Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

43. Rescue ?

1.1K 73 8
                                        

Beberapa orang suruhan El, telah sampai di markas mereka. Tempat ini berbeda dengan yang sebelumnya, suasana disini lebih sepi karena memang tempatnya yang terpencil. Dengan mengendap-endap, satu persatu orang suruhan El masuk kedalam markas itu. Berhasil, dengan mudah mereka bisa masuk kesana.

Pintu depan telah mereka lewati, begitu sampai didalam, mereka dibuat terkejut dengan kondisi bangunan itu. Dari yang mereka lihat, banyak perangkap yang terpasang di tempat ini. Nampaknya suntikan dana yang mereka dapat cukup besar sehingga mampu menyusun perangkap se perfect ini.

Orang suruhan El ini bukan orang biasa atau orang yang baru terjun dihal hal yang seperti ini. Mereka telah banyak mengambil job yang bahkan lebih dari ini. Tapi dengan pengalaman yang mereka punya, tentu tak menyurutkan kewaspadaan mereka. Rasa lengah bisa jadi lebih bahaya dari perangkap itu sendiri.

Mereka mencoba menerawang kelemahan dari perangkap yang dipasang disana.

pasti ada ruang control disini, perangkap sebanyak itu tak mungkin dijalankam secara manual

Mereka terus mengendap masuk sambil tetap berjaga dengan senjata yang mereka punya. Ilegal memang, pistol dan senjata yang mereka punya tak memiliki izin, jika ketahuan, mungkin mereka akan terkena tindak pidana. Tapi masa bodoh, hukum dinegara ini sangat buruk, ia hanya perlu merogoh sakunya untuk membiarkan namanya tetap baik.

Bangunan itu memiliki banyak ruang. Tentu, bangunan ini sangatlah besar, dan yang pasti bangunan ini tentu telah dirancang sedemikian rupa hingga nampak sangat sempurna.

Mereka terus mengendap-endap sambil memerika ruangan satu persatu. Hingga tak lama salah satu dari mereka memberi kode untuk tiarap. Tanpa basa basi mereka menurutinya, dan benar saja

Dor

Satu tembakan lolos, sesaat setelah mereka tiarap. Nyatanya sistem keamanan disana sangat sensitif, beruntung salah satu dari mereka menyadarinya. Setelahnya mereka berlanjut menyusuri setiap sudut gedung itu, mencoba memahami bagaimana strukturnya, sebelum akhirnya nanti mereka melakukan penggrebekan.

------------------------------------------------------------

Isak tangis terdengar lemah di ruangan itu. Dua orang yang tadinya terikat dan tak sadarkan diri, kini salah satunya tengah bangun. Isak tangis itu terdengar pilu, tersirat perasaan yang amat sendu didalamnya. Perasaan takut, sedih, juga rasa sakit yang ia salurkan lewat tangis itu.

"Abang.. Bangun !!", panggilnya yang sudah kesekian kali, namun sama sekali tak mendapat balasan.

"Bang Harsa !! Bangun !! Nata takut", ucapnya masih terus terisak.

Seseorang dengan tubuh pucat dan bibir yang mulai kebiruan itu sama sekali tak memberi respon pada Nata. Keadaannya sama sekali tak bisa dibilang baik, darah yang mulai mengering dipelipisnya, lebam dibagian wajahnya, juga luka dibagian lain yang tertutup oleh pakaian yang ia kenakan, namun masih bisa dilihat oleh Nata karena darah yang terus merembes lewat kain yang ia kenakan.

Nata ingin sekali menghampiri Harsa, namun kondisinya juga hampir sama buruknya dengan Harsa. Beberapa kali ia coba menggerakkan kakinya namun tidak bisa. Kakinya mati rasa, belum lagi kepalanya yang pening dan tangannya yang mulai kebas karena terikat terlalu kuat.

"Bang Harsa, BANGUNN!!", panggilnya lebih keras, ia mulai frustasi. Tangisnya semakin kuat, bersamaan dengan itu bayangan-bayangan buruk soal kecelakaannya dulu saat bersama keluarganya muncul, juga bayangan saat bundanya yang terus menyiksa dan menyalahkannya atas kecelakaan itu, tiba-tiba saja muncul dikepalanya.

"Nata pembawa sial !! Nata emang ga berguna, Nata yang bikin bang Harsa kaya gini, Nata orang jahat, Nata pembunuhh", racaunya tak jelas. Ia terus menggumamkan hal itu, menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini.

Our Emergency Calls Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang