Sudah 4 hari, terhitung dari keberangkatan Jenan ke tempat Karantina. Pagi ini El berniat mengajak Jean untuk pergi bertemu dengan Chandra. Bukan, bukan dirumahnya. Tak mungkin ia menunjukkan keluarga barunya Chandra pada Jean. Ia membuat janji pada Chandra untuk bertemu di sebuah taman bermain.
"Ayo cil, udah siap belum", tanya El pada Jean yang masih mengunyah sarapannya.
"Jean om!!", sungutnya, ia tak suka dipanggil dengan sebutan itu. El tau, ia memang sengaja bermain-main dengan Jean.
"Iya cil, udah selesai makannya? Jangan lupa itu susu nya di minum", Jean dengan mulutnya yang masih penuh hanya mengangguk. Sambil menunggu Jean selesai sarapan, El memainkan ponsel nya, sambil memantau beberapa hal yang akhir-akhir ini menjadi kesibukannya.
Tak lama Jean selesai makan, ia turun dari kursi nya dan menghampiri El. Ditariknya kaos El bagian bawah, karena dari tadi El terus sibuk pada ponselnya.
"Ayo om, Jean udah!!", panggilnya agak keras. El yang mendengar itu buru-buru memasukkan ponselnya kedalam kantong, dan mengangkat Jean untuk berada digendongannya dan kemudian berangkat dengan ke tempat bermain dengan mobilnya.
"Kita mau kemana om?", tanya Jean.
"Ke taman bermain, mau?", Jean yang mendengar itu mengangguk dengan semangat. Setelah itu mobil melaju ke arah taman bermain.
Sesampainya disana, El menghubungi Chandra, menanyakan dimana posisinya. Ternyata Chandra belum sampai, ia masih dirumahnya karena anaknya yang rewel katanya. El menahan kesal, tak menyangka jika Chandra se sembrono ini.
"Ayo om masuk!!", ucap Jean tak sabar. El menghela napas panjang, berusaha menetralkan emosinya.
"Iya, yuk kita masuk sekarang", akhirnya mereka masuk ke taman bermain itu. Banyak hal yang Jean coba, dan ia nampak sangat senang. Maklum, selama bersama Jenan, ia jarang pergi jauh karena Jenan yang juga sibuk, terakhir ia pergi jauh yaitu saat camping bersama teman-teman Jenan.
El masih menunggu kabar dari Chandra, sudah lebih dari satu jam, tapi Chandra tak kunjung datang. Jean nampaknya sudah lelah bermain, ia tak se excited sebelumnya.
"Kenapa? Cape ya? Mau mam eskrim dulu?", tawar El. Jean yang tadinya nampak lelah kembali bersemangat karena tawaran eskrim dari El.
"Mau om, mau!!", setelah itu mereka pergi ke kedai es krim yang ada di dekat mereka. El terus menghubungi Chandra, namun tak ada jawaban dari Chandra. Jean sudah habis dengan es krimnya begitupun El. Selain es krim, Jean juga membeli beberapa makanan dan El menurutinya.
"Om, udahh!!", seru nya.
"Okey, mau main lagi?", tawarnya pada Jean. Dan Jean pun menggeleng.
"Gamau, Jean ngantuk, mainnya juga ga seru. Gaada abang", ucap Jean dengan lesu.
"Ayo om, pulang", ajaknya pada El.
"Iya bentar ya, Jean mau eskrim lagi?", tanya El. Jean pun menggeleng.
"Apa mau jajan lagi? Ayo om beliin", Jean menggeleng lagi.
"Gamau, mau pulang om", rengeknya pada El.
"Iya bentar ya, tunggu bentar aja. Okey?", Jean pun mengangguk. El masih menunggu Chandra. Dalam hati ia mengumpat atas kelakuan Chandra.
Tak lama Chandra memberi kabar jika ia tengah dijalan. El kembali menghela napas, dari rumah Chandra ke tempat ini sekitar 30 menit, sedangkan sekarang Jean nampak sudah mengantuk, bahkan kini kepalanya sudah ia letakkan di meja karena rasa kantuknya.
El memilih membawa Jean keluar dari tempat itu dan menunggu di mobil agar bisa duduk lebih nyaman. Sekitar 30 menit, El mendengar ketukan kaca dari luar, dan itu Chandra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Emergency Calls
Fanfiction- Pelangi memang muncul setelah hujan, tapi tidak setiap hujan memunculkan pelangi - Mereka kira kebahagiaan adalah milik setiap manusia, tapi ternyata kebahagiaan hanya milik kesayangan semesta. Our emergency calls, tempat mereka mencurahkan semua...
