Sudah 2 minggu perang dingin telah terjadi. Sampai sekarang diantara keduanya masih tidak ada yang mengibarkan bendera putih. Siapa lagi jika bukan Rere dan Raka. Sifat keras kepala dan ego mereka sama besarnya. Meskipun dalam lubuk hatinya ada setitik rindu tapi mereka terlalu memikirkan egonya.
Entah karena sifat perhatian atau sudah muak dengan Raka dan Rere, David dan Lidya berencana menyatukan mereka agar bisa menyelesaikan permasalahannya secepatnya.
Sengaja lidya mengajak Rere pergi ke sebuah taman kota karena hari libur. Tanpa sepengetahuan Raka dan Rere, David juga mengajak Raka ke tempat yang sama dengan Lidya karena memang sudah di rencanakannya.
"Capek aku lihat mereka diam-diaman kayak gitu" keluh Lidya pada David melihat Raka dan Rere masih saling diam padahal dia sudah mempertemukan mereka agar bisa menyelesaikan masalah mereka.
"Sama" jawab David. Lidya dan David kini berada jauh dari tempat Rere dan Raka duduk, tapi Lidya dan David masih bisa melihat tanpa mendengar apa yang dibicarakan. Yang terpenting Lidya dan David masih bisa memantau apa yang di lakukan Rere dan Raka.
"Re, aku pikir hubungan kita harusnya sampai sini aja" ucap Raka tiba-tiba. Rere menyerngit heran, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Raka ingin memutuskan hubungannya.
"Ken-" ketika Rere akan menanyakan alasan Raka memutuskannya, Raka sudah mendahului Rere.
"Aku rasa kita memang tidak ada kecocokan, hanya ada kebohongan dalam hubungan ini. Dan aku tahu, aku bukan cowok yang tepat buat kamu, aku bukan cowok yang bisa membahagiakanmu. Aku tau selama ini kamu tertekan denganku, kamu tidak bisa bebas melakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku sadar aku bukan cowok yang baik dan tepat buat kamu" jelas Raka panjang lebar dan Rere hanya diam mendengar penjelasan Raka.
Tanpa disadari air mata menetes dari mata indah Rere. "Tap-" lagi-lagi setiap Rere ingin berbicara di potong oleh Raka terlebih dahulu.
"Aku pamit, kamu bisa bebas sekarang" Raka beranjak dari duduknya dan diikuti Rere.
"Nggak rak, pasti ada alasan lain" Rere terisak.
"Memang alasan apa yang cocok selain itu" balas Raka dengan ketus.
"Kenapa tiba-tiba kamu putusin hubungan ini?" Air mata Rere tak bisa berhenti. Bukan ini yang dia inginkan, Rere pikir hari ini akan memperbaiki hubungannya dengan Raka. Dari awal Rere sudah tau maksud dari Lidya mengajaknya ke taman tiba-tiba.
"Gausah munafik, lo pasti seneng gue putusin hubungan ini. Gue tau selama ini lo terpaksa jalanin hubungan ini" Rere menyatukan alisnya, kerutan di dahinya semakin kentara. Rere tidak menyangka Raka berubah dengan sekejap mata. Panggilan 'lo-gue' yang kembali di gunakan oleh Raka menandakan mereka tidak sedekat sebelumnya melainkan seperti baru mengenal.
"Hahaha, lucu lo rak, gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba maksa gue jadi pacar lo, sekarang gue udah benar-benar sayang sama lo tapi lo ninggalin gue dengan tiba-tiba juga. Benar-benar jahat lo rak" ucap Rere sembari menyeringai, dia tertawa menertawakan hidupnya yang dipermainkan. Raka berusaha tak memperdulikan Rere, dia berjalan menjauh dari Rere. Tapi suara Rere membuat dirinya menghentikan jalannya.
"Oke kalo itu mau lo rak. Emang bener selama ini gue pacaran sama lo itu gue ga sepenuhnya seneng, gue ga bebas, lo selalu larang gue ini itu, padahal gue lagi butuh. Sebenarnya lo itu gak pernah ngertiin gue dari dulu. Lo gak tau semua tentang gue, bahkan sampai detik ini pun lo masih gak ngertiin gue"
Tanpa memperdulikan apa yang dikatakan Rere, Raka melanjutkan langkahnya meninggalkan Rere sendirian. Seperginya Raka dari taman, Rere terduduk menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan menangis.
"Bahkan disaat aku ingin cerita bahwa aku sedang bahagia pun, aku tidak diijinkan. Besok aku ulang tahun rak, orang yang ku tunggu kini sudah kembali, dan ayahku sudah sadar rak" gumam Rere.
Baru saja Rere mendapat pesan dari salah satu perawat yang memberitahukan bahwa ayahnya sudah sadar.
"Bukan ini kak yang aku maksud" gumam Lidya yang didengar oleh David.
"Aku tau"
15 menit yang lalu, Rere sudah berada di rumah sakit tempat ayahnya di rawat.
"Bagaimana kabarmu nak?" Tanya Damar yang masih lemah.
"Aku baik yah" jawab Rere seadanya.
"Maafin ayah ya, kamu harus berjuang sendirian, ayah gak pantes di sebut ayah karena membiarkanmu sendirian" ujar Damar sedih.
"Tidak yah, ayah sudah merawatku dengan sangat baik, ayah jangan merasa seperti itu, ayah adalah orang yang paling baik buat Rere" Damar tersenyum mendengar penuturan putri semata wayangnya.
"Apa ada yang membuatmu sedih?" Tanya Damar.
"Hmm, kenapa ayah bertanya seperti itu?"
"Kamu ini putriku, apa yang kamu rasakan juga ayah rasakan nak"
"Ayah ga usah mikir yang aneh-aneh, ayah hanya perlu istirahat biar cepet sembuh" ucap Rere.
"Apapun yang terjadi jangan pernah benci sama ibu kandung Rere ya nak" celetuk Damar tiba-tiba.
"Ayah tau, ibumu memiliki alasan kenapa dia meninggalkanmu. Tetapi ayah juga tidak tahu alasan apa yang membuatnya meninggalkan kita. Terlepas dari semua itu, sejujurnya ayah dan ibumu ini tidak mendapat restu dari kakek dan nenek dari ibumu nak" jelas Damar membuat Rere terdiam.
"Kemungkinan besar ibumu diancam oleh mereka jika tidak menuruti keinginan mereka, tapi bagaimanapun ayah tidak pernah membenci mereka. Jadi Rere jangan sampai benci sama siapapun ya termasuk ibu Rere sendiri" Rere mengangguk.
"Iya yah, Rere ga akan benci sama ibu Rere" jawab Rere.
"Besok kamu ulang tahun kan, kamu minta hadiah apa dari ayah?" Rere mengangguk kemudian menggeleng.
"Rere ga minta apapun dari ayah, cukup ayah sehat kembali saja sudah cukup. Ayah sehat nanti bisa temenin Rere dalam waktu yang lama, nikmatin hidup kita, bahagia bersama. Rere cuman pengen ayah sehat dan bahagia di dunia ini dalam jangka waktu yang lama aja sama Rere" Damar tersenyum kemudian memeluk putrinya.
'maaf, ayah tidak bisa mengabulkan keinginanmu yang sekarang'
~END~

KAMU SEDANG MEMBACA
I'M REINARA
Teen Fiction[HARAP FOLLOW SEBELUM MEMBACA!! REINARA DESTIA. Cewek cantik dan pintar dengan sifatnya yang baik, ramah, rendah hati, mudah sayang terhadap orang lain, tapi semua sifatnya itu tertutup dengan sifat cueknya yang melebihi kulkas 7 pintu. Tak lepas d...