum aku retak kan tanganmu!" Kyujin langsung menyentaknya, Jinni langsung berdiri di belakang Lily beserta Sullyoon.

"Dengar, ini bukan terakhir untukku datang memperingati mu, aku tidak akan berhenti sampai disini atas hinaan mu Jeon Lily!" Jiwoo segera pergi dengan wajah menahan kesalnya.

Jinni memutar tubuh Lily. "Gwenchana?" Tanya Jinni khawatir di susul Sullyoon yang nampak khawatir.

"Ani, aku hanya kekurangan energi, sebaiknya kita ma..."

"Annyeong, boleh aku gabung, ini aku belikan kalian masing-masing satu mangkuk ramen." Lily tersenyum.

"Ah kau tau saja kami lapar, ayo kita makan bersama!" Heesung mengangguk dan ikut duduk di sisi Jinni.

Heesung mengamati rambut Lily yang sedikit berantakan dan pergelangan tangan Jinni yang memerah. "Apakah aku melewatkan sesuatu sampai keadaan kalian sedikit berantakan?" Jinni maupun Lily saling pandang.

"Eum...bagaimana ya menjelaskannya sebenarnya tadi ada geng Jiwoo membuat keributan pada kami, untung Lily hebat menanganinya." Heesung mengerutkan keningnya karena baru mendengar mengenai geng itu.

"Jadi siapa Jiwoo?"

"Kang Jiwoo adalah ketua geng mereka, aku adalah salah satu dari mereka sebelum kemarin mereka membuang ku karena aku yang terlalu cupu dari mereka dan sekarang Lily membawaku berkenalan dengan Jinni." Ucap Sullyoon.

"Kau beruntung, karena Lily tidak pernah memandang siapapun dari segi harta juga penampilan." Sullyoon mengangguk setuju.

"Ouh ya nanti bagaimana jika kita makan di cafe baru Sunoo?" Mendengar itu mereka saling pandang.

"Loh Sunoo punya usahanya sendiri?" Tanya Lily.

"Bukan, lebih tepatnya Ajeossi Jimin ia yang membukanya sekarang Sunoo tidak masuk Karena mambantu Ajeossi membuka cafe yang nantinya akan di kelola langsung oleh Sunoo setelah lulus." Mendengar itu Lily menyeringai dan hal itu di sadari oleh Jinni.

"Lily kau..." Lily hanya mengangkat kedua halusnya naik turun.

"Kau juga ikut Yoon karena kita akan pesta besar disana." Sullyoon mengangguk saja karena ia masih belum terbiasa dengan pergaulan mereka yang seperti apa.

...

Di lapang basket seorang gadis melawan 4 orang lelaki membuat para siswa dan siswi menyorakinya, gadis berambut pendek itu nampak melirik tempat kosong untuknya mencari peluang.

Syuttt

Brukk

"Haha....segitu saja kemampuanmu?" Gadis itu menatap tajam pada pria itu, panggil saja namanya Sunghoon pria yang notabe nya ketua tim basket bersama Jay,Niki dan juga Jungwoon.

"Sebaiknya kau menyerah melawan kami, percuma hanya modal omongan." Ejek Niki dengan wajah sinis.

"Kalian pikir aku akan diam saja atas ejekkan kalian hah, kalian belum tau saja jika aku sudah mulai panas." Namun saat ia hendak berdiri kakinya tidak kuat hingga kembali terjatuh membuat keempat pria itu tertawa puas.

Gadis itu mengepalkan tangan hendak melawan namun sebuah tangan memegang pundak gadis itu. "Apakah kau perlu bantuan?" Lily tersenyum ke arahnya gadis itu hanya menampilkan wajah datar.

"Tidak baik seorang gadis melawan 4 orang pria, jika mereka menganggap dirinya seorang pria." Mendengar sindiran dari mulut Lily keempat pria itu menatap tajam.

"Huh, jika benar kalian pria maka lawan aku tapi dengan syarat hanya orang yang merasa paling jago di antara kalian, jika kalian kalah dariku maka aku minta berlutut di depannya, jika aku yang kalah berikan apapun hukuman kalian bagaimana?" Tantang Lily.

"Baiklah, kami akan menghukum mu, tapi syarat dariku adalah dia!" Tunjuk Jay pada Sullyoon.

"Aku akan jadikan dia pacar jika kau kalah?" Lily sepakat sedangkan wajah Sullyoon menjadi pucat.

"Kalau begitu biar aku yang akan melawan gadis keras kepala ini!" Mendengar suara itu semua menatapnya Jay terkejut.

"Kau yakin Jake?" Tanya Sunghoon.

"Apakah perlu aku bertanding dengan mu dulu, ketua basket?" Sunghoon tau jika Jake adalah pria yang paling hebat dalam basket walau dia tidak ikut dalam ekstrakulikuler basket.

"Ne, aku serahkan padamu Jake." Ucap Sunghoon.

"Kajja!" Ujar Jake membuat suasana semakin ramai karena teriakkan para pecinta basket apalagi pimpinan geng Enhypen yang turun tangan.

TBC.

Indeed Mate (Rookie)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang