Hari ini jadwal kontrol Joviar ke rumah sakit, ditemani Arin ia pergi ke rumah sakit menggunakan taksi. Harsa sebenarnya sudah menawarkan diri untuk mengantarnya tapi ia menolak, ia sudah banyak merepotkan Harsa selama ini, bahkan biaya rumah sakit, Harsa juga ikut membantu.
Dokter selesai memeriksa Joviar, beberapa luka di tubuh Joviar sudah tidak lagi di balut perban, hanya beberapa luka yang cukup dalam yang masih terbalut perban. Memar di tubuhnya juga perlahan mulai memudar.
Kini mereka tengah menunggu didepan apotek untuk mengambil obat yang dokter resepkan. Joviar duduk dikursi roda sedangkan Arin berada disampingnya duduk dikursi tunggu.
"Harusnya tadi Joviar jalan kaki aja bun, biar bunda ga perlu cape dorong-dorong Joviar", protes Joviar karena bundanya memaksanya untuk memakai kursi roda.
"Udah gapapa. Jarang banget kan bunda manjain kamu gini? Biasanya kamu nolak kalo mau bunda mau bantuin, selalu bilang Joviar bisa sendiri kok bun, Joviar udah gede. Padahal sampe kapanpun juga bunda bakal anggep kamu anak kecilnya bunda. Kapan lagi bunda bisa manjain kamu gini hmm?", ucapnya sambil mengacak lembut rambut Joviar.
"Bun...", panggilnya yang membuat Arin menoleh.
"Maafin Joviar ya bun, ga seharusnya Joviar bersikap dingin kaya kemaren, Bunda juga ngrasain sedih, bukan cuma Joviar. Harusnya Joviar nguatin Bunda, bukannya diemin bunda, maafin Joviar bun, maaf kalo Joviar ngrepotin bunda, bikin bunda cape", ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar, beruntung di apotek ini tak terlalu banyak orang jadi ucapannya tadi mungkin hanya Arin yang mendengarnya.
Arin mendekat ke arah Joviar, ia berjongkok didepan kursi roda, meraih tangan putranya itu.
"Joviar sama sekali ngga ngrepotin bunda, bunda juga ngga ngerasa direpotin sama Joviar. Bunda juga maklum kalo kamu diemin bunda kemaren, siapa yang ga sedih kalo ditinggal sama kembarannya. Bunda cuma khawatir sesuatu yang lain terjadi sama kamu, sekarang cuma Joviar yang bunda punya, jadi sebisa mungkin bunda lakuin yang terbaik buat kamu.
Tolong jangan sampe terluka lagi ya nak? Bunda sedih liat kamu kesakitan, sedih liat kamu yang kesusahan bergerak. Kalo bunda boleh mintapun, bunda mau minta buat sakitnya dituker aja, biar bunda yang ngrasain sakit, bukan kamu", jelas Arin
"Bunda jangan gitu, Joviar juga gamau bunda sakit. Bunda ngga marah ke Joviar? Joviar kan gagal buat jagain Jeviar"
"Ngga, buat apa bunda marah? Kamu ngga gagal, emang tugas Jeviar udah selesai disini, Jeviar mungkin cape selama ini, mungkin dia juga kangen sama ayah? Jadi dia istirahat duluan. Jangan nyalahin diri kamu sendiri ya nak", setelah Arin mengucapkan itu, tak ada lagi suara yang keluar dari mereka. Yang terdengar hanyalah suara langkah kaki dan para petugas yang memanggili pasien.
Arin tengah mengambil obat, Joviar yang bosan lantas mengedarkan pandangannya ke lorong-lorong di rumah sakit ini. Matanya tak sengaja menangkap sosok temannya yang amat ia kenal masuk ke ruangan dokter.
Joviar yakin itu adalah temannya, ia berniat untuk menghampiri dan memastikan penglihatannya tapi sayang, ternyata Arin sudah selesai dengan urusan obatnya.
"Udah nih, ayo pulang, bunda juga udah pesen taksi online tadi. Atau Joviar mau beli apa dulu? Biar sekalian mumpung diluar", tawar Arin.
"Engga bun, pulang aja. Joviar juga udah mulai cape nih", setelah itu keduanya lantas keluar dari rumah sakit untuk pulang.
-------------------------
Disisi lain, seseorang kini tengah berada di ruangan dokter, menunggu dokter itu menjelaskan kondisinya.
"Masih sering sakit? Masih sering mimisan ga? Terus ada gejala lain?", tanya dokter itu.
"Lumayan sih dok, tapi sekarang udah mulai terbiasa kok sama sakit itu, jadi ya bisalah ditahan dikit. Beberapa kali sih mimisan, biasanya pas kepalanya sakit banget. Terapinya berapa kali sih dok? Gabisa ya diganti yang lain? Sakit tau dok tiap abis terapi", dokter yang mendengar itu hanya mengulas senyumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Emergency Calls
Fanfiction- Pelangi memang muncul setelah hujan, tapi tidak setiap hujan memunculkan pelangi - Mereka kira kebahagiaan adalah milik setiap manusia, tapi ternyata kebahagiaan hanya milik kesayangan semesta. Our emergency calls, tempat mereka mencurahkan semua...
