☆SAGARA 32☆

827 46 8
                                        

Sagara keluar dari kota mencari Atlas bersama Garva dan Vincen mereka berangkat jam 2 pagi supaya sampai bandung pada jam pagi mereka beriringan dengan Sagara paling depan dan di belakang Vincen yang membonceng Garva.

Sering juga Garva dan Vincen bergantian mengemudi tapi Sagara tanpa berhenti sampai pagi dia mengemudi tanpa kantuk akhirnya setelah beberapa jam di jalan mereka sampai di bandung pukul 04.50 sebentar lagi adzan subuh mereka berhenti di musholla.

"Lo ikut shalat kaga Va?" Tanya Vincen.

"Ikut"

Mereka mengambil wudhu juga Sagara dan Vincen mengajarkan tata cara wudhu kepada Garva dan doa sebelum wudhu serta sesudah wudhu mereka masuk ke musholla Sagara membagikam sarung kepada Garva dan Vincen walau Garva sempat kesulitan memakai sarung karena bantuan temannya akhirnya mereka bertiga sholat berjamaah dengan warga setempat sempat juga Garva mengintip gerakan shalat tanpa sepengetahuan lain Garva mualaf diam-diam.

Setelah selesai dengan ibadah mereka melanjutkan perjalanan sesuai ucapan Vincen mereka akan ke apartemen Atlas di Bandung.

Butuh setengah jam untuk sampai ke apartemen Atlas Mereka langsung menuju lantai 15 tepat apartemen Atlas berada tapi kenapa pintu apartemen Atlas terbuka tanpa permisi mereka masuk memang ada Atlas.

PEREMPUAN ITU SIAPA?perempuan itu terduduk di sofa dengan Atlas di sampingnya mereka sama-sama terkejut satu sama lain Atlas yang terkejut tiga cecurut datang ke apartemennya.

"HEH ZINA" Teriak Vincen.

Perempuan itu bersembunyi di belakang Atlas perempuan itu ketakutan dengan wajah seram tiga orang asing itu.

"Nggak papa udah jinak" ucap Atlas pada perempuan itu.

"Dikira hewan" Dumel Garva "Kalian ngapain kesini?" Tanya Atlas.

"Yang seharusnya nanya tuh kita,Abang ngapain di apartemen berdua sama cewe" Ucap Garva.

Atlas menghela nafas nya menyuruh tiga cecungut itu untuk duduk di ruang tamu perempuan tadi masih bersembunyi di belakang Atlas masih merasa ketakutan.

"Ini shella tadi gua kecelakaan dan dia jadi korbannya-

Lah terus napa lo bawa kesini?"

Gua pernah ketemu jasmine di rumah sakit dulu saat Sagara kritis"

Wajah-wajah curiga ada di wajah vincen dan Garva mereka menggoda Atlas "Terus kenapa abang bilang sama Alana Abang ke luar negeri?" Tanya Sagara.

"Gua bilang ke luar negeri biar tu bocil kagak ngikut"

Tatapan Sagara mencurigai wajah Atlas dengan berdecak Atlas mengeluarkan amplop melihatkan pada Sagara.

Tiba tiba shella menepuk bahu Atlas berbicara dengan gerakan tangan "Siapa dia?".

"Dia Sagara Saudaraku" Shella mengangguk.

Sagara membuka ampol itu dahinya berkerut ini surat rumah sakit dan nama rumah sakit itu sama dengan rumah sakit yang ia tempati minggu lalu saat dia kritis rasa tak percaya muncul saat matanya membaca satu nama dengan keterangan mengidap henti jantung.

"Gua ke sini mau nemuin temen gua dan kebetulan temen gua itu dokter kardiologi gua mau minta tolong sama dia buat datengin dokter jantung terbaik untuk bisa nyembuhin penyakit Alana"

Kepala Sagara semakin berat beribu ujian datang kepadanya matanya meneteskan air mata ia tau bahwa henti jantung bisa terjadi secara tiba-tiba tanpa ada tanda Sagara takut.

Atlas menepuk paha Sagara menunjuk Shella yang ingin berbicara gerakan tangan Shella dan usaha shella untuk bisa berbicara dengan Sagara.

"Percayalah tuhan punya kejutan indah nanti ucap Shella" Shella mengangguki ucapan Atlas.

"Udah ini gua yang pikirin Lo istirahat"

"Gaada kata istirahat Bang" Ucap Sagara.

Tangan shella bergerak "Alana sangat baik pasti tuhan menyayangi Alana mungkin dengan ini tuhan membuktikan kalau tuhan sayang dengan Alana" Atlas memgartikan gerakan Shella.

Sagara mengucapkan terima kasih dengan gerakan tangan dengan sopan shella menundukkan kepalanya menghormati Sagara.

"Jadi udah jelas sekarang?"

Sagara mengangguk "Secepatnya gua juga bakal nyari dokter bang" Terserah Sagara sudah belasan tahun Atlas bersama Sagara dia adalah sosok yang keputusannya tidak bisa di ganggu gugat.

Atlas ikut kembali ke asalnya sebelum itu mengantarkan shella ke rumahnya dan puluhan maaf di utarakan Atlas.

Sagara berada paling belakang Atlas paling depan memandu Jalan tapi ada sesuatu yang ganjal Sagara merasa ada yang sedang mengikutinya dari kaca spion mobil putih terus berada di belakangnya hingga ia mencoba membuktikan dengan berhenti di pinggir jalan mobil itu juga berhenti jauh dari motor Sagara kemudian Sagara kembali melajukan motornya.

Hingga ada tembakan peluru mengenai ban motor Sagara motor Sagara oleng dan terjatuh menghantam pembatas jalan kepalanya terbentur cukup keras membuat kepalanya berdenyut.

Seseorang dari mobil keluar tapi sialnya jalanan sepi bagaimana dia bisa meminta tolong seorang lelaki itu mendekati Sagara menginjak keras kaki Sagara yang keseleo.

"Tidak bosan saya menyiksa kamu Sagara" itu suara Anthoni bagaimana bisa Anthoni keluar dari rumah tahanan.

"Luka apalagi yang anda mau tuan Anthoni" Sagara menendang tulang kering Anthoni membuat Anthonj mundur beberapa langkah kesempatan itu dibut Sagara untuk berdiri.

Sagara melepas helm-nya melemparkannya pada motor yang masih tergeletak melepas jaketnya dan mengangkat kaos melihatkan banyak luka dan jahitan di seluruh badan Sagara.

"Di celah mana lagi yang mau anda beri Luka?"

"Disini?" Sagara menunjuk tepat pada jantungnya.

"Disini sudah hancur" tambah Sagara menunjuk hatinya.

Anthoni membeku melihat perbuatan nya selama ini benar-benar penuh goresan pada tubuh Sagara bahkan luka  dengan perban masih tertempel.

Sagara membuka perban itu "Bahkan masih belum sembuh Anda ingin saya meninggal?".

"Ya Saya menginginkan kamu mati" Anthoni menyerah Sagara tanpa aba-aba hingga satu bogeman mentah menghantam hidung Sagara.

Tak mau membalas bogeman Sagara tetap diam dengan hantaman bertubi-tubi dari Anthoni luka lebam terlihat parah di wajah Sagara hingga tiba-tiba Anthoni tumbang hampir menimpa Sagara.

Ternyata Atlas dan Garva memukul belakang kepala Anthoni membuat Anthoni tak sadarkan diri.

"Ya tuhan ini manusia bukan sih?" Kesal Garva.

"Matek temenku" Garva membantu Atlas mengangkat Sagara.

Mendudukkan Sagara sambil memanggil nama Sagara karena juga Sagara tak sadarkan diri.

"Angkut ke mobil gua,Vin bukain jok belakang"

Setelah menempatkan Sagara di jok belakang Vincen dan Garva melihat motor Sagara ban meletus spion patah kaca pecah stang bengkok sepertinya tidak aman untuk di buat jalan lagi akhirnya motor Sagara di angkut mobil box yang lewat sementara Anthoni di biarkan tergeletak.

Iseng Garva menutupi tubuh Anthoni dengan kardus sambil menendang kaki Anthoni ia geram dengan orang itu.

"Biar dikira mati" ucap Garva kemudian naik ke atas motor yang dikemudikan Vincen.

1 jam lebih mereka sampai di Apartemen Sagara mereka tidak membawa ke rumah sakit karena Atlas menelfon seorang dokter untuk ke apartemen Sagara.

Dokter itu mengatakan Sagara baik-baik saja hanya saja mata Sagara sedikit kesulitan karena luka lebam yang dekat dengan mata untuk luka lainnya aman.

Atlas Garva dan Vincen menatap Sagara iba melihat berbagai bentuk luka di tubuh Sagara bagaimana rasa sakitnya mereka tidak bisa membayangkan selama ini dia berusaha untuk kuat dengan semua luka yang ia terima tanpa perlawanan.

Dia Sagara.

•°•°•

S A G A R ACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang