Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

15. Tuition

1.3K 125 8
                                        

Malam ini, Skylar tengah berada di kamarnya. Setelah pulang dari ice rink dan mengantarkan Nata ke panti, ia lantas tidur. Ia baru terbangung saat Satya membangunkannya untuk minum obat.

Kini ia tengah berkutat dengan lembaran-lembaran soal dan tugas miliknya. Ia sudah kelas 12, tentu akan lebih sibuk dengan uji coba dan ujian lainnya.

"Hah, gimana ngerjainnya nih? Angka sama garis semua gini", keluh Skylar setelah melihat tumpukan soal yang ia punya.

Ia masih terus mencoba mengerjakannya. Skylar bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia bahkan bisa mengeluarkan effort yang lebih hanya untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diusahakan.

Setelah sekitar 2 jam, akhirnya ia menyelesaikan semua soal-soal itu. Ia bukanlah anak pintar yang selalu menjadi pemegang peringkat tertinggi. Ia hanya murid dengan kemampuan standar yang pemalas, tapi jika ia mau berusaha, pemilik peringkat tiga besar pun akan ketar-ketir melihatnya.

"Selesai, it's time to sleep again. Tapi gue laper", setelah mengatakan itu ia lantas pergi ke luar kamar. Ia menemukan Satya yang tengah sibuk dengan handphonenya di sofa.

"Ngapain bang?", tanyanya pada Satya.

"Kepo lo bocah, ngapain masih melek? Tidur lagi sana, besok lo sekolah"

"Lo nyuruh gue tidur sedangkan lo sendiri ga tidur. Bang lo tau ga sih kalo anak itu belajar dari orang tuanya", oceh Skylar.

"Tapi gue bukan orang tua lo", bantah Satya.

"Lah iya ya, kok gue ketularan lo jadi goblok sih bang", ucapan Skylar yang lantas mendapat lemparan bantal dari Satya. Yang dilempar pun hanya tertawa.

"Hahahahah, udah bang udah.", Skylar memotong ucapannya.

"Bang, laper", rengek Skylar pada Satya.

"Gue engga", ucap Satya singkat yang membuat Skylar emosi.

"Gelut yok bang anjir, ngeselin banget lo, ck", mendengar itu Satya lantas menatap tajam ke arah Skylar.

"Yang sopan kalo ngomong, gue geprek juga tu mulut. Yaudah, mau makan apa? Jam segini mana ada yang mau nganter", jelas Satya.

"Keluar aja yuk bang? Sekalian cari angin, gue dari tadi ketemu sama angka mulu pusing", pinta Skylar.

"Lo baru sembuh juga, ntar kalo sakit gue diomelin sama bang Harsa", ucap Satya.

"Engga bakal, ya jangan sampe bang Harsa tau. Ayo bang, kan pake mobil, ga mungkin sakit. Gue kuat, gue kan anak SGM", ucapan Skylar yang membuat Satya geleng-geleng.

"Yaudah siap-siap sana, pake juga jaket lo, gue tunggu di ruang tamu", setelah itu Skylar lantas bersiap-siap, tak lama ia datang dengan mengenakan hoodie dan topinya.

"Ngapain pake topi? Ga panas juga", tanya Satya

"Malu tau bang, kepala gue kan masih diperban gitu", jawab Skylar. Keduanya lantas turun dan pergi untuk mencari makan.

Jalanan cukup sepi karena memang sudah mendekati tengah malam. Hanya ada beberapa motor dan mobil yang melintas. Ini juga bukan malam minggu, jadi tak banyak anak muda yang pergi berkeliaran di malam hari.

"Mau beli apa? Jam segini palingan cuma ada ayam bakar, burjo, kalo ngga ya pecel lele, sama martabak paling", tanya Satya

"Apa ya? Ayam bakar aja bang, sama martabak, sama burjo juga", ucap Skylar yang banyak mau

"Buset itu mah semua. Burjo aja ya? Ga terlalu berat, udah malem soalnya. Besok juga masih sarapan kan?", ucapan Satya yang lantas diangguki oleh Skylar. Keduanya kemudian pergi ke warung pinggir jalan yang menyediakan bubur kacang ijo.

Our Emergency Calls Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang