Pagi ini, seperti biasa, Harsa bangun dengan rasa sakit menjalar disekujur tubuhnya. Apalagi penyebabnya selain ayahnya yang dengan gelap mata melakukan kekerasan padanya.
Jujur saja Harsa muak, ia selalu saja disalahkan atas hal yang sama sekali bukan miliknya. Ya, masih soal kematian mamanya. Berulangkali ia mengatakan pada ayahnya, kalau saja bisa di tukar, ia lebih memilih untuk tidak lahir, daripada harus hidup, namun dengan penderitaan yang terus mengiringinya.
Siapa yang mau menjalani hidup seperti ini ? Dianggap sampah dan pembunuh oleh ayahnya sendiri hanya karena kelahirannya yang memang sudah suratan dari sang pemilik semesta.
"Hah", helaan napas lelah yang mengawali pagi yang berat ini.
Ia turun menuju meja makan dan mendapati ayahnya yang tengah makan bersama dengan istri mudanya. Ia yang awalnya lapar, seketika kenyang karena muak melihat wajah mereka berdua.
"Harsa, sarapan dulu sini", panggil istri muda ayahnya, yang menyadari eksistensi Harsa disekitar mereka.
Harsa tak menyahut, ia lanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil minum. Harap-harap ada makanan lain disana sehingga ia tak perlu menahan lapar lebih lama lagi.
Ia sama sekali tak berniat bergabung dengan mereka berdua. Buat apa ? pikirnya. Ia mungkin hanya akan kehilangan selera makannya karena berhadapan dengan ular licik seperti istri muda ayahnya itu.
Nasib baik belum memihak pada Harsa, di kulkas maupun dapur, sama sekali tak ada makanan yang bisa ia makan. Ada, namun masih dalam bentuk mentah. Berakhir, ia hanya mengambil minum untuk ia bawa kembali masuk ke kamar.
Harsa melirik arloji yang ada ditangannya. Pukul 07.15, ia ada kelas sekitar 30 menit lagi. Ia pun lantas bersiap untuk kuliah. Harsa mengenakan kemeja yang ia gunakan sebagai outer, dengan kaos oblong sebagai innernya.
Ia memantaskan dirinya di depan kaca, setelah merasa bahwa penampilannya cukup memikat para kaum hawa, ia lantas turun untuk beranjak menuju ke kampusnya.
Sampai dibawah, ia mendapati ayahnya yang tengah duduk berdua dengan istrinya.
Cih, sok romantis, cibirnya dalam hati.
Ia tak berniat menyapa keduanya, sampai akhirnya suara bariton dari ayahnya, menginterupsi langkahnya menuju garasi.
"Harsa", panggilnya. Harsa berdecak sebal, apalagi kali ini ?
"Kita ada disini, kamu sama sekali ngga pamit ?", tanyanya pada Harsa.
"Buat apa ? Ngga perlu, ngga ada gunanya juga", balasnya.
"Kita ini orang tua kamu, Harsa", sahut istri ayahnya.
"Bukan, lo cuma orang asing ya kerjaannya morotin harta ayah", ucapnya tanpa takut.
"Harsa ! Ngomong apa kamu ini ?", tegur ayahnya.
"Bener kok, ayah aja yang bucin sampe ngga sadar kalo diporotin sama mak lampir itu. Oiya tante, anaknya tolong disuruh sadar diri ya, kalo ngga mampu ngga usah sok-sok berulah. Kalo sampe ada apa-apa, siapa lagi yang keluar duit buat ganti rugi ? Ayah juga kan ?
Tolong ajarin sopan santun juga tan, anak sekolah kok lagaknya kaya ga pernah disekolahin", ia tau ayahnya akan marah setelah mendengar dirinya berucap demikian, maka dari itu ia lantas pergi setelah menyelesaikan kalimatnya.
Yang Harsa maksud adalah Skala, orang yang selama ini selalu membuat masalah dengannya dan juga teman-temannya. Ia tau Skala adalah anak dari istri muda ayahnya. Pantas, kelakuannya mirip, masih satu keturunan ternyata.
Harsa melajukan motornya menuju kampus. Empat SKS ia jalani dengan fokus dan sungguh-sungguh. Pikirnya, akan lebih memikat banyak kaum hawa jika dirinya juga pintar dalam akademik. Selain tampan, ia juga harus berprestasi, dengan itu akan lebih banyak yang mendekat padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Emergency Calls
Fanfiction- Pelangi memang muncul setelah hujan, tapi tidak setiap hujan memunculkan pelangi - Mereka kira kebahagiaan adalah milik setiap manusia, tapi ternyata kebahagiaan hanya milik kesayangan semesta. Our emergency calls, tempat mereka mencurahkan semua...
