Lomba olimpiade fisika akan dimulai dua hari lagi. Dan ini membuat Rere sedikit kerepotan. Dia harus mengerahkan waktunya untuk belajar. Hanya tinggal 2 hari setelah itu dia akan fokus pada kesehatan ayahnya.
Karena saking sibuknya, Rere sampai melupakan makannya. Dia makan tidak teratur dan seenaknya saja. Sudah beberapa kali dalan satu Minggu ini mag Rere kambuh tapi dia tidak menghiraukannya.
Setiap harinya dia juga harus bekerja dan disela-sela kesibukannya dia juga menyempatkan untuk belajar walaupun sedikit. Untuk masalah administrasi pengobatan ayahnya Rere masih mengambil dari uang tabungannya. Jadi Rere tidak terlalu khawatir untuk saat ini.
Taman kota menjadi tempat yang sudah biasa Rere tempati sebelum pergi bekerja. Dia akan belajar disana. Walaupun taman kota itu ramai, Rere akan mencari tempat yang sepi dan jarang dilewati oleh orang.
Saat Rere sedang membaca bukunya, Rere merasakan nyeri di perutnya. Rere sudah terbiasa mengabaikan rasa sakitnya. Tapi tidak untuk orang yang selalu berada didekat Rere tanpa sepengetahuannya.
"Serius amat bacanya" ucap seseorang tiba-tiba membuat Rere terperanjat kaget.
"Astaga, kak Andra" Rere memukul punggung Andra saat mengetahui orang yang mengagetinya yaitu Andra.
"Sakit re" ringis Andra.
"Biarin" setelah itu Rere kembali membaca bukunya tanpa memperdulikan Andra.
"Makan yuk re" ajak Andra. Andra tauu jika Rere belum makan.
"Gak kak, kalo lo mau makan silahkan" jawab Rere tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Ck, gue ngajak dan nyuruh lo makan bukan nyari temen makan"
"Ya gue lagi gamau makan" jujur Rere memang lapar tapi Rere menahannya.
"Gue tau lo belum makan dari pagi jadi gue maksa Lo harus makan" Andra menutup buku Rere dan memasukkan ke dalam tas Rere. Kemudian Andra menggandeng tangan Rere dan mengajaknya ke sebuah rumah makan. Rere hanya pasrah dipaksa Andra diajak makan.
༎ຶ༎ຶ༎ຶ༎ຶ༎ຶ༎ຶ༎ຶ༎ຶ༎ຶ༎ຶ༎ຶ༎ຶ
Akhir-akhir ini Rere sering ke perpustakaan ketika istirahat. Alasannya seperti biasanya Rere tidak akan bisa belajar di tempat yang ramai. Di saat Rere sedang belajar, tiba-tiba Raka mendatanginya.
"makan re" Raka menyodorkan roti dan juga susu. Rere sendiri heran kenapa Raka tiba-tiba datang membawakan roti dan juga susu. Tidak seperti biasanya.
"Ntar" entah kenapa mood Rere hari ini jelek. Mungkin saja salah satu faktornya karena Rere sedang datang bulan.
"Makan sekarang"
"Aku bilang ntar" Raka menutup buku yang masih di baca Rere secara paksa.
"Jangan bantah bisa gak?"
"Ngertiin sebentar bisa gak?"
"Aku selalu ngertiin kamu re, sekarang kamu yang dengerin aku" Rere menghela nafas.
"Oke aku bakal makan, tapi nanti setelah baca buku ini"
"Bisa ditunda dulu gak bacanya? Kan bisa dilanjutin nanti setelah makan" Raka meninggikan nada suaranya. Tak ada sahutan dari Rere sepatah katapun, dia tetap membaca bukunya. Sedetik kemudian Raka menyeret Rere dan membawanya ke tangga yang ada di dekat gudang karena tempatnya sepi dan jarang di lewati.
"Rak, plis ngertiin aku. Aku butuh belajar, dan aku tau setelah aku makan nanti kamu pasti minta aku temenin ekstra kan? Aku capek rak, tiap hari kamu nyuruh aku buat nemenin kamu, ketemu kamu, sama kamu, padahal gak ada hal yang penting-penting banget. Lama-lama hubungan kita itu makin kesini makin jadi toxic" jelas Rere panjang lebar.
"Wajar bukan kalo aku minta kamu buat nemenin aku? Kamu pacar aku, begitupun sebaliknya. Kalo kamu sayang sama aku kamu akan dengan senang hati lakuin apa yang aku minta kan?" Bantah Raka.
"Iya wajar kalo sesekali. Aku sayang rak sama kamu, aku udah coba ngertiin diri aku sendiri buat turutin kamu, tapi sekarang aku rasa udah cukup aku ngertiin kamu selama ini. Kamu egois rak, sebenarnya yang lebih membutuhkan disini itu aku bukan kamu" Rere tidak merasakan jika air matanya sudah jatuh.
"Apa kamu masih kurang cukup dengan pemberianku selama ini, aku udah memberikan apa yang kamu inginkan, kamu pengen ini aku beliin, pengen itu aku beliin. Apa itu masih kurang?" Rere menggeleng tidak percaya mendengar penuturan Raka.
"Kamu bahkan gak pernah tau apa yang aku butuhkan sekarang kan? iyakan? Aku gak butuh uang dari kamu rak, aku gak butuh materi. Aku cuman butuh support dari kamu, cuman butuh pengertian dari kamu, udah itu aja"
"Apa aku masih kurang ngertiin kamu?"
"Iya, bahkan aku pikir kamu gak pernah ngertiin aku. Harusnya kamu tau rak, aku butuh uang buat pengobatan ayah-" Raka memotong ucapan Rere.
"Aku udah pernah bilang kan, aku akan biayain semua pengobatan ayah kamu"
"Aku gak pernah minta sama kamu dan sama orang lain, aku gak akan pernah minta dan mau nerima bantuan orang lain dengan bagitu saja. Aku gak butuh uang kamu, aku cuman butuh support dari kamu rak, tolong ngertiin aku. Aku cuman pengen kerja dan belajar buat pengobatan ayah" Rere menyeka air matanya yang membasahi pipinya.
"Besok, besok aku bakal jadi perwakilan sekolah buat lomba Fisika. Apa kamu pernah tau itu? Apa kamu pernah bertanya buat apa aku terus-terusan belajar? Apa kamu pernah tanya apa kamu gak capek? Pernah? Enggak kan?" Rere memalingkan wajahnya dari Raka. Dia tidak ingin menatap Raka saat ini.
"Maaf"
"Udahlah aku gak bisa gak maafin kamu"
"Terus mau kamu sekarang gimana? Aku harus bantu kamu apa?" Tanya Raka dengan suara lirih.
"Kamu gak usah lakuin apa-apa, gak usah bantuin apa-apa. Kita instrospeksi diri kita sendiri, kita sadari kesalahan kita sendiri, kita kenali diri kita sendiri. Dan lebih baik kita sendiri-sendiri dulu untuk beberapa saat" Rere menghela nafas berat.
"Aku beri kamu waktu dan kamu beri waktu aku, aku butuh ketenangan untuk beberapa saat" lanjut Rere. Setelah mengatakan itu Rere pergi meninggalkan Raka yang mematung ditempatnya.
Sebelum Rere benar-benar pergi dia berucap "Oh iya dan satu lagi, aku gak pernah suka sama makanan jenis roti kalo kamu gak tau, dan juga aku alergi susu"
Raka merutuki dirinya sendiri. Mereka sudah berpacaran hampir 2 bulan, bisa-bisanya dia tidak tau apa yang Rere suka dan tidak suka. Bahkan dia tidak mengetahui jika Rere alergi terhadap susu.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'M REINARA
Novela Juvenil[HARAP FOLLOW SEBELUM MEMBACA!! REINARA DESTIA. Cewek cantik dan pintar dengan sifatnya yang baik, ramah, rendah hati, mudah sayang terhadap orang lain, tapi semua sifatnya itu tertutup dengan sifat cueknya yang melebihi kulkas 7 pintu. Tak lepas d...
