17. Bittersweet

1.3K 113 5
                                        

Jeviar terbangun karena kesemutan pada pergelangan tangan dan kakinya serta sakit dibagian pundaknya. Ia tak tahu jam berapa ini dan sudah berapa jam ia disini. Dilihatnya Joviar yang ada disana bersamanya. Bibirnya begitu pucat, terlihat dalam tidurnya ia seperti menahan rasa sakit. Ia ragu apakah ia benar-benar tidur atau bahkan pingsan.

"Jov", panggil Jeviar.

"Jov", panggilnya lagi untuk memastikan, tapi masih belum ada jawaban.

"Joviarr !!", panggilnya lebih keras lagi. Joviar masih belum menjawab. Ia panik tentunya, ia takut hal-hal yang lebih buruk terjadi pada Joviar.

"Jov", ucapnya sambil terisak. Boleh kalian bilang jika Jeviar sangat cengeng kali ini, tapi ia tak peduli. Ia lebih mengkhawatirkan Joviar.

Jeviar semakin terisak, ia takut. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apapun. Tak lama terdengar suara Joviar yang tengah merintih sakit, Jeviar sedikit lega mendengarnya.

"shh... sakit", rintih Joviar. Sayup-sayup Joviar mendengar isakan dari Jeviar. Hatinya ikut sakit mendengar Jeviar yang menangis. Ikatan batin mereka sebagai saudara kembar sepertinya benar-benar kuat.

Tanpa ia tahu, Jeviar juga merasakan sakit yang sama. Melihat kembarannya yang kondisinya nampak mengenaskan dengan luka hampir diseluruh tubuhnya.

"Jangan nangis, gue ikut sakit denger lo nangis", ucap Joviar dengan lirih, namun masih bisa dengar oleh Jeviar.

"Gue takutt Jov, gue takut", suara Jeviar nampak bergetar.

"Stt... udah, gue kan pamit ke lo cuma tidur, jangan mikir aneh-aneh. Gue bakal selalu sama lo, gue kan udah janji bakal jadi kembaran yang baik", Joviar mencoba membenarkan duduknya. Ia ingin sekali menghampiri Jeviar yang berada tak jauh didepannya. Tapi luka-luka di kakinya begitu menyakitkan.

Ia mencoba untuk menggerakkan tubuhnya perlahan. Ia ingin sekali menghampiri Jeviar. Akhirnya menghampiri Jeviar dengan merangkak menyeret kedua kakinya. Ia kini telah sampai didepan Jeviar, ia menyandarkan tubuhnya dikaki Jeviar yang kini terikat dengan tali.

"Jangan nangis lagi ya? Gue sakit dengernya", mendengar hal itu Jeviar mati-matian menahan agar air matanya tidak turun. Joviar kini berada didekatnya, semakin jelas luka-luka yang ada ditubuhnya. Luka sayatan, luka pukulan, melihatnya saja sudah membuatnya ngeri.

"Gue bantu buka ikatan lo, pasti tangan sama kaki lo sakit", ucap Joviar sambil mencoba membuka tali yang mengikat Jeviar. Cukup sulit untuk membukanya karena talinya yang tebal dan ikatannya yang cukup rumit.

Seketika atensinya teralihkan pada cutter yang masih menancap di bahu Jeviar.

"Lo bisa nahan sakit bentar kan? Gue mau ambil cutter di pundak lo itu jadi mungkin bakal kerasa sakit", jelas Joviar. Jeviar hanya mengangguk sebagai jawaban.

Sebenarnya ia merasa pening dari semalam, dan lagi bagian pundaknya terus terasa ngilu. Tak apa jika ia merasakan sakit kali ini, yang penting ia bisa lepas dari ikatan ini dan nantinya bisa bertindak sesuatu untuk Joviar dan dirinya sendiri. Mereka sama sekali tidak terpikirkan jika tindakan mereka kali ini bisa berakibat fatal.

Dengan perlahan Joviar mencabut cutter di pundak Jeviar, Jeviar merasakan perih dan ngilu karena ternyata cutter itu menancap dipundaknya cukup dalam. Setelah cutter tercabut darah mulai mengalir dari sana, cukup banyak hingga mampu membuat baju yang dikenakan Jeviar menjadi basah.

"Jev, pundak lo!! S-sorry ha-", ucapan Joviar terpotong.

"Gapapa, tolong lepasin tali gue dulu ya", mendengar hal itu Joviar lantas memotong tali-tali yang mengikat Jeviar. Cukup lama karena talinya yang tebal.

Our Emergency Calls Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang