⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah lama semenjak hari itu. Hari dimana aku tau tentang Vicky. Sekarang aku melihat Vicky seperti melihat orang lain. Orang yang kusakiti berkali-kali. Aku tidak tau apakah masih bisa tersenyum lagi. Aku tidak tau kapan bisa makan dengan enak lagi. Segalanya terasa tidak nyata.
Aku sadar aku butuh waktu untuk sendiri. Benar-benar sendirian di dalam kamar dalam waktu yang lama dan tanpa bertemu siapapun. Aku berhasil. Namun rasanya tetap hampa. Seperti ada sesuatu yang menghilang padahal anggota tubuhku masih lengkap.
Setelah tangisan agak mereda, itu terjadi setelah sekian lama, aku berusaha untuk menghubungi Vicky lagi. Dia tidak membalas. Tidak menjawab telepon juga.
Aku membayangkan selama ini Vicky menunggu telepon dariku hanya untuk mendengar suaraku, lalu menjawab curhatanku, hanya dengan cara itu dia bisa mengungkapkan rasa sukanya padaku. Dia mengungkapkan perasaannya padaku lewat kehadirannya. Dan bodohnya aku tidak pernah sadar.
Selama ini dia memendamnya. Dia punya seribu kesempatan untuk bilang dia suka padaku. Tapi dia diam.
Lalu aku ingat, ya, mungkin aku salah juga. Selama ini aku tidak peka dengan perasaannya. Selama ini aku mengira bahwa Vicky tidak mungkin suka padaku.
Aku menatap fotonya dan itu hanya akan membuat air mataku semakin berjatuhan.
Drt....
Abel memanggil. Aku mengusap air mata. Duduk dengan tenang seperti seseorang yang baru bangun tidur. Aku harap kamera ponsel mengaburkan wajah merahku.
"SAMARA!" seru Abel begitu panggilan video terhubung. Dia di rumah sakit. Dengan kanul nasal terpasang di hidung. Tangannya yang melambai terpasang infus.
"Hay, Abel!" kataku lalu berdehem agar suaraku lebih jelas.
"POV after operasi!"
Aku senang melihat senyum bahagianya. Seperti yang kubilang ke Vicky, senyum Abel selalu berhasil menyembuhkan lukaku meskipun sesaat.
"Gimana rasanya?" tanyaku.
"Awh... nggak kerasa sumpah. Ini udah tiga hari semenjak operasi. Aidan bilang gue ngigau habis operasi. Sumpah malu banget." dia menutup wajah dengan tangannya. "Aidan bilang, gue nyebut-nyebut nama Desta. Nggak tau tiba-tiba banget Desta. Astaga."
Aku tertawa. Teringat Desta berarti teringat hari dimana perasaan Vicky terungkap. Aku harap Abel tidak menyadari tawa anehku.
"Gue jadi takut nih, Ra. Gue takut Aidan baper. Soalnya pas dia bilang nama Desta gue malah keterusan cerita kalau Desta itu mantan gue."
Aku menggeleng. "Kayaknya Aidan bukan tipe cowok yang possesif deh."
"Ih, tapi muka dia berubah jadi bete." Abel membuat suara seperti bayi menangis.
"Gimana jadinya? Momen yang Aidan janjiin belum terjadi?"
Abel menggeleng. Bibirnya tertekuk ke bawah seolah tidak punya harapan. "Dia nggak bilang apa-apa. Dia ngajak ngobrol, tapi ngobrol yang nggak bahas tentang perasaan dia. Aidan selalu kayak gitu."