46

9 0 0
                                        

Sudah 3 hari lamanya Rere dan Raka benar-benar tidak saling sapa. Ketika bertemu Raka akan bersikap seperti tidak pernah mengenal Rere. Begitupun dengan Rere.

Bahkan sahabat dari keduanya-pun dibuat bingung karena tidak mengerti apa permasalahan mereka. Dan 3 hari juga mereka tidak berkumpul bersama. Jika mereka berkumpul maka disitu juga tidak akan ada Rere dan Raka.

Lomba olimpiade juga sudah di laksanakan kemarin dan semuanya berjalan lancar sesuai prediksi Rere. Lagi-lagi Rere merebut kembali juara 1 seperti lomba sebelumnya.

Untuk keadaan ayahnya sampai sekarang Damar belum juga sadar. Tetapi kata perawat yang memeriksa Damar semalam, Damar ada perkembangan.

Hari ini hari libur tapi Rere tetap bekerja part time sebagai pelayan di toko sembako. Dia bekerja disana hanya ketika hari libur dan Rere masih bekerja di rumah makan sebelumnya.

Tadi sebelum Rere berangkat bekerja, Rere berkunjung ke rumah sakit terlebih dahulu. Perawat memberitahukan ada perkembangan pada Damar dan juga katanya semalam ada seorang wanita seumuran Damar yang datang berkunjung tapi perawat itu tidak mengetahui namanya.

Sudah jam 10 pagi tapi perut Rere belum diisi apapun selain air dari semalam. Setiap hari dia akan makan hanya satu kali. Rere lebih mementingkan uangnya untuk membayar biaya rumah sakit ayahnya.

Sshh

Perut bagian atas Rere terasa nyeri. Pagi ini sudah terasa 2 kali tapi Rere tetap tidak menghiraukannya. Akhir-akhir ini pola makan Rere benar-benar tidak teratur. Entah apa yang ada di otak Rere membuat dia tidak ingin makan.

"Kamu kenapa nak?" Tanya salah satu pelanggan di toko itu.

"Saya baik kok buk" jawab Rere dengan sopan.

"Bener?"

"Iya buk, makasih udah khawatir"

"Sama-sama, kalau begitu ibu permisi ya"

"Iya Bu"

Rere tersenyum kecut. Baru kali ini ada seorang perempuan seumuran dengan ibunya menanyakan tentang keadaannya. Sedari dulu tidak pernah ada yang menanyakan tentang keadaan Rere kecuali ayahnya.

Jujur saja, Rere masih penasaran siapa ibu kandungnya. Namun egonya terlalu besar, padahal hanya ingin tau saja.

🍂🍂🍂

"BUNDAAAA" teriak seorang remaja perempuan yang melihat ibunya keluar dari mobil. Tanpa menjawab teriakan putrinya, perempuan yang hampir berkepala empat ini tersenyum manis.

Tanpa menunggu lama lagi, remaja itu langsung menerjang tubuh ibunya. Sudah berbulan-bulan mereka tidak bertemu karena terpisah oleh jarak.

"Apa kabar sayang?" Wanita itu membelai wajah putrinya yang semakin cantik saja.

"Lidya baik kok Bun, Bunda tadi sama abang kan terus abang mana?"

"Andra tadi mau beli apa gitu, gatau bunda lupa" beritahu Desi, ibu dari perempuan cantik Lidya.

"Yaudah bunda istirahat dulu ya, bunda pasti capek"

Selama ini Desi tidak bersama Lidya karena Desi berada di luar kota yang harus mengurusi perusahaan milik ayah Lidya terlebih dahulu. Sebenarnya Desi ingin pulang menemui anak-anaknya tetapi jarak juga waktu yang tidak mengijinkan mereka bertemu.

Setelah hampir setahun lamanya Desi berpisah dengan anaknya. Dan sudah sekitar dua tahun lamanya ayah Lidya yang tak lain juga Suami dari Desi meninggalkannya selama-lamanya.

Sebelum Lidya sendiri pindah, Lidya mengajak Desi untuk ikut tapi Desi menolak karena harus mengurus perusahaan suaminya terlebih dahulu sebelum benar-benar pindah.

Dan sekarang sudah saatnya Desi kembali bersama anak-anaknya lagi.

Bukan tanpa alasan Lidya dan juga Andra tidak tinggal bersama Desi, mereka memiliki alasan dan tujuan yang sama.

Suara dering telepon mengalihkan atensi ibu dan anak yang sedang melepas rindunya.

"Halo bang" sering tersebut berasal dari HP Lidya dan yang meneleponnya adalah kakaknya yang tak lain adalah Andra.

"Lo dimana?" Tanya Andra yang nafasnya terdengar tersenggal tapi tetap santai.

"Di rumah, kenapa?" Lidya juga heran kenapa Andra tiba-tiba menanyakan keberadaannya.

"Rere sakit, sekarang gue di rumah sakit tempat om Damar dirawat juga" beri tahu Andra dengan santai.

"Sakit apa bang?" Mendengar Rere sakit, Lidya menjadi panik.

"Gatau baru di cek dokter, Lo bisa kesini sekarang" suruh Andra.

"Yaudah, gue kesana sekarang"

Setelah melihat Lidya menyelesaikan panggilannya, Desi menanyakan ada apa karena melihat Lidya yang setengah panik.

"Ada apa nak?" Tanya Desi.

"Rere sakit Bun, sekarang ada di rumah sakit ditungguin sama bang Andra" jawab Lidya.

"Bunda ikut ya"

"Bunda istirahat aja ya dirumah" larang Lidya karena Desi baru saja sampai dan belum istirahat.

"Engga, bunda mau lihat anak bunda" tak terasa air mata Desi sudah jatuh.

"Yaudah, kita sekarang kesana"

I'M REINARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang