Elisabeth POV.
Kembali hati ini di dera perasaan yang tak menentu ketik Adrian tidak kunjung pulang. Wajar bukan jika aku cemburu, saat kekasihku bertemu dengan seseorang yang dijodohkan dengannya apalagi orang itu cantik dan berkharisma seperti Samantha Clark.
"Sudahlah, dia akan segera pulang." Margareth menepuk lenganku pelan, wanita itu baru saja dari dapur untuk membuat teh. Sejak beberapa menit yang lalu aku datang ke kamarnya untuk sekedar mencari teman ngobrol. Rasanya mencekik ketika di kamar sendirian dan menahan rindu sekaligus semburu yang bergulat di hatiku.
"Aku tidak mencemaskan apapun." Elakku. Namun aku yakin jika Margareth tak akan mempercayai ucapanku, sebab wajahku pasti tidak bisa menipu.
"Ya....aku mengerti." Wanita itu duduk di salah satu kursi dan menyesap tehnya. "Tapi kenapa sejak tadi kamu terus menatap jendela dengan wajah cemas seperti itu?" kalimatnya seperti sedang menggodaku.
"Oh...." Aku menoleh, Margareth seperti sedang memergokiku sekarang. "Hanya melihat salju apakah akan turun hari ini." Aku lantas duduk di sebelahnya. Masih ada satu cangkir teh mengepul yang sengaja Margareth buat untukku, namun aku tidak berhasrat menyentuhnya.
"Apa kamu akan menyerah dengan Adrian?" tanya Margereth kemudian setelah beberapa saat.
Aku menoleh.
"Nenek Anna tak akan sejahat apa yang kamu pikirkan El." Ia menaruh cangkirnya di atas meja.
"Aku tak pernah menilai nenek Anna jahat Margareth. Aku tahu jika ia sedang mencarikan seseorang yang baik untuk cucunya." Dalam hal ini aku tidak menyalahkan siapapun. Lagipula nenek Anna juga tidak tahu jika aku dan cucunya menjalin sebuah hubungan.
"Ya...." Margareth mengangguk setuju. "Andai kalian mau terbuka dengan hubungan kalian, mungkin nenek tetap akan menyetujui kalian. Nenek Anna pikir karena Adrian belum punya kekasih jadi melakukan perjodohan tersebut."
Aku menunduk dengan hampa.
"Aku yang belum merasa siap." Sahutku. "Aku hanya orang asing yang secara tidak sengaja datang di hidup Adrian yang buruk. Seandainya ingatannya kembali, ia tak mungkin melakukan hal yang sama seperti sekarang. Mempertahankanku. Karena cinta abadinya hanya untuk Lilly."
Margareth menghela nafas, seperti membenarkan perkataanku. Sebenarnya semua orang di rumah ini tahu apa yang menimpa Adrian, tapi kami semua menutup mulut. Ya....kami sedang membohongi pria itu. Pria malang yang kehilangan separuh dari hidupnya hingga membuatnya mengalami gangguan jiwa.
"Lihatlah, dia datang El." Suara margareth membuyarkan monolog di kepalaku.
Benar saja, sebuah mobil hitam masuk ke dalam pekarangan. Dan itu adalah mobil milik Adrian. Tak berselang lama, aku melihat pria itu turun dari mobil dan menutup pintunya. Dadaku menghangat, dan tentu saja bahagia.
"Margareth, aku pergi dulu." Aku bangkit dari kursi. Setelah melihat Margareth mengangguk, aku segera berlari meninggalkan kamar itu dan menyusuri taman bunga, taman merpati hingga sekarang tiba di pavilliumku.
"Adrian!" panggilku ketika pria itu tiba di taman depan paviilium. Ia berjalan tergesa, mungkin ingin segera menemuiku.
Ia lantas tersenyum, dan aku langsung berlari memeluknya.
"Apa kamu menungguku di sini sejak tadi?" ia menciumi pucuk kepalaku.
Aku mengendurkan pelukan dan menatap wajahnya. "Tidak, aku menunggumu di tempat Margareth."
Adrian mengelus rambutku, dan sorot matanya terlihat begitu bersalah.
"Maafkan aku, tadi kaki Samantha tersiram air panas dan aku harus mengantarnya ke rumah sakit."
KAMU SEDANG MEMBACA
Miracle You (Tamat)
RomanceMungkin inilah yang tengah aku rasakan selama dua tahun terakhir ini. jika memang hidup selalu dipenuhi oleh berbagai macam keajaiban, mungkin aku sedangmenunggu hal itu. karena setelah semua kejadian itu, bagiku hidup adalah bencana. Aku selalu ber...
