Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

33. little things

862 84 16
                                        

Saat ini, Satya tengah bersiap untuk pulang dari latihan ice skatingnya. Minggu depan ia ada kompetisi, jadi ia banyak berlatih akhir-akhir ini karena sebelumnya ia sempat bolos latihan selama hampir seminggu akibat sakit dan pemulihan dari kejadian itu. Hari ini ia dapat jadwal latihan pagi hari dan baru selesai jam 4 sore ini.

Selesai dari latihan, ia berniat untuk mampir ke tempat Saga. Sudah lama ia tak pergi kesana. Sebelum sampai di tempat saga, ia sempatkan untuk mampir membeli bunga. 

Satya telah sampai di tempat Saga, diletakkannya bunga itu disamping nisan yang bertuliskan nama Saga.

"Halo bang ? Apa kabar? Maaf Satya jarang mampir ke rumah abang yang baru.

Bang, bang Saga tau ga sih? Sekarang Satya udah main ice skating lagi, dan minggu depan kompetisi Satya yang pertama setelah abang gaada. Abang harus nonton ya? Bang Saga bisa liat Satya dari atas sana kan?

Oh iya bang, disana juga ada temen-temen Satya kan? Kira-kira bang Saga ketemu sama mereka ga ya? Kalo ketemu, Satya boleh minta tolong ngga bang? Tolong jagain mereka ya? Mereka orang-orang yang baik, mereka yang selama ini bantuin Satya.

Bang, Satya kangen. Abang kangen Satya juga ga? Kangen mama papa juga ngga? Tau ga sih bang, sebenernya Satya kangen sama mama papa, cuma Satya belum sanggup buat ketemu mereka. Luka yang mereka buat di hati Satya belum bener-bener sembuh.

Abang bisa ga sih kaya di film-film gitu, muncul didepan mereka. Kalo bisa Satya mau minta tolong, tolong bilangin ke papa sama mama kalo Satya lebih suka ice skating, mereka kan slalu dengerin abang, siapa tau karena abang yang nyuruh mereka mau dukung Satya.

Tolong bilangin juga ke mereka, bukan Satya yang bikin bang Saga meninggal, bilang juga ke mereka kalo abang sama Satya tu beda. Ga bisa kalo terus dipaksa buat sama.

Bang, Satya cape tau. Semesta banyak bercanda sama Satya. Semesta selalu ambil orang-orang tersayang Satya. Satya cape bang, abang ga mau bawa Satya buat ikut abang? Satya pengen ikut abang", ucapnya sambil menunduk.

Satya menumpukan lututnya di samping makam saga, detik berikutnya terdengar isakan dari nya. Satya menumpahkan semua bebannya saat ini di depan Saga. Ia mengeluarkan semua isi hatinya di depan makam Saga.

Isakan Satya terdengar pilu, mungkin orang lain yang mendengarnya akan ikut merasakan betapa sakitnya Satya. Selama ini Satya banyak mengalami hal sulit, mulai dari kekerasan dari orang tuanya, kemudian di usir oleh orang tuanya, dan lagi, akhir-akhir ini semesta banyak bercanda dengannya, dengan mengambil orang-orang tersayangnya.

Wajar kalau Satya juga merasa lelah, selama ini ia juga tak banyak mengeluh pada Harsa atau siapapun, ia merasa tak enak jika harus membagi lukanya pada Harsa, karena Harsa pun hampir sama nasibnya dengannya.

Ia pikir Harsa juga pasti lelah, karena selama ini ia selalu menjadi sandaran bagi teman-temannya yang lain, selalu menjadi rumah bagi dirinya dan teman-teman yang lain.

Harsa bahkan sering melupakan soal dirinya sendiri karena terlalu sibuk membantu yang lain, Satya tak mungkin menambah beban Harsa dengan membagikan lukanya pada Harsa.

Setelah merasa tenang, Satya lantas bangkit, di liriknya jam yang ada ditangannya. Ternyata ia cukup lama di sini. Ia berpamitan dengan Saga, dan kemudian melangkah untuk keluar dari area pemakaman.

Satya melajukan motornya ke arah basecamp, dan tanpa ia sadari, ternyata daritadi ada orang yang terus mengawasinya. Ia terus mengawasi Satya, hingga akhirnya Satya tak terlihat lagi karena menyatu dengan ramainya jalanan sore itu.

--------------------------------------

Pulang dari rumah Jenan, El berniat untuk menemui Chandra, banyak hal yang ingin ia sampaikan pada kakaknya itu.

Our Emergency Calls Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang