39 | Spesial POV Surya

902 144 21
                                        

Usai meeting, aku mengajak Pak Aji—sopir kantor yang baru dipekerjakan sekitar dua bulan, untuk mengisi perut. Aku langsung menjatuhkan pilihan pada Le Quartier karena memang itu yang terdekat dan pertama kulihat. Dari namanya, sudah bisa ditebak jika ini merupakan restoran bergaya Eropa dan mengusung konsep French Brasserie. Rasa lapar membuatku lupa kalau Pak Aji yang setia mengekor di belakang setelah kuajak tadi, tampak tak nyaman. Benar saja, ketika hendak masuk, dia mendekat sambil agak berbisik, "Pak, saya tunggu di luar saja, ya."

"Kalau Bapak nggak nyaman, ayo kita cari tempat lain," ajakku. Dia tampak gelisah, namun tetap memutuskan untuk tak pindah restoran.

Begitu masuk, nuansa Eropa terasa kian kental. Interiornya classy, didominasi furnitur kayu, dan ambience-nya cukup homey. Aku suka, dan mungkin akan semakin suka jika datang kemari bersama Yasna atau keluarga. Saat ini aku memang berada di Jakarta Selatan untuk merampungkan bisnis, terhitung sudah lima hari. Namun rasanya seperti sudah berabad-abad tak bertemu dengan istri dan anak-anak. Berbicara mengenai anak-anak, usia kandungan Yasna sudah memasuki tujuh bulan. Tubuh perempuan itu yang tak terlalu berisi sesekali tampak kewalahan dengan bagian perutnya.

Kembali memfokuskan diri pada daftar menu, aku memutuskan memesan Norwegian Salmon, Petit Parisian Mushroom Soup, dan Red Velvet Crepes. Sementara Pak Aji memilih sup yang sama denganku. Namun matanya tak bisa lepas dari Roasted Half Chicken. Tentu aku memesankannya juga.

"Pak, biaya makan saya ini tolong dipotong saja dari upah, ya," bisiknya setelah tahu aku memesankan menu ayam yang dia inginkan. "Uang saya tinggal sisa dua puluh ribu sekarang."

"Kalau soal itu, gak perlu dipikirkan. Bapak nikmati saja makanannya, bill itu urusan saya."

Melihat Pak Aji, seketika aku mengingat awal-awal Mario bekerja. Persis seperti itu. Bedanya, dalam kurun dua bulan Mario sudah bisa akrab denganku. Mungkin karena Pak Aji sudah berkepala empat dan dia jarang melewati banyak waktu denganku seperti ini, tidak seperti Mario. Di perusahaan, Pak Aji memang menggantikan sopir lama yang meninggal akibat kecelakaan. Selain itu, Mario kutugaskan untuk membantu keperluan Yasna selama aku di Jakarta. Terutama empat hari mendatang, kami berencana menggelar syukuran tujuh bulanan. Aku memahami itu sebagai tradisi sebab berdoa untuk keselamatan anak-istri bisa dilakukan tanpa menunggu kandungan berusia tujuh bulan. Namun keluarga Yasna ingin menggelarnya dan menjadikan momen ini sebagai ajang kumpul keluarga.

Tepat setelah menghabiskan semua menu yang dipesan, ponselku berbunyi. Dari Yasna. Dia mengirimkan video USG. Kemarin dia memang memberi kabar kalau hari ini jadwalnya memeriksakan diri ke dokter kandungan. Mario yang akan mengantar-jemputnya. Begitu kutonton, salah satu janin tampak aktif menggeliat dan menendang bagian perut ibunya. Sampai saat ini kami memang belum tahu jenis kelamin mereka. Tapi jika melihat video barusan, aku berasumsi mungkin dia laki-laki.

"Anakmu aktif sekali," komentar seseorang. Aku menoleh ketika sosok itu menarik kursi di samping kananku dan duduk di sana. Dirasa tidak dibutuhkan, Pak Aji memilih undur diri. "Terkejut menyaksikan paman sendiri duduk di sebelahmu?"

Aku diam sejenak, berusaha mencerna tujuan Om Bram mendekati. Namun lelaki itu melanjutkan, "Gimana kondisi Yasna? Dia sehat kan?"

"Alhamdulillah, baik Nana maupun anak-anak dalam kondisi sehat."

Om Bram lantas bungkam. Aku pun tak punya topik apa-apa untuk dibahas. Jadilah kami diam-diaman seperti dua orang asing yang duduk dalam satu meja. Sejurus kemudian Om Bram menghela napas panjang, "Om minta maaf atas semua perbuatan Om kepada kamu dulu. Tak seharusnya Om memperlakukanmu dengan buruk, termasuk soal perusahaan.

"Kebencian Om kepadamu dulu mungkin dimulai karena Om merasa Ayah lebih sering memerhatikan dan menjaga kamu dibanding Yohan, cucunya sendiri. Ayah begitu menyayangi kamu selayaknya cucu kandung. Bahkan sebelum Ayah meninggal, nama yang diucapkannya adalah namamu. Saat itu, Om berpikir kamulah penyebab Ayah meninggal. Itu sebabnya Om membenci kamu. Kebencian yang kian terpupuk ketika Ayah ternyata mempercayakan perusahaan pada Pak Marcel dibanding anaknya sendiri. Mendiang Ayah bahkan mewasiatkan agar setelah lulus kuliah kamulah yang menggantikan Pak Marcel. Padahal ada Om dan Yohanes. Sebagai laki-laki, Om jelas punya ego.

[Bukan] Lelaki IdamanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang