"Ibu bintang-bintang itu sangat indah. Bisakah kita mengambilnya?" Tanya seorang bocah laki-laki pada ibunya. Wanita itu hanya tersenyum lembut menanggapi anak semata wayangnya.
"Bintang-bintang itu indah karena dia menghiasi langit malam. Jika kau mengambilnya, maka dia tidak akan indah lagi dan langit akan terasa begitu suram" Jelas sang ibu kepada anaknya.
"Ah! Jika begitu, aku berjanji tak akan pernah mengambilnya!" Ucap anak itu sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Ya, Zephan anak yang sangat baik" Anak itu tersenyum riang sambil memeluk sang ibu dengan hangat.
.
.
.
Zephan bersandar di depan jendela dia melihat matahari mulai naik ke atas. Burung-burung berkicau menyambut suasana pagi yang cerah. Seorang pria paruh baya masuk, ia membawa sebuah nampan yang berisi sarapan pagi ini. Mata Zephan terpaku pada segelas air yang berwarna coklat. Tidak biasanya minuman itu dibawakan padanya selama ini. Namun, ia hanya diam dan memilih untuk tak bertanya.
Zephan duduk di kursi yang sudah disediakan. Ia berniat untuk menikmati sarapannya, pria tadi masih ada di sana membuat Zephan menunda terlebih dahulu aktivitasnya.
"Ada apa?" Tanyanya singkat, ia sudah tau bahwa ada yang ingin disampaikan padanya.
"Nyonya meminta izin untuk mengurus pengeluaran bulanan, tuan" Ya, sesuatu yang tak terduga lagi mengawali pagi Zephan.
"Biarkan saja lagi pula itu hanya cara untuk mencari muka saja" Ketus Zephan dengan dingin.
"Beliau sudah menduga anda akan mengatakan itu. Jadi beliau mengatakan bahwa jika beliau berhasil mencatat seluruh pengeluaran bulanan dalam satu hari. Beliau ingin anda menghadiri makan malam bersama nanti" Kini Zephan tertawa remeh, ini benar-benar lelucon yang bagus untuk didengar di pagi hari.
Mustahil pengeluaran bulanan bisa dicatat dengan sempurna dalam sehari. Bahkan yang melakukannya seorang wanita, Zephan saja butuh tiga hari maksimal mengerjakan hal itu.
"Baiklah, akan kutunggu hasilnya" Pria tadi yang dikenal sebagai pelayan pamit undur diri, membiarkan Zephan menikmati sarapannya.
Hal yang pertama ia lakukan adalah meneguk segelas coklat panas. Matanya membulat setelah air itu melewati tenggorokannya. Itu sangat enak, tidak panas lebih tepatnya hangat cocok dinikmati di pagi hari. Itu juga membuat Zephan bernostalgia akan masa kecilnya.
"Ck. Aku harus menaikkan gaji koki"
_______________________
Di ruang kerja Grand Duchess terlihat Pricilla yang sedang bersenandung indah sambil menggoreskan pena di atas kertas. Dia sangat senang akhirnya Zephan menerima permintaannya. Ia dapat menebak bagaimana Zephan meremehkannya saat tau ia mengerjakan tugasnya dalam satu hari.
"Oh Zephanku yang manis. Kau hanya tidak tau bahwa aku sangat ahli di bidang akutansi. Aku bahkan mengonsumsi pelajaran akutansi seperti mengonsumsi makanan pokok sehari-hari." Gumam Pricilla yang sedang melihat laporan-laporan pengeluaran bulanan.
Pricilla dulunya merupakan siswi yang pintar. Dia bahkan sering memenangkan banyak lomba yang cukup sulit. Hari-harinya hanya berkutat dengan buku serta kerja sampingan yang ia lakukan.
"Ah! Apa ini?!" Pricilla menemukan sebuah amplop di bawah dokumen yang bertumpuk-tumpuk.
"Mohon maaf Nyonya. Saya lupa mengatakan bahwa itu undangan tea party yang diadakan oleh putri Marquis Lean. Banyak juga undangan lainnya di sana Nyonya" Jelas Marie. Pricilla tampak mengingat-ingat siapa orang itu.
Ah, dia baru ingat. Nama anak dari Marquis itu Fera Helen Lean. Dia juga merupakan pendukung protagonis, tak lain sahabat Lyli. Sepertinya sudah banyak kabar beredar bahwa Zephan sudah menikah dan mereka penasaran hingga mengundangku untuk menampakkan diri di depan publik.
"Marie, katakan bahwa aku akan hadir dan bawakan gaun-gaun terbaik di kekaisaran!" Pinta Pricilla yang langsung dikerjakan oleh Marie.
"Aku akan menampakkan diri sebagai istri serta gadis yang paling beruntung mendapatkan Grand Duke Seyla. Ah~ Tak sabar menantikan ekspresi adikku yang manis" Pricilla menyeringai ia tak sabar akan rencananya.
Lalu ia kembali fokus dengan tugasnya, harus cepat agar dia bisa berdandan dengan cantik untuk bertemu suaminya yang tampan itu. Tentu saja ia yakin bahwa mulai nanti Zephan akan menaruh perhatian padanya, karena tak ada lelaki yang tak tertarik dengan gadis yang pintar.
.
.
.
Zephan berjalan dengan langkah malas menuju ruang makan. Ia tak percaya gadis itu mampu menyusun laporan itu dengan sangat rapi dan sempurna dalam satu hari saja. Sesuai janji Zephan menghadiri makan malam bersama dengan gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya.
Pintu terbuka, Zephan melangkah masuk saat itu juga Pricilla menyambutnya dengan senyuman yang merekah indah. Ia mengenakan dress berwarna putih malam ini. Zephan menarik kursi lalu duduk begitu pula dengan Pricilla namun, yang sangat disayangkan jarak mereka begitu jauh dengan meja panjang. Dengan posisi berada di ujung.
Tak ada pembicaraan diantara mereka, hanya terdengar bunyi garpu dan pisau di atas piring. Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai, inilah saat Pricilla akan melancarkan aksinya sebelum Zephan pergi.
"Suamiku, bolehkah aku membeli beberapa gaun untuk pergi ke undangan dari Marquis?" Tanya Pricilla dengan penuh sopan santun.
"Bukankah kau sudah membelinya? Kau nyonya rumah sekarang terserah saja kau mau melakukan apa. Tak perlu melaporkan kegiatanmu padaku" Ucap Zephan dengan nada dingin namun Pricilla hanya tersenyum manis.
"Terima kasih suamiku. Ah, bagaimana pekerjaan ku bagus bukan?" Pricilla membahas laporan yang ia kerjakan. Zephan memutar bola mata malas.
"Ya. Itu sangat baik. Jika tak ada yang ingin kau sampaikan lagi aku akan pergi" Zephan berdiri lalu melangkah pergi.
"Selamat malam suamiku" Pricilla tersenyum manis meski Zephan tak berbalik untuk melihatnya.
Saat ini Pricilla sudah cukup puas. Ia akan berusaha lagi agar mereka dapat menghabiskan waktu bersama lagi. Ini sebuah langkah awal yang sangat baik. Pricilla akan mulai menjalankan rencananya satu persatu. Ia pastikan tak ada yang dapat mengganggu hal itu.
To Be Continued
Kok begong? Scroll lagi kan Boom Up :D
KAMU SEDANG MEMBACA
Male Lead Itu Milikku
RomanceStatus : End Male Lead itu hidupku, satu-satunya yang dapat membuat ku bertahan di dunia yang memuakkan ini. Jika dia mati maka apalagi yang harus membuat ku bertahan? Ku kira aku mati, ternyata takdir mengizinkan ku untuk tinggal di dunianya. "Gran...
