SERANGKAIAN acara megah bertema white and gold mengisi mata Auro sepanjang ia bisa memandang. Gedung yang dihias bak ruang utama istana membuatnya takjub tak menyangka ia bisa pulang ke Indonesia kembali. Tamu-tamu berdatangan, beberapa ia kenali dan sebagian besarnya tentu saja tidak, wajah yang beberapa tahun silam masih belia sekarang telah menampakkan rupa dewasa dari mereka yang dulu. Pertanda Auro telah sangat lama hidup di negeri Finlandia.
Akad telah berlangsung ba'da dhuhur tadi, momen yang Auro sangat tunggu meski cukup mengharukan. Kak Zain dengan sangat tegas mengucapkan ikrar ijabnya mengambil alih tanggung jawab Abi menikahkan putrinya.
Air mata Auro terurai panas dalam kelopaknya, rindu tadi kembali menggebu begitu dalam mengharapkan seseorang yang duduk di sana bukanlah Kak Zain. Luka yang hingga detik sekarang membuat jantung Auro seakan tertusuk-tusuk mendatangi negeri asalnya.
Beruntung semuanya berjalan lancar, ijab kabul mengalir sebagaimana harapan bersama dan sekarang Auro begitu bahagia mengikuti resepsi yang terselenggara. Ia tak akan tahu bagaimana rasanya saudara serahim sendiri resmi meninggalkannya setelah dipersunting lelaki pilihan dia.
Ya. Aura menikah.
Setelah menyantap sate taichan ia baru mendapat panggilan dari Kak Wirdah untuk naik bersama menemui saudarinya yang full senyum sedari tadi. Meski ia sedang berbahagia, ia tak boleh lupa dengan para penyokong terselenggaranya acaranya ini, walaupun datangnya harus sekali mepet di tanggal-tanggal acara.
"Masya Allah ... adiknya Kak Wir, cantik bangeeet!" Wirdah begitu gemas memeluk Aura yang memesonakan satu gedung. Auro sendiri hanya diam menatap lelaki di samping Aura seakan-akan mengeluarkan hawa dingin yang mengancam sampai ia mendengar kabar kembarnya yang selama bersekolah ia jaga sampai dilukai oleh tangan lelaki di depannya ini.
"1.000.000/10. Aku sama Auro nggak berhenti merinding loh, Ra. Bahkan kamu pasti nggak percaya, kembarmu ini nangis pas ijab kabul tadi, Ra!" Laporan Wirdah lancar mengadukan apa yang dilihatnya selama di masjid tadi.
Walau kedua adiknya tak pernah sama dalam selera, mereka tentu tersambung dalam insting, pikir Wirdah.
"Dia kayanya nangisnya bukan karena aku sih, Kak, tapi pasti karena ketemu Arkan dan temen-temennya di masjid tadi. Iya, kan?" guyon Aura sama sekali tak niat ditanggapi serius telinga Auro.
"Terserah, Ra. Gua muak banget denger lu sekarang. Lu berubah tahu nggak!"
"Hihihi, udah ngobrol belom sama ARKAN dan kawan-kawannya?!" Nama Arkan ditekan begitu jelas Aura di depan muka Auro.
Jangan harap ada mimik wajah tersipu dari Auro mendengarnya, ia biarkan saja dua kakak dan iparnya tertawa geli merundungi si bungsu.
"Ditanya malah bengong. Udah ketemu belom, ngobrol sesama temen?! Silaturahmi loh, nggak boleh putus kalau sebelumnya pernah temenan akrab, Ro,"
"Udah, Ra. Udah! Tadi aku UDAH ngobrol sama Bara, Omar, Arkan sama Lilo!" balas Auro tidak kalah penekanannya.
"Oh, Masya Allah. Gimana?"
"Gimana apanya?" Auro tidak paham sendiri dengan bahasa tidak sesuai kaidah kakaknya.
"Arkan,"
"Tahu, ah! Kak Wirdah, Kakak masih mau ladenin perempuan ini? Aku udah males. Kalau bisa cepet-cepet deh kita pulang, packing, tugasku udah selesai liat dia nikah, ya," Auro berdelik membalas gentar Aura yang kontan ditelak guyonan adik sendiri.
"Apaan sih, Ro! Aku bercanda. Pokoknya bantuin aku pindahan dulu baru kalian berdua boleh pulang ke habitat kalian. Ibun kasian loh kalau bantuin aku sendirian, Ro, Kak,"
KAMU SEDANG MEMBACA
AURORA (END)
Novela Juvenil"Nakal, bego, keras kepala, pembangkang, durhaka ... Sebenernya kelebihan gua apa sih, sampai harus nekad hidup di dunia ini?!" -Aurora *** Aku menjadikan diriku seperti bayaran atas...
