Selesai dari menemui Jean dan El, Harsa berniat pergi ketempat part time Joviar. Sekalian, ia ingin kumpul bersama Satya dan juga Joviar yang akhir-akhir ini nampak sibuk dengan urusannya masing-masing.
TINGG
Bunyi bel, saat pintu itu terbuka.
"Bang Harsa? Cepet banget datengnya bang, ini gue masih beberes bang, tunggu disitu dulu ya", ucapan Joviar yang lantas diangguki oleh Harsa.
"Iya, lo kerjain dulu itu kerjaan lo. Gue juga mau nyelesain tugas gue dulu, nanggung banget tinggal dikit. Mm.. gue pesen minum satu deh Jov, apa aja yang penting enak", Joviar yang mendengar itu lantas mengacungkan jempolnya sebagai jawaban.
Setelah itu mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Joviar yang harus melayani beberapa pelanggan dan Harsa yang sibuk dengan semua tugasnya. Ia sudah menghubungi Satya tadi, dan Satya bilang jika ia sedikit telat.
Tentu Harsa tak mempermasalahkan itu, toh sambil menunggu ia juga bisa mengerjakan semua tugasnya.
Waktu menunjukkan pukul 21.15, sebentar lagi cafe tutup dan pengunjung mulai berkurang. Joviar pun lantas menghampiri Harsa.
"Masih sibuk nugas bang?", tanya Joviar.
"Eh? Engga, ini dikit lagi selesai", ucap Harsa yang awalnya sedikit kaget dengan kehadiran Joviar.
"Halah, dikira gue gatau itu tugas lo sampe numpuk gitu, cih. Dikira gue Jean apa bisa diboongin", Harsa yang mendengar itu lantas terkekeh.
"Ya, gimana ya, mahasiswa tua ya gini, kalo ga sama laptop ya sama kertas. Lo sendiri? Gaada tugas? Jangan jadi beban kelompok lo, malu-maluin", ejek Harsa.
"Dih? Walaupun gue ga terlalu pinter tapi kalo soal tugas gue pastiin selalu beres ya. Oiya, ini Satya mana? Latihan di es sampe jam segini apa ga beku dia", heran Joviar.
"Lah iya, udah jam 9, Gue telpon deh, jangan sampe dia kemaleman dijalan sendirian", Harsa buru-buru menelepon Satya, takut terjadi sesuatu padanya, terlebih ucapan El siang tadi membuatnya sedikit khawatir.
"Biasanya juga dia pergi sampe malem bang, santai aja sih, toh klo cafe ini tutup, kalian masih boleh disini dulu klo mau ngobrol", jelas Joviar yang masih belum tau soal apa yang sebenarnya terjadi.
"Bukan itu, masalahnya--"
TINGG
Bunyi lonceng, yang menandakan bahwa pintu tengah terbuka. Harsa dan Joviar mengalihkan pandangannya kearah sumber suara, mendapati sosok jangkung dengan masker yang menutup wajahnya.
"Hih, Satya, gue kira siapa tadi. Kenapa lama banget? Lo gapapa kan?", tanya Harsa beruntun. Satya yang mendengar itu menatap heran pada Harsa.
"Gue? Gue bang? Gue gapapa, emang kenapa?", tanya Satya balik.
"Engga, gue kira lo kenapa-napa, soalnya jauh banget dari perkiraan telat lo dan lo gabisa dihubungin", jelas Harsa. Dan Satya hanya mengangguk.
"Gue kira apaan. Motor gue agak aneh tadi makanya sempet berenti di jalan lama. Gue ga terlalu paham soal motor, bingung juga gue gimana, mana Hp gue juga mati kan. Tapi untung tadi ada yang bantu sih.
Oiya Jov, lo ada temen namanya Keenan ya?", tanya Satya.
"Keenan? Iya ada, kenapa Sat?", tanya Joviar.
"Dia yang bantu gue tadi, kok dia bisa tau gue ya? Lo ngasih tau ke dia?", tanya Satya.
"Dia temennya Jeviar dulu, gue juga kenal dia karna Jeviar. Kayanya dia juga deket sama Jeviar, soalnya Jeviar banyak cerita ke dia kayanya? Dia juga tau bang Harsa juga", jelas Joviar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Emergency Calls
Fiksi Penggemar- Pelangi memang muncul setelah hujan, tapi tidak setiap hujan memunculkan pelangi - Mereka kira kebahagiaan adalah milik setiap manusia, tapi ternyata kebahagiaan hanya milik kesayangan semesta. Our emergency calls, tempat mereka mencurahkan semua...
