Saat ini Jeviar tengah berkumpul bersama teman-temannya, mempersiapkan untuk balapan nanti. Balapan kali ini sepertinya akan sangat sengit, karena musuh mereka lah yang akan menjadi lawannya.
"Gue serahin ke lo Jev, lo udah menang berkali-kali, jadi gue percayain ini sama lo", pesan ketua geng.
"Berapa lap? Kaya biasa kan?", tanya Jeviar.
"Kali ini 2, lo boleh make motor siapapun kali ini yang menurut lo enak", tawar si ketua geng.
"Gue pake yang biasa aja", ucapan Jeviar lantas disetujui oleh semua anggota. Setelahnya mereka lantas pergi ke tempat balap mereka. Kali ini hanya 1 lawannya, dan ia tidak tahu persis geng apa yang akan ia lawan.
Kini ia tengah bersiap di garis start, menunggu bendera untuk diturunkan. Begitu bendera diturunkan, ia buru-buru menancapkan gas nya. Musuhnya kali ini cukup hebat dan licik. Beberapa kali ia mencoba untuk menjatuhkan Jeviar, beruntung Jeviar bisa menghindar, dan berakhir ia kembali memenangkan pertandingan itu.
Sorak ramai terdengar dari semua anggota gengnya, lebih ramai dari sebelumnya, ia nampak heran siapa sebenarnya lawannya ini? Kenapa mereka sesenang itu ketika tau Jeviar menang?
Jeviar tak ambil pusing, ia lantas mendekat ke arah gerombolan gengnya.
"Hebat banget Jev, gilaaa. Padahal dia termasuk jagoan dari gengnya loh", puji temannya, Arjuna.
"Dia gak curang ke lo kan? Biasanya mereka curang soalnya, bahkan ga segan bikin lawannya kecelakaan", tambah temannya lagi.
Jeviar mengingat saat ia balapan tadi, beberapa kali lawannya itu mencoba membuatnya jatuh dan selalu mepet ke arahnya. Benar kata Joviar, nyawanya tengah dipertaruhkan di jalanan.
"Iya, tapi gue bisa handle kok, nyatanya gue menang. Oiya, mereka dari geng apa?", tanya Jeviar.
"Tumben banget lo nanyain soal lawan lo, biasanya ge abis balapan minta bayar terus pulang", ucap Arjuna.
"Ya gapapa Jun, gue pengin tau aja. Mereka kayanya bukan geng biasa ga si? Skill balap mereka juga lumayan, beberapa kali gue hampir kesalip soalnya"
"Mereka musuh kita Jev, kita ngga pernah bisa akur sama mereka. Gue juga anggota baru jadi gatau apa penyebabnya. Gue gatau mereka dari geng mana karena nama geng yang mereka pakai sekarang rumornya cuma kaya pengalihan gitu, geng aslinya jarang ada yang tau. Istilahnya geng yang kita lawan itu cuma anaknya, kalo induknya kita gatau", jelas satu temannya. Jeviar hanya mengangguk tanda paham.
"Kalo lo pengin tau siapa aja anggotanya, lo bisa liat dari logo yang mereka punya. Di tiap motor mereka ada logo infinity", ucapan temannya ini sukses membuat Jeviar menoleh.
"Infinity?", tanya Jeviar
"Iya, kenapa? Pernah ketemu?", tanya Arjuna.
"Ah engga, btw bang Shaka mana? Ada yang mau gue omongin sama dia", Jeviar mencari keberadaan Shaka, si ketua geng. Ia berniat mencoba bicara pada Shaka soal niatnya untuk keluar dari gengnya.
Walaupun kemungkinan kecil untuk berhasil, tapi ia ingin mencobanya. Mendengar cerita dari temannya tadi soal geng lawan membuat tekadnya untuk keluar semakin besar, karena ia merasa tak akan aman jika ia semakin masuk terlibat dalam urusan geng itu.
Jeviar menghampiri Shaka yang tengah merokok sendirian. Bau asap rokok menyengat di sekitarnya, Jeviar lantas duduk di bangku kosong samping Shaka.
"Kenapa? Bayarannya kurang?", tanya Shaka pada Jeviar.
"Engga bang, udah bener kok. Bang gue mau keluar", ucap Jeviar hati-hati.
"Gabisa, lo udah tau banyak soal kita. Gue ga bisa nglepas lo gitu aja", ucap Shaka
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Emergency Calls
Fiksi Penggemar- Pelangi memang muncul setelah hujan, tapi tidak setiap hujan memunculkan pelangi - Mereka kira kebahagiaan adalah milik setiap manusia, tapi ternyata kebahagiaan hanya milik kesayangan semesta. Our emergency calls, tempat mereka mencurahkan semua...
