Happy reading❤️
📷 📷 📷
“Kamu enggak kerja, Dit?”
Pertanyaan barusan kuajukan begitu menarik kursi dan duduk di hadapan Adit setelah selesai memesan. Semalam, Adit memang mengajakku bertemu. Selain itu, ada hal penting yang ingin dia bicarakan. Awalnya aku ragu mengiakan ajakan Adit, takut Adit menyatakan perasaannya.
Tapi setelah memikirkannya berulang kali, aku tidak bisa seterusnya menghindar. Aku yang pertama kali mengirim sinyal ke Adit, jahat banget kalau aku tiba-tiba menjauh tanpa penjelasan. Jadi, aku putuskan bertemu dan mengungkapkan segalanya. Walaupun tahu, aku akan menyakiti Adit.
Nasihat Mas Hady benar, sejak awal niatku memang salah. Aku jadi menyakiti orang lain cuma karena gengsi sama Farraz.
Adit mengangkat pandangan dan berhenti menyeruput minumannya. “Libur.”
Aku mengernyit. Bukannya studio Mas Hady menggunakan sistem kerja rodi? “Tumben.”
“Bukan libur sih. Tapi karena petinggi-petinggi studio ke luar Kota, makanya studio ditutup.”
Untuk sesaat, kepalaku mendadak kosong. Aku bingung harus bereaksi atau menanggapi info yang baru saja aku tahu seperti apa. “Mas Hady juga?” tanyaku hati-hati.
Adit mengangguk sekali. “Iya. Kamu enggak tau?”
Selain kepindahannya, aku juga tidak tahu Mas Hady sedang berada di luar kota. Rasanya aneh, tapi aku juga sadar bukan seseorang yang mesti tahu kegiatan Mas Hady. Ternyata melepaskan orang yang disukai juga berat, ya. Kupikir cuman putus saja yang bikin sakit hati.
“Mereka ngapain ke sana?” tanyaku setelah jeda sebentar.
Adit mengendikkan bahu. “Ada yang mau diurus katanya. Aku juga enggak begitu tau.”
“Dari kapan?” tanyaku lagi.
“Kemarin.”
Berarti sehari setelah pindah, Mas Hady langsung berangkat. Apa itu berarti Bunda dan Kak Uta tahu? Jadi, cuma aku yang tidak tahu. Tiba-tiba aku kesal, terlepas dari aku menerimanya atau tidak, aku kan juga kenal Mas Hady dari kecil. Dan juga, hampir dua bulan ini kami makin dekat, tapi Mas Hady tidak berusaha memberitahuku.
Bagaimana seandainya kejadian beberapa hari lalu terulang? Aku sendiri di rumah dan ada pencuri membobol rumahku? Seperti katanya, aku akan menghubunginya meminta bantuan. Aku mengharapkannya, tapi ternyata dia ada di luar kota. Kalau aku tahu, aku tidak perlu membuang waktu menghubunginya, kan? Kemungkinan nyawaku selamat juga lebih besar.
“Ju.”
Aku tersentak. Isi kepalaku yang dipenuhi Mas Hady, nyaris membuatku lupa dengan Adit yang sedang bersamaku. “Hm?”
Adit menegakkan punggungnya dan menatapku lurus-lurus. “Aku mau nanya serius sama kamu.”
Oh, inikah saatnya? Apa tidak sebaiknya aku saja yang mengatakannya terlebih dulu? Biar Adit tidak merasa ditolak. Tapi kalau Adit bukan bermaksud menembakku, aku yang bakal berakhir malu.
Ngomong-ngomong, sejak kapan aku punya malu? Hm, mungkin mulai hari ini.
“Tanya apa?”
Adit tersenyum, menunduk sebentar dan kembali menatapku. “Kamu.. enggak suka kan sama aku?”
Mataku melebar. Adit tahu. Bagaimana bisa? Sejauh ini cuma aku dan Tuhan yang tahu perasaanku yang sebenarnya. Aku kehilangan kata-kata. Kalau kujawab iya, aku menyakitinya. Kalau kujawab tidak, aku membohongi diriku sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Movember [TAMAT]
RomanceDibantu temannya, Juwi bertekad move on dan mencari pengganti setelah putus dari pacar sejak SMP-nya. Targetnya sebulan. Mulai dari berkenalan dengan kakak temannya, mencari diaplikasi dating, sampai salah satu temannya menyarankan Juwi mempertimban...
![Movember [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/272458528-64-k267540.jpg)