47

10 0 0
                                    

Lima menit yang lalu ada seorang perawat yang mengantar makan siang pada Rere.

"Makan dulu re" suruh Andra.

Rere sudah sadar dari 30 menit yang lalu. Dan Andra masih setia menunggu Rere sampai benar-benar pulih atau ada teman Rere yang datang.

"Ga nafsu kak"

"Lo tau penyebab lo masuk rumah sakit gini?" Tanya Andra dengan nada kesal. Rere menggeleng lugu.

Andra tau segalanya tentang Rere, dia tau jika Rere selalu melewatkan makannya di setiap jam. Maka dari itu Andra selalu datang mengajak Rere makan ketika Rere berada di luar.

Jika di tanya dari mana Andra mengetahui keberadaan Rere maka jawabannya adalah Andra pernah memasang pelacak di handphone Rere secara diam-diam.

"Lo masuk rumah sakit itu karena Lo selalu lewatin makan, lo ga pernah makan tepat waktu bahkan bisa dibilang lo ga pernah makan" jelas Andra panjang lebar.

"Lo tau, akhir-akhir ini gue lihat lo itu semakin kurus. Kenapa? Karena lo ga ngurusin diri lo sendiri" lanjut Andra.

"Kenapa lo peduli sama gue kak, Lo bukan siapa-siapa gue" ucap Rere dengan santainya.

"Gue peduli sama lo karena gua udah anggep lo sebagai adek gua sendiri" ucap Andra pada Rere. 'bahkan gue ada rasa lebih dari itu re' lanjut Andra dalam hati.

"Ada yang lebih penting dari diri gue sendiri" ucap Rere.

"Gue tau lo lebih mementingkan ayah Lo dari pada diri lo sendiri. Tapi coba Lo pikir lagi, apa ayah Lo bakal seneng lihat lo kayak gitu? Ayah lo ga akan seneng lihat lo ga ngurusin diri lo malah milih ngurusin ayah Lo"

"Kalo ayah Lo sadar, dia juga bakal sama marahnya kayak gue" lanjut Andra panjang lebar.

"Lo gak bakal ngerti apa yang gue rasain kak" bantah Rere.

"Gue emang ga ngerti karena gue bukan lo. Tapi gue tau apa yang harus Lo lakuin. Ego Lo terlalu besar sampai memint tolong ke orang lain saja Lo gamau. Lo punya temen, Lo juga punya orang lain kan lo kenapa lo ga minta tolong ke mereka?"

"Kalau Lo ga mau minta tolong ke mereka Lo bisa minta tolong ke gue, atau nggak ke Lidya" Rere menyerngit heran mengapa Andra menyebut nama Lidya.

"Lidya? Lo kenal dia kak?"

"Dia itu ad-" Andra tidak melanjutkan ucapannya. "G-gue tau dia, karena dia temen lo kan" ralat Andra.

"Sekarang makan, gaada penolakan" Andra menyuapkan bubur yang diantarkan oleh perawat tadi. Rere tidak menolak di suapi oleh Andra. Ada rasa takut yang dirasakan Rere setelah mendengar Andra marah.

Tok tok

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya.

"Masuk"

"Rere Lo sakit apa re" teriakan Lidya saat memasuki ruangan Rere membuat Rere jengah. Andra menghela nafas melihat kelakuan adiknya itu.

"Berisik" ucap Andra.

"Terserah gue dong, mulut-mulut gue ngapain Lo yang sewot" sewot Lidya.

"Itu bukannya lo yang sewot"sahut Andra.

"Kalian deket ya?" Tanya Rere yang kebingungan dengan Andra dan Lidya yang seperti sudah kenal dekat.

"Iya" "nggak" jawab keduanya bersamaan.

"Dih sok kenal Lo, emang Lo siapa" ucap Lidya yang mengelak dari pertanyaan Rere.

"Siapa yang mau kenalan sama Lo" jawab Andra tak nyambung.

"Nggak jelas Lo"

"Ketemu dimana?" Tanya Rere yang menghiraukan keduanya.

"Gue pungut di kolong jembatan" jawab Andra seadanya.

"Udah, gue mau pulang aja re. Temen Lo udah dateng nih jadi udah ada yang nemenin" pamit Andra.

"Nih, suapin temen Lo" Andra menyerahkan mangkuk berisikan bubur ke Lidya.

"Makasih kak"

"Santai, kalo ada apa-apa hubungi gue. Gue balik dulu" Andra memberikan usapan lembut di kepala Rere dan mendapat tatapan tajam dari Lidya.

"Gimana keadaan Lo re?" Tanya Lidya saat Andra sudah menghilang dari penglihatannya.

"Ya gini" jawab Rere seadanya.

"Terserah lo re, udah gue khawatirin, ditanya keadaan malah jawaban lo gitu" jawab Lidya yang kesal mendengar jawaban Rere.

"Kurang istirahat, makan ga teratur, ga mikirin diri sendiri, mag gue sekarang nambah parah" jelas Rere dengan santainya. Terdengar helaan nafas dari Lidya setelah penjelasan Rere.

"Raka?" Rere paham maksud Lidya yang menanyakan nama Raka. Rere mengangkat bahunya ke atas kemudian menurunkannya kembali.

"Lo marahan sama dia? Lo ada masalah sama dia?" Rere diam tak menjawab pertanyaan Lidya.

"Ini yang gue benci dari lo re, gue disini siapa sih hah? Gue temen lo atau bukan?" Rere sebenarnya juga ada rasa tak enak hati kepada Lidya apalagi saat melihatnya marah seperti ini. "Lo bisa cerita ke gue re kalo Lo ada masalah, Lo punya gue, punya Maura sebagai temen lo, Lo gak sendirian, ada orang yang sayang sama lo, Lo gausah khawatir" lanjut Lidya.

"Sorry gua belum bisa terbuka sama lo"

Di waktu yang sama dan di tempat yang sama tepatnya di luar ruangan Rere dirawat, ada seorang wanita dan juga seorang anak laki-laki. Dia adalah Andra dan juga bundanya yang baru saja pulang dari luar kota setelah beberapa bulan lamanya mereka tidak bertemu.

"Bunda kenapa gak masuk?" Tanya Andra.

"Bunda malu, bunda sudah ninggalin anak perempuan cantik seperti Rere. Bunda juga takut Rere membenci bunda, bunda takut nak" jawab bundanya apa adanya.

"Rere itu anak baik Bun, dia gak mungkin benci sama ibunya sendiri"

"Bunda percaya, Rere itu anak yang baik. Mas Damar orang yang baik dia juga pasti sudah mendidik Rere dengan baik" ucap bundanya dengan pandangan kosong.

"Kamu udah lakuin apa yang bunda suruh kan?" Andra mengangguk ketika di tanya oleh bundanya.

"Udah Bun, Abang udah membiayai semua pengobatan om Damar dan juga memantau Rere selama ini"

"Makasih ya bang, maaf bunda selalu ngerepotin Abang" Andra memegang tangan halus bundanya dan menggenggamnya dengan erat.

"Abang seneng kok kalo di repotin bunda, apalagi Lidya dia tuh cerewet banget kayak mama tapi Abang sayang sama dia, sayang bunda juga"

I'M REINARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang