47. Torenia

1.3K 79 12
                                        

Aku tidak menyangka Vicky akan membawaku ke kafe Triptha

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku tidak menyangka Vicky akan membawaku ke kafe Triptha. Bukan di kafetaria tempat anak-anak flexing kekayaan. Kafe ini terletak di luar gerbang sekolah. Meskipun kafe ini masih bagian dari Triptha, kafe ini punya pengunjung yang lebih beragam, karena itulah aku curiga Vicky ingin mengajakku bertemu dengan orang yang bukan berasal dari Triptha.

"Lihat?" katanya sambil mengedikkan dagu ke arah kejauhan. Di dalam sana, seorang cowok duduk di kursi. Dia mengenakan seragam. Tapi bukan seragam Triptha, melainkan seragam Newton High School.

Aku membelalak ketika sadar. "Desta? Mantannya Abel." Oh Shitt! Aku berbalik untuk pergi. Namun Vicky menahan bahuku. Sentuhan tangannya membuatku menoleh. "Nggak. Nggak bisa. Desta mantannya Abel."

"Terus?" tanyanya padahal aku sudah menunjukkan muka kesal.

"Ya, gue nggak bisa. Desta terlalu... gitu lah. Gue ini bukan cewek kayak Abel, Ki. Dan omongan gue jadi nggak jelas tiap di depan Desta."

Genggaman Vicky sangat erat hingga terasa perih. Dia menarikku untuk berdiri di sampingnya lagi. Kedua matanya gelap dan suram. Vicky hanya akan menatap seperti itu ketika dia marah. "Jangan lari!" katanya. Kalimat itu bukan cuma ucapan biasa, melainkan perintah. "Desta udah tunggu lo dari tadi."

Aku menghempaskan cengkraman Vicky di lenganku. Lalu mencari apa yang salah dengan Vicky. Namun dia mengalihkan pandangan sebelum aku berhasil menemukan petunjuk di matanya.

"Pergi, Ra. Jangan buang waktu. Lo bilang cuma punya waktu seminggu. Dan ini udah berkurang tiga hari."

Jadi ini yang membuat orang takut dengan Vicky. Tidak ada yang bisa membantah kalimatnya ketika dia bicara dengan nada seperti itu.

"Gue di sini," sambungnya. "Kalau ada apa-apa telfon gue."

Aku melangkah masuk. Berusaha terlihat normal. Desta sudah melihat kedatanganku sebelum aku sampai di mejanya. Seperti biasa, dia selalu cocok menggunakan seragam Newton High School. Dasi loreng hitam putih, kemeja putih, serta jas berwarna hitam dan tak lupa logo NHS tercetak di dada kiri. Dan yang paling mencuri perhatianku adalah ekspresinya. Dia selalu melihat orang seperti melihat malaikat.

"Eh, sini," katanya sambil mengeluarkan kursi dari bawah meja. Dia selalu melakukan hal yang sama ketika menyambut kedatangan Abel.

"Apa kabar, Ra?" dia masih sama. Senyumnya, nada suaranya, dan sorotan matanya. Aku bersumpah tidak akan mengatakan hal konyol di depan Desta seperti kebiasaanku dulu. Astaga! Kenapa Vicky memilihkan Desta sih?

"B-baik," sahutku. Lalu diam. Aku menyesal tidak menanyakan kabarnya juga. Aku ingin mengatakan sekarang, tapi kurasa jeda dengan jawaban tadi sudah terlalu lama, jadi aku memilih diam.

EVIDEN (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang