Kini Joviar dan Jenan tengah berada di rumah sakit. Harsa, Satya, dan Arjuna belum selesai ditangani oleh dokter. Tak ada luka yang serius pada mereka, namun tetap saja, luka-luka gores hampir menutup seluruh tubuh mereka. Ditambah luka memar dan luka dari bekas jeratan tali di tangan dan kaki mereka.
Joviar nampak mondar-mandir daritadi. Ia gelisah. Jenan sudah berusaha menenangkannya, namun tetap saja. Rasa panik dan kalut masih terus menghantuinya.
"Bang, udah. Duduk dulu sini. Tenangin diri lo bang", ucap Jenan yang sudah ke sekian kalinya.
"Gue pusing banget bang liat lo mondar-mandir gitu. Duduk dulu ngapa si. Daripada cuma mondar-mandir, mending lo doa deh bang ih", Jenan nampak jengah dengan Joviar.
Tak lama dari itu, dokter selesai memeriksa ketiganya. Ia lantas melangkah, mendekat ke arah dokter itu.
"Gimana dok?", tanyanya.
"Gapapa, gaada luka serius. Cuma ada beberapa yang butuh jahitan karena lukanya yang cukup dalam. Dan luka yang lain itu hanya luka gores kok, bentar lagi juga mereka bangun. Kamu tenang aja, jangan banyak mondar-mandir. Perut kamu nanti sakit lagi", Ya, dokter itu tahu keadaan Joviar, karena ia yang menanganinya dulu.
Setelah itu, dokter meninggalkan mereka berdua, dan tak lama para perawat keluar dengan mendorong brankar milik ketiganya untuk dibawa ke ruang rawat inap. Atas perintah dari El, mereka di pindahkan ke ruangan terbaik, dan dijadikan satu dalam satu ruangan.
Tak lama dari kepindahan mereka bertiga, El datang, ia tadi tak ikut bersama ambulans yang membawa mereka, karena ia harus mengurus Skala lebih dulu.
"Haduuh, maaf ya, kalian jadi ngurusin sendiri. Skala banyak tingkah banget, susah buat dapetin kesaksian dia. Dan kayaknya bakal susah buat ngungkap siapa aja gengnya itu, karena yang om liat, dia udah susah diajak komunikasi sekarang", jelas El yang membuat keduanya bingung.
"Maksudnya om?", tanya Jenan.
"Kalian ga liat dari perlakuannya ke Harsa dan yang lain tadi? Dia bahkan tanpa ragu melukai orang lain, bahkan dia terlihat menikmati perbuatannya itu.
Dan lagi, sejak penangkapan tadi, dia terus-terusan ngomong yang ngga jelas, om rasa kejiwaannya udah terganggu, obsesinya soal balas dendam udah nguasain dirinya. Besok dia bakal diperiksa dulu kejiwaanya. Tapi dari yang dilihat tadi, kayanya dia bakal bungkam soal masalah gengnya itu", Jenan dan Joviar yang mendengar itu lantas membuang napas lelah.
"Hey, jangan gitu dong. Besok kita usaha lagi. Udah cukup buat hari ini, kalian udah nglakuin banyak hal, apresiasi dulu diri kalian, kalian juga butuh istirahat. Jangan terlalu maksa, nanti jatuhnya kaya obsesi", ucap El sambil merangkul keduanya.
Jenan dan Joviar yang mendengar itu hanya mengulas senyumnya.
"Skylar gimana om?", tanyanya yang membuat El nampak lesu.
"Maaf, tapi kita belum dapet kabar apapun. Secepatnya kita bakal urus ini, kalian tenang aja ya. Dan lagi, kasus ini bakal jadi kasus besar, karena ini menyangkut beberapa instansi yang culas", Jenan dan Joviar nampak belum paham soal apa yang El bicarakan.
"Maksudnya om?", tanya Jenan.
"Kamu pasti paham Joviar, banyak polisi yang udah kerjasama sama mereka, right?"
"Iya om, makanya Joviar ga lapor ke kepolisian sekitar sini, karena kata Arjuna ya, beberapa dari mereka itu komplotan para penjahat", tambah Joviar.
"Yap tepat, dan ada satu lagi, yang mungkin bakal bikin kalian kaget. Skala memang seorang psycho, sudah banyak korbannya, ciri khasnya adalah setiap ia selesai menghabisi korbannya, ia akan mengambil salah satu bagian tubuhnya untuk dijadikan aksesoris atau koleksi", ucapan El membuat keduanya kaget.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Emergency Calls
Fanfiction- Pelangi memang muncul setelah hujan, tapi tidak setiap hujan memunculkan pelangi - Mereka kira kebahagiaan adalah milik setiap manusia, tapi ternyata kebahagiaan hanya milik kesayangan semesta. Our emergency calls, tempat mereka mencurahkan semua...
