44. Run into you

1.2K 75 22
                                        

Harsa dan Nata masih berada diruangan itu. Ruangan putih tanpa hiasan apapun. Ruangan yang bersih, hingga akhirnya mereka sampai disana dan mengotori lantai putih bersih itu dengan darah dari tubuh mereka. Diruangan itu hanya ada mereka dan beberapa lemari, ah bukan lemari. Nampak seperti kulkas namun sangat besar.

"A-abang, dd-diingin", ucap Nata sambil gemetar. Memang, suhu diruangan ini sangat dingin. Harsa juga merasakan hal yang sama.

"B-bang, Nata ngantuk. I-ini d-dingin banget, Nata gakuat lagi", ucap Nata yang nampak semakin melemas.

Harsa panik, sepertinya Nata tak tahan dingin. Sebisa mungkin ia coba untuk mempertahankan kesadaran Nata.

"Nata, jangan tidur dulu ya? Tunggu bentar lagi, mereka pasti dateng bawa kita. Jangan tidur dulu, nanti masa abang ngomong sendiri", ucap Harsa sok tegar, padahal sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama.

"T-tapi N-nata beneran k-kedinginan bang", bibirnya bergetar tanda bahwa ia memang kedinginan, giginya gemeletuk saling beradu, matanya semakin berat untuk dibuka.

"Tahan bentar ya, tahan. Dibuat ngobrol sama abang aja biar ga ngantuk", ucap Harsa lagi.

Setelahnya Harsa membuka obrolan dengan Nata, membahas sesuatu yang mungkin membangkitkan semangat Nata, membahas sesuatu yang membuat Nata tertarik dan melupakan sejenak rasa kantuknya.

Harsa masih memikirkan Nata, padahal ia sama terancamnya dengan Nata, sama nasibnya dengan Nata. Disaat-saat seperti itu, ia masih mengutamakan orang lain, mengabaikan nasibnya sendiri. Ia melupakan pesan dari Skylar, soal puzzle pieces miliknya yang semakin lama semakin kacau dan menghilang satu persatu.

---------------------

Orang-orang suruhan El dan Chandra berhasil menaklukkan mereka. Walaupun keadaan menjadi sangat kacau dan beberapa dari mereka bahkan terluka cukup parah. Saat perkelahiam tadi, Skala kabur, bukan, bukan kabur. Ia pergi keluar dan menyaksikan pertengkaran antara Satya dan Papanya. Ini lebih menarik menurutnya.

Melihat bagaimana Satya menodongkan pistol yang ia punya sampai keadaan menjadi berbalik, ia masih terus memperhatikan mereka. Hingga pada akhirnya.

DOR

Ia memalingkan sedikit wajahnya karena terkejut. Ia pikir salah satu dari mereka akan mati, tapi ternyata tidak. Chandra datang, mengubah arah pistol itu kearah atas dan mendorong Satya sedikit menjauh dari Janardana.

Skala yang melihat itu lantas berlari mendekat.

Dia gagal, giliran gue kan? Dia bilang musnahin semua yang ngalangin jalan dia. Satya juga termasuk berarti kan?, gumamnya selama menghampiri Satya.

Satya masih terduduk ditanah, ia masih syok atas kejadian barusan. Hingga tak berapa lama, Skala datang dan melayangkan pukulan padanya. Ia tak siap, dan hanya bisa pasrah saat Skala memukul dan menendangnya.

Chandra yang masih sibuk menahan dan memaki Janardana, terkejut karena Skala yang datang tiba-tiba dan langsung menyerang Satya. Orang suruhan Chandra yang datang bersamanya tadi berusaha menghentikan Skala, namun langkah mereka terhenti karena Skala yang menodongkan pistol yang ia punya tepat dikepala Satya.

"Stop !! Jangan mendekat", titahnya.

"Tuan, sesuai perintah anda. Bukannya hama memang harus dibasmi? Bukankah dia termasuk?", Janardana menatap kearah Satya dan Skala. 

"Bagaimana tuan? Bukankah seharusnya begitu?", tanya Skala lagi. Janardana tak menjawab.

"Jauhkan pistolmu dari Satya!!", titah Chandra.

Our Emergency Calls Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang