Setelah memastikan Jenan dan Nata pulang ke rumahnya dengan selamat, Joviar lantas pergi ke apartemen Skylar. Mereka tentu menanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi, termasuk Jean yang sedih karena rencananya pergi ke kebun binatang tiba-tiba batal. Jenan dan Nata juga menanyakan keberadaan Skylar, namun ia hanya bisa mengatakan pada mereka agar berdoa supaya tak ada hal buruk yang menimpanya.
Harsa, Arjuna, dan Satya masih belum mengangkat teleponnya dari tadi. Kabar yang ia dapat terakhir kali adalah saat mereka bilang bahwa Skylar masih belum ketemu.
Ia sampai di apartemen Skylar. Diketoknya pintu itu berkali-kali, namun nihil. Tak ada jawaban yang ia dapat. Ia masih terus mengetoknya, berharap seseorang membukakan pintu untuknya, tapi tetap saja tak ada yang membukakan pintu itu.
Joviar lantas keluar dari apartemen itu, berniat mencari mereka ke tempat-tempat yang mungkin mereka kunjungi. Tapi nihil, di kafe, di tempat mereka bertemu sebelumnya, tak ada tanda-tanda keberadaan mereka.
Ia berniat pergi ke basecamp, tapi jalanan masih sangat macet.
"Mas, ini macet banget, kita lewat jalan lain ya", ucap sopir taksi yang ia tumpangi.
"Iya pak, silahkan aja. Yang penting saya cepet sampainya", ucapnya pada sopir itu.
Akhirnya sopir itu mengubah arahnya ka jalur lain. Jalan ini tak terlalu ramai dari sebelumnya. Joviar melihat sekeliling dengan perasaan cemas, masih belum ada yang memberinya kabar sampai saat ini.
Tiba-tiba ia merasakan mobil yang ia tumpangi melambat, ia pun menoleh pada sang sopir.
"Kok pelan pak? Kenapa?", tanya Joviar.
"Itu mas, didepan ada kecelakaan. Masih rame orang nonton, jadi saya pelan, takut tiba-tiba ada yang nyebrang sembarangan", ucap sopir itu.
Joviar yang mendengar itu lantas mengangguk. Tak lama atensinya teralihkan pada kerumunan didepannya. Ditatapnya kerumunan itu, ia menyadari ada sesuatu yang tak asing disana.
"Pak, berhenti bentar pak", suruhnya pada sopir itu. Ia ingin memastikan apa yang ia lihat itu benar atau salah. Setelah mobilnya benar-benar berhenti, ia lantas turun dan mendekat kearah kerumunan itu.
Ia kaget, apa yang ia lihat saat ini sungguh mengagetkannya.
"I-ini gue ga salah liat kan? Ini mobil yang tadi di bawa Skylar, tapi kenapa bisa ringsek gini, orangnya manaaa!!", ucapnya frustasi.
Setelah itu ia mengambil ponselnya. Kembali mencoba menelepon ketiga temannya itu. Ia kalut, ia panik. Ditengah kekalutannya itu, seseorang menepuk pundaknya, membuatnya menoleh kearah orang yang menepuknya tadi.
"Siap--, Eh lo kok di sini??", Joviar kaget, melihat sosok yang kini berada di depannya.
----------------------------------------------
Matahari baru saja terbenam, bertukar peran dengan bulan yang kini bertugas menyinari semesta. Satya terbangun karena merasakan pegal di tengkuknya. Ia juga merasa kaku dibagian pergelangan tangan dan kakinya. Dilihatnya kini dirinya yang tengah terikat dalam kondisi berdiri dengan tangan yang terangkat ke atas.
Disampingnya ada Arjuna dan Harsa yang sama seperti nya, namun mereka masih belum bangun. Ruangan ini merupakan tempat penyiksaan Joviar dan Jeviar sebelumnya, dan mungkin juga bagi korban-korban lain.
Ada bercak-bercak darah dilantai, yang ia yakini itu adalah milik korban-korban Skala sebelumnya, termasuk Jeviar dan Joviar. Nampak juga barang-barang seperti sepatu yang berserakan ditempat ini.
Satya mencoba menggerak-gerakkan tangannya, untuk sedikit melonggarkan ikatannya, tangannya sangat kebas kali ini. Begitu ikatannya melonggar, ia terhuyung kebelakang, ia kesulitan menyeimbangkan diri karena kakinya yang terikat juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Emergency Calls
Fanfiction- Pelangi memang muncul setelah hujan, tapi tidak setiap hujan memunculkan pelangi - Mereka kira kebahagiaan adalah milik setiap manusia, tapi ternyata kebahagiaan hanya milik kesayangan semesta. Our emergency calls, tempat mereka mencurahkan semua...
