Yok, mari merapat!
Happy reading para penggemar Dayana Petakilan Juita❤️🤣
📷 📷 📷
Mas Hady sudah berpakaian lengkap dan sekarang tengah berbaring di dekat sofa setelah meja disingkirkan. Aku memerhatinya prihatin, kasihan karena Mas Hady tidur di lantai cuma dialasi karpet dan selimut. Tapi aku juga tidak mau kalau tidur di kamar terpisah, aku masih takut.
“Mas serius enggak apa-apa tidur di bawah?” tanyaku.
Mas Hady menoleh. “Kalau di sofa sama kamu enggak muat.”
Aku yang masih duduk di sofa refleks menaikkan selimutku hingga ke leher. “Siapa yang ngajak Mas tidur bareng?”
Mas Hady terkekeh geli. “Enggak apa-apa. Nyaman kok.”
“Mau aku ambilin selimut lagi?” tawarku. Kalau besok punggungnya sakit, itu salahku. Daripada dia meminta pertanggungjawabanku, mending meminimalisir risikonya dari sekarang.
“Enggak usah.” Mas Hady duduk dan menggeser posisinya. “Nih kamu coba aja.”
Aku menyipit tidak percaya. Bisa saja Mas Hady bilang gitu biar aku tidak khawatir lagi. Jadi, aku turun untuk memastikannya sendiri. “Ah, iya. Kok enakan di sini?” tanyaku sambil menoleh ke samping, tempat Mas Hady duduk bersila.
Mas Hady menusuk pipiku. “Nyaman, kan?”
Aku sempat bergeming namun untungnya aku cepat sadar dan menjawabnya, “Iya, Mas.”
Belum hilang keterkejutanku akibat sentuhan di pipiku, Mas Hady justru membuatku makin panik ketika dia ikut berbaring di sebelahku. Mas Hady meletakkan kepalanya di bantal yang sama hingga lenganku bersentuhan dengannya.
Tubuhku mendadak beku. Rasanya untuk bergerak atau menelan ludahku pun akan canggung. Belum lagi jantungku yang menggila. Reaksi tubuhku jauh berbeda saat aku berbaring seranjang ketika Mas Hady sakit.
Satu fakta itu membuatku akhirnya sadar sepenuhnya, tentang perasaanku.
“Muat kok kalau kamu mau ikut tidur di sini.”
Aku menggeser tubuhku, takut Mas Hady bisa mendengar detak jantungku. “Cari penyakit.”
“Aku enggak punya penyakit menular, Ju.”
Dari sudut mata, bisa kulihat Mas Hady menoleh. Kalau aku ikut noleh, bisa bahaya. Jadi, aku mempertahankan kepalaku untuk terus menatap langit-langit. “Bukan itu, Mas. Maksudnya tuh jangan sampe Mas ikutin bisikannya setan.”
Mas Hady tertawa pelan. “Emang setannya bisikin apa?”
Aku mengernyit. Ini kok topiknya jadi ngelantur? Sebenarnya aku bisa saja menghentikan obrolan tidak berfaedah ini dan kembali ke sofa. Tapi ada sesuatu yang menahanku. Aku nyaman di dekat Mas Hady meski sekujur tubuhku jadi panas dingin. Kayaknya bukan Mas Hady yang ikutin bisikan setan, tapi aku.
“Ya gitu. Hal-hal yang bikin dosa Mas makin numpuk.”
“Contohnya?”
“Mas searching aja sendiri. Mengapa laki-laki dan perempuan tidak boleh tidur bersama? Ada tuh penjelasan lengkapnya,” balasku agak sewot. Capek juga denger dia nanya mulu dari tadi. Padahal dibanding aku, sudah jelas Mas Hady lebih tahu. Bahkan lebih berpengalaman, mungkin.
Aku menoleh cepat, mengabaikan perintah otakku sejak tadi ketika melihat Mas Hady mengutak-atik ponselnya. “Mas ngapain?”
“Cari tau kenapa laki-laki dan perempuan enggak boleh tidur bareng,” kata Mas Hady tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Movember [TAMAT]
RomanceDibantu temannya, Juwi bertekad move on dan mencari pengganti setelah putus dari pacar sejak SMP-nya. Targetnya sebulan. Mulai dari berkenalan dengan kakak temannya, mencari diaplikasi dating, sampai salah satu temannya menyarankan Juwi mempertimban...
![Movember [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/272458528-64-k267540.jpg)