Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

18. Sincere

1.3K 124 44
                                        

Sayup-sayup Joviar mendengar seseorang meneriaki namanya. Suara yang sangat dia kenal.

"Joviarr!!! Bangun heh, Jov!!", panggil orang itu.

Ia masih berusaha menyesuaikan penglihatannya, dan menggerakkan tubuhnya. Aneh. Dilihatnya tubuh bagian bawahnya, ia juga memeriksa bagian lainnya. Bersih, tak ada luka. Ia juga bisa menggerakkan kakinya dengan bebas.

"Bangun anjir, katanya mau pulang, keburu malem ini", teriak orang itu lagi.

Dilihatnya orang itu dari atas sampai bawah, sama seperti dirinya bersih. Ia lantas melihat sekeliling, memastikan keberadaan dirinya. Tempat ini amat ia kenali, kos yang selama ini ia tempati.

"Ngapain si lo? Cepet bangun siap-siap, katanya mau pulang, cepet anjir, gue gamau kemaleman dijalan", teriak orang itu sekali lagi.

"Jev, lo gapapa?", tanyanya pada orang itu, ya orang itu adalah Jeviar.

"Hah? Lo kenapa si? Gue gapapa, kenape si ha?", Jeviar nampak bingung dengan ucapan Joviar barusan.

"Lengan sama pundak lo ga luka kan? Pipi lo juga ga kegores kan?", ucapan Joviar ini mendapat tatapan heran dari Jeviar.

"Amit-amit, engga anjir, lo kenapa? Mimpi buruk kah maniez?", ucap Jeviar yang ia selingi dengan candaan.

"Ngga lucu njing, tapi lo beneran gapapa kan?", tanya Joviar lagi.

"Ck, gue gapapa, makanya kalo sore-sore tu jangan tidur, mimpi buruk kan lo! Dah cepet sana siap-siap", Joviar lantas pergi siap-siap, sambil pikirannya masih memikirkan hal yang tengah terjadi sekarang.

Joviar telah selesai siap-siap, ia lantas menghampiri Jeviar yang tengah duduk dimeja belajarnya.

"Gue udah siap, ayo!!", ajak Joviar.

"Iya, gue bonceng lo aja ya Jov? Gue cape banget hari ini, ya? Gue isiin bensin deh", Joviar pun menyetujuinya.

Awalnya saat diperjalanan tak ada yang membuka suara, Jeviar yang menikmati suasana jalanan sedangkan Joviar yang sibuk dengan pikirannya.

"Jev, lo masih ikut geng motor itu?", tanya Joviar tiba-tiba.

"Hah? Oh engga, kan lo nyuruh buat gue keluar. Kenapa emang?", tanya Jeviar.

"Ngga, lo ngga marah lagi ke gue kan?", tanya Joviar lagi.

"Hah? Apa? marah kenapa?", Jeviar nampak tak paham dengan pertanyaan Joviar.

"Ck, ngga, ngga jadi", Joviar pasrah, ia kembali fokus pada jalanan.

Jarak kos mereka dengan rumah tidak terlalu jauh, hanya sekitar 3 jam perjalanan. Setelah berjalan sekitar 2 jam, Joviar lantas mengajak Jeviar untuk istirahat sebentar.

Kini mereka tengah duduk dibangku halte yang sudah tidak beroperasi lagi. Mereka menyelonjorkan kakinya, melepas penat setelah dua jam perjalanan.

Langit malam ini cukup cerah, bintang dan bulan nampak bersinar indah.

"Gue minta maaf ke lo ya Jev, gue gatau kalo lo selama ini tertekan", ucap Joviar tiba-tiba.

"Lo udah bilang itu berapa kali anjir, lo kenapa aneh banget deh. Mimpi lo seburuk itu ya?", tanya Jeviar sebab daritadi Joviar terus meminta maaf padanya.

"Gue mimpi l--", Jeviar memotong ucapan Joviar.

"Kata bunda mimpi buruk ga boleh di ceritain, udah lah toh cuma mimpi, itu karna lo tidurnya sore-sore, makannya mimpi yang jelek-jelek", oceh Jeviar.

"Jev, mimpinya kerasa nyata banget. Gue takut. Gue masih pengin nepatin janji gue buat jadi kembaran yang baik buat lo, tolong kasih kesempatan buat gue ya?", Jeviar nampak jengah dengan ucapan Joviar.

Our Emergency Calls Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang