Hari ini Rere akan kembali ke kehidupan awalnya walaupun berbeda seperti sebelumnya. Rere kembali masuk ke sekolahnya hari ini dan dia juga akan kembali bekerja.
Tak seperti sebelumnya, kehidupan Rere terasa sepi tanpa adanya sang ayah. Tak lepas dari usaha yang dilakukannya agar bisa mencari uang untuk pengobatan ayahnya, Rere juga selalu berdoa kepada Tuhan yang maha esa.
Rere selalu percaya dan akan terus percaya bahwa Tuhan tidak akan memberi ujian tanpa melihat hambanya mampu melewatinya atau tidak. Rere tahu jika Rere diberikan ujian sebesar ini itu karena Rere mampu melewatinya. Dan suatu saat Tuhan pasti akan memberikan kebahagiaan yang melimpah kepadanya.
"REREEEEEEEE" Teriakan dari seseorang untuk menyambut pagi Rere.
"Apaa" sahut Rere yang jengah mendengar teriakan dari Lidya walaupun sedikit kangen dengan orang yang selalu mengikutinya.
Tanpa menjawab sahutan dari Rere, Lidya langsung menerjang Rere dan memeluknya dengan erat.
"Aaaa gue kangen sama lo re"
"Apaan, gue gak" Rere berusaha lepas dari rangkulan erat Lidya.
"Jahat banget lo re"
"Dari dulu" memang terdengar cetus tapi memang cetus, hanya saja Rere berniat bercanda. Beruntung Lidya bukan orang yang mudah sakit hati.
"Emang dasar lo ya gabisa diajak kangen-kangenan" Lidya cemberut dan juga melepaskan pelukannya pada Rere.
"Baru berapa hari kita gak ketemu"
"Emm, kemarin kita ketemu iyakan?" Ucap Lidya dengan polosnya dan juga berlagak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ya itu lo tau"
"Tadi lo berangkat sekolah nggak bareng kak Raka?" Tanya Lidya yang sedari tadi belum melihat keberadaan Raka.
"Yang lo lihat?" Tanya balik Rere.
"Sendiri hehe" untung saja Lidya bukan orang yang gampang sakit hati. Jika tidak Lidya tidak akan kuat berteman dengan Rere yang bermulut pedas.
"Lo sendiri?" Tanya Rere gantian.
"Enggak, tadi sama kak David tapi kak David sekarang lagi piket kelas" Rere mengangguk paham.
'berarti Raka juga piket kelas hari ini' pikirnya.
"Ayo kita ke kelas"
◉◉◉◉◉◉
Bel istirahat sudah berbunyi. Kini semua murid di sekolah Gelora Bintang berbondong-bondong menuju tempat terfavorit bagi mereka saat di sekolah yaitu kantin. Sama halnya dengan Rere, Maura, dan Lidya juga akan menuju kantin.
"Ra temenin gue yuk" ajak Lidya yang terlihat seperti menahan sesuatu.
"Kemana?" Tanya Maura.
"Ayo bentar aja" Lidya sudah meraih tangan Maura dan hampir saja menyeret Maura agar mengikutinya.
"Oh iya pesenin makanan ya Rere cantik... Makasih" pesan Lidya.
"Lo mau kemana?" Tanya Rere pada Lidya yang baru saja membalikkan badannya.
"Panggilan alam" jawab Lidya cepat dan langsung berlari menuju toilet tak lupa dia juga menarik tangan Maura agar tidak tertinggal olehnya.
Rere juga langsung pergi menuju kantin sebelum menjadi sangat ramai. Rere sudah terbiasa dan tidak peduli jika dia harus berjalan sendirian. Sebelum dia mengenal Lidya, dia juga selalu sendiri. Ingin ke toilet, kantin, perpustakaan, koperasi sekolah atau kemanapun yang masih berada di sekolah dia lakukan sendirian. Tidak hanya di sekolah di rumah pun dia juga seperti itu.
"Pagi nak Rere..." Sapa ibu kantin yaitu ibu Sri.
"Pagi Bu Sri"
"Udah sehat? Kemarin ibu dengar kamu masuk rumah sakit itu emangnya nak Rere sakit apa?" Tanya Bu Sri.
"Rere kecelakaan kemarin Bu" jawab Rere dengan santai dan juga senyuman tipisnya.
"Innalilahi ya Allah nak... Kamu gak papa kan? Sakitnya gak parah kan?" Bu Sri semakin panik mendengar jika Rere masuk rumah sakit karena kecelakaan. Ketika mendengar dari salah seorang murid bahwa Rere sakit saja Bu Sri sudah panik apalagi sekarang.
"Harusnya Rere masih terbaring di rumah sakit Bu, tapi ayah yang gantiin Rere sekarang" jelas Rere yang merasa bersalah terhadap ayahnya sendiri.
"Jadi sekarang yang sakit ayah kamu?"
"Iyaa" Rere mengangguk dan tersenyum kecut.
"Ya Allah... Semoga cepet sembuh ya ayah kamu"
"Iya Bu amiinn"
"Oh iya kamu mau pesan seperti biasa?"
"Iya Bu, sama Lidya dan Maura juga minta di pesenin seperti biasa"
"Kamu duduk aja ya, nanti ibu panggil kalau sudah siap" suruh Bu Sri.
"Emm bu, Rere mau ngomong boleh?" Tanya Rere. Padahal sedari tadi juga Rere sudah berbicara.
"Lah dari tadi kamu sudah ngomong kan" gurau Bu Sri.
"Ini Rere serius Bu"
"Iya sok... mau ngomong apa"
"Rere boleh nggak nitip dagangan di kantin? Rere sekarang lagi butuh biaya untuk pengobatan ayah dan juga makan, boleh ya Bu?" Jelas Rere.
"Memangnya mau jualan apa?"
"Rere mau jualan donat-donat atau kue-kue gitu Bu, boleh ya Bu Rere nitip disini?" Pinta Rere pada Bu Sri.
"Boleh kok, ibu bakal bantuin kamu jualin dagangan kamu"
"Makasih ya Bu"
"Iya sama-sama"
KAMU SEDANG MEMBACA
I'M REINARA
Teen Fiction[HARAP FOLLOW SEBELUM MEMBACA!! REINARA DESTIA. Cewek cantik dan pintar dengan sifatnya yang baik, ramah, rendah hati, mudah sayang terhadap orang lain, tapi semua sifatnya itu tertutup dengan sifat cueknya yang melebihi kulkas 7 pintu. Tak lepas d...
