Sudah lewat dari dua minggu, namun Harsa masih enggan membuka mata. Ayahnya sudah kembali dari perjalanan bisnisnya, ia kaget begitu tau kondisi Harsa yang sebegitu parahnya. Dan lagi, hal yang semakin membuatnya kaget adalah pelaku dan penyebab dari kejadian itu adalah anak tirinya sendiri.
Ia tak menyangka jika Skala bertindak sejauh itu, seminggu yang lalu ia mengerahkan beberapa orang untuk mencari keberadaan Skala, untuk ia mintai pertanggungjawaban. Namun istrinya menolak dan berniat menggagalkan rencananya itu. Ia mulai curiga pada sang istri, kenapa ia seakan menutupi kesalahan Skala. Ternyata ia takut jika kejahatannya ikut terbongkar.
Ia yang selama ini diam-diam memindahkan sebagian harta kekayaan keluarga Nabastala menjadi miliknya pribadi, hingga akhirnya semua kejahatannya kini ikut terbongkar, bersamaan dengan Skala yang berhasil mereka temukan. Skala tak hanya dituntut atas kasusnya dengan Harsa, namun juga kasus lain yang menyeretnya jauh sebelum kasus barunya ini.
Bukti nyata temuan mayat ditempat Harsa disekap itu, memberatkannya dimata hukum. Kini tak hanya Skala yang terjerat hukum, namun antek-antek juga tuannya, Janardana juga ikut terjerat hukum. Janardana memang belum ditemukan, tapi fotonya kini telah beredar menjadi seorang buronan.
Kini kasus mereka benar-benar disorot media, memastikan bahwa pelaku mendapat hukuman yang pantas. Aparat pun juga ikut menjadi sorotan publik, tak jarang dari mereka yang mendapat ancaman dan juga hinaan atas kelakuan mereka sendiri. Publik kini benar-benar dibuat heboh dengan kasus ini, tak menyangka jika aparat seburuk itu, mereka rela melanggar sumpah mereka demi uang.
Memang, hidup didunia ini harus realistis, kita butuh uang, tapi tak seharusnya hal itu menjadi alasan untuk bertindak curang. Terlebih sampai mengorbankan nyawa seseorang.
Dari kasus ini, tak hanya fisik yang nampak terluka. Satya yang mendapati fakta pahit dari mulut seseorang yang selama ini ia sebut papa. Jawaban dari semua pertanyaannya selama ini, kenapa ia selalu diperlakukan berbeda, bahkan sampai kekerasan dan pemaksaan yang selama ini ia terima.
Tentu satu hal yang amat menyakitkan bagi Satya, bagaimana selama ini ia terus mencoba bertahan dari setiap kekangan dan penyiksaan yang ia terima. Raga Satya kini bebas dari semua pelakuan itu, tapi tidak dengan hati dan jiwanya yang masih terbelenggu oleh trauma masa lalu.
Satya kini benar-benar sendiri, tak ada lagi keluarga yang mau menaungi. Bahkan orang yang selama ini ia panggil mama, sama sekali tak mau berurusan dengannya. Bukan salah Satya lahir di dunia ini, ia hanya hadiah yang tuhan titipkan pada hambanya.
Kini yang Satya punya hanya mereka, keempat temannya yang selama ini selalu membantunya, mendukung setiap langkah yang ia punya. Hanya satu yang Satya minta sekarang, semoga tuhan tak mengambil mereka, seperti Ia mengambil dua teman-temannya sebelumnya.
Semoga...
--------------------------------------------------------------
Satya dan Joviar masuk ke ruang ICU bersama dengan Nata yang kini masih harus menggunakan kursi roda. Butuh waktu yang cukup lama bagi Nata hingga akhirnya ia berani menemui Harsa. Bayangan soal kecelakaan dan bagaimana ia bersama Harsa mencoba untuk tetap hidup di ruang yang dingin itu, menjadi trauma tersendiri bagi Nata.
Ia baru saja ingin sembuh, hingga kecelakaan itu kembali memperparah keadaannya. Kini bahkan ia tak lagi bisa melangkah dengan kedua kakinya. Butuh waktu yang sangat lama untuk ia bisa melangkah dengan dua kaki yang ia punya.
Nata ingin mengeluh, namun ia malu, seseorang yang kini berada didepannya, mengalami hal yang bahkan lebih berat darinya, tapi sama sekali tak pernah ia dengar kata keluhan dari dirinya.
"Bang... Bangun dong, ngga capek tidur terus? Nata aja udah bangun, masa lo ngga? Ketemu siapa sih ? Betah banget", ucap Satya mencoba untuk tetap kuat. Ia sudah lelah menangis, ia tau masalahnya tak akan selesai dengan dia menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Emergency Calls
Fanfiction- Pelangi memang muncul setelah hujan, tapi tidak setiap hujan memunculkan pelangi - Mereka kira kebahagiaan adalah milik setiap manusia, tapi ternyata kebahagiaan hanya milik kesayangan semesta. Our emergency calls, tempat mereka mencurahkan semua...
