48. Strawflower

283 44 5
                                        

SELAMAT!
Kamu telah sampai di chapter sejauh ini!

Yakin masih mau lanjut??
Ini sadend
Kalau nggak kuat nggak usah diterusin. Soalnya chapter-chapter berikutnya akan lebih berat 🤧😭

Dont worry readers, masih ada cerita Vardhan yang lain kok 🥲

Dont worry readers, masih ada cerita Vardhan yang lain kok 🥲

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suara Desta terngiang. Aku teringat tatapan Vicky padaku. Aku teringat pelukan yang dia berikan dan detak jantungnya yang berdetak seirama dengan detak jantungku. Aku ingat ketika kami mengobrol pertama kali. Lalu ketika dia bilang bahwa dia menemukan orang yang tepat untukku, bukan dirinya, dia melemparku kepada orang lain. Dia bohong. Selama ini dia bohong.

"Vicky!" seruku. Baru sadar air mata sudah mengalir di pipi.

Dia menoleh. Bangkit dari atas motornya. Dengan wajah seolah tidak tau apa-apa. Sekarang aku tau, tatapan mata yang terlihat misterius itu ternyata tatapan kagum padaku. Dan kenapa aku baru sadar? Kenapa aku selalu menganggap Vicky menatapku dengan cara misterius alih-alih memendam perasaan untukku?

"Kenapa, Ra? Desta nggak apa-apain lo, kan---"

"ANJING LO!" Aku mendorong dadanya. Memukulnya dengan kepalan tanganku yang lemah.

"Kenapa, Ra?"

Aku ingin menampar ekspresi polos itu, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Napasku tersengal dan dia masih menatapku seolah tidak tau apa-apa.

"Maksud lo mempertemukan gue sama Desta apa, hah?" aku menarik kerah bajunya.

"D-dia ... dia orang yang bisa nyalematin lo dari ...."

"Stop, Ki!" Aku menghempaskan dadanya. Dia terhuyung. "Stop pasangin gue sama orang lain. Sekarang ngaku kalau lo suka sama gue!" Aku menunjuk dadanya. "NGAKU!"

"Lo ... lo ngomong apa, Ra?"

"Desta bilang semuanya. Tentang ayah lo. Gue akan bicarakan topik itu sekarang. Dan lo harus dengerin gue."

Ekspresinya berubah marah dan aku tidak peduli.

"Sejak kapan?" tanyaku sambil menelan ludah yang terasa seperti duri. "Sejak kapan lo suka sama gue?"

Pandangannya berubah redup. Seolah sudah menduga suatu saat aku akan mengetahui kebenaran ini.

"LO BOHONG KAN SAMA GUE!" aku mendorongnya lagi. "Lo pernah bilang lo nggak suka sama gue, DASAR PENGECUT!"

Dia menunduk. Mulutnya terdiam.

"NGOMONG! Ngomong, Ki. Jawab gue! Kenapa lo diam?" Paru-paruku seperti ingin meledak dan Vicky masih tidak memberiku jawaban. Dia gila!

EVIDEN (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang