Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

7. Temptation

1.6K 149 2
                                        

Saat ini Satya tengah berada di kamarnya. Ditatapnya kini tumpukan dokumen yang ada dimejanya. Cukup lama ia memandangi dokumen-dokumen itu. Ia merasa ragu untuk melakukannya.

Waktu menunjukkan pukul 17.30, yang artinya sudah hampir 2 jam ia hanya diam memandangi dokumen didepannya. Dihatinya masih penuh dengan keraguan.

Tetapi ucapan Joviar dan Harsa kemarin malam terus berputar di kepalanya, mengikis sedikit demi sedikit keraguan dalam hatinya. Dengan sisa keraguan yang ada, ia melangkahkan kakinya menuju ruangan sang papa dengan membawa setumpuk dokumen yang sebelumnya diberikan padanya.

Ia mengetuk pintu dengan pelan, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya tatkala suara berat papanya mempersilahkan masuk. Ia mencoba menenangkan dirinya, sebelum akhirnya jari-jarinya mulai memutar knop pintu ruangan papanya.

Ia melangkah dengan pelan sambil terus merapal dalam hati, ayo Satya lo bisa, pasti bisa.

Kini ia telah berada dihadapan papanya dan meletakkan tumpukan dokumen itu di meja kerjanya. Papanya mengernyit keheranan.

"Ini apa Satya? Kenapa kamu bawa lagi ke meja papa? Memangnya kamu sudah paham semuanya?", tanyanya pada Satya.

Untuk beberapa saat Satya diam, mengumpulkan keberaniannya.

"Satya ga bisa lagi pa, Satya gamau", ucap Satya yang membuat papanya heran.

"Maksud kamu?", tanya papanya.

"Satya ga bisa terus-terusan papa paksa buat ikut serta dalam urusan perusahaan papa. Satya gamau lagi ikut papa ngurusin perusahaan. Satya mau ngejar impian Satya pa. Satya mau kembali berlatih ice skating. Maaf pa", ucapnya dalam satu tarikan napas.

PLAKK

Satya mendapat tamparan dari papanya. Dilihatnya kini wajah papanya yang merah menahan amarah.

"Apa-apaan kamu Satya!! Kamu mau ngebantah papa? Udah tau kan konsekuensinya apa kalau ngga nurut sama papa?", ucapnya sambil mengertak Satya. Kaki Satya gemetaran, tapi sebisa mungkin ia tahan agar ia tidak terlihat lemah.

"Satya tau pa, sangat tau. Mungkin abis ini papa bakal pukul Satya dan kurung Satya di gudang. Tapi Satya ga peduli, ini hidup Satya pa, harusnya Satya yang ngatur hidup Satya sendiri, bukan papa. Papa ga berhak ngatur hidup Satya sampai sejauh itu.

Satya berhak buat ngejar impian Satya pa. Satya berhak nglakuin apa yang Satya mau. Cuma itu satu-satunya hal yang bisa bikin Satya senyum, bisa bikin Satya bahagia.

Setidaknya kalau papa ga bisa ngasih dukungan ke Satya buat ngejar impian yang Satya punya, jangan larang Satya buat ngejar impian itu sendirian!!!", ucap Satya dengan napas yang memburu.

"Kurang ajar kamu Satya, kamu bener-bener ga bisa diharapkan. Dulu abang kamu ga pernah nglawan gini sama papa. Dia selalu bisa bikin papa seneng, bikin papa bangga. Sedangkan kamu? Sama sekali ngga. Kamu terus aja membantah papa, selalu bikin malu papa", ucap papa Satya dengan emosi.

"Harusnya kamu juga sadar, kamu jadi penyebab abangmu meninggal !! Gara-gara jemput kamu dari ice skating sialan itu, abangmu jadi meninggal. Papa juga jadi harus kehilangan penerus papa!!!", lanjut papanya.

"Harus berapa kali lagi Satya bilang, Satya sama abang itu beda!! Gabisa terus-terusan dipaksa buat sama. Dan lagi, Satya bukan penyebab abang meninggal, Satya ga pernah minta abang buat jemput Satya. Abang sendiri yang maksa. Sampai kapan papa sama mama bakal terus-terusan nyalahin Satya? Sampai kapan pa? Sampai Satya ikut bareng abang disana? Iya?!!"

Our Emergency Calls Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang