25. Kekecewaan Berulang

93 11 1
                                        

"Aku tidak seharusnya dilahirkan, agar Ibun dan Abi tidak lagi punya alasan untuk kecewa. Selama ini mereka lebih dari tersakiti memiliki anak tidak berguna sepertiku!"

-Aurora, 2018

ʕ'•ᴥ•'ʔ

"RON, Sandro, Gio, Jo, tolongin gua. Auro di belakang toilet cewek lagi berantem!" pekik Dion, salah seorang yang ikut di-skors dari ulah tawuran kemarin.

"Sama siapa?"

"Delly! Cepetan gua takut liatnya!" desak Dion masih terbawa panik lalu segala peralatan meratakan rumput sekolah dihempas oleh seluruh yang membersihkan di parkiran berlari terpontang-panting hendak melerai mereka.

"Ro! Lu ngapain?!" teriak Baron berusaha segera menahan Auro yang mengerat pada kera baju Delly. Wajah Auro memerah tak menunjukkan ada raut kedamaian di sana.

"Lu kira gua takut dikeluarin dari sini, hah? ENGGAK! Lu ingat baik-baik kata-kata gua, sampai lu masih berani nyentuh Aura, gua nggak akan segan ngabisin lu lebih parah dari ini!" gertak Auro dengan teriakan memitan di ubun-ubun, Auro tak pernah semurka ini kepada seorang perempuan mengingat dia selalu berusaha menghargai jasa seorang perempuan dengan sama rata. Sedang Delly sendiri, dia lunglai. Jika bukan eratnya pegangan Auro di kera bajunya mungkin ia telah tersungkur jatuh ke lantai.

Auro benar-benar tak sekadar mengancamnya sekarang, namun telah berhasil menumpahkan darah segar di hidung, ujung bibir, serta beberapa luka lebam di pelipis, rahang, dan tak kuat membuat Delly berdiri tegap lagi.

"Bawa nih!" hempas Auro meminta Baron membawanya pergi dengan melepas Delly tanpa hati yang berbelas lagi.

Berita yang baru saja terjadi seketika santer, terlebih tatkala nada sirine ambulance menggema membawa Delly segera meninggalkan area sekolah menuju unit yang lebih darurat lagi.

"Auraaa!"

Lilo masuk mendudukkan bokongnya dengan napas berembus terengah-engah pada kursi Auro lalu muncul Arkan, Omar, dan Bara di belakang langkah cepat Lilo tadi. Aura memicing penasaran, berita menggemparkan apa yang dibawa mereka ke mejanya.

"Kamu kenapa, Lo?"

"Heuh... heuh... heuh..."

Detak jantung Lilo berdegup tak karuan seperti tengah dikejar sesuatu, "Gawat, Ra! Abi sama Ibun ada di bawah... heuh ... dan gua yakin ... pasti ada yang nggak beres sama mereka!"

"Ibun sama Abi ada di bawah?"

"Kalau soal tawuran kemarin, harusnya semua orangtua yang ikut tawuran diundang juga. Tapi, ini cuman ada Abi sama Ibun doang," sambar Bara bersuara ngos-ngosan juga.

"Ada apa ya? Temenin aku ke BK yuk,"

"Aduh, Ra, bentaran aja. Kita bakal tetep nggak bisa lewat, jalanan ke BK tutup. Soalnya UKS di samping BK lagi ramai anak PMR bersihin darahnya Delly,"

"Delly?" Aura mengerut kening, jangan sampai mereka memiliki hubungan sebab akibat yang membawa Ibun dan Abinya tiba-tiba berada di area sekolah sekarang.

"Astagfirullah!" Tersadar Aura langsung membekap seluruh permukaan wajahnya sembari memejam dalam-dalam. "Auro, Auro!" ringkiknya masih menutup wajahnya tak habis pikir lagi.

"Bego banget sih tuh anak!" murka Aura langsung meninggalkan kursinya menuju ruang legendaris bagi Auro bersama orangtuanya sekarang. Langkahnya melaju cepat menerobos kerumunan yang ramai sekitaran UKS, sampai akhirnya berhenti di hadapan pintu ruang BK.

AURORA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang