Langkah yang putus asa terdengar, suasana hutan terasa mencekam. Ini masih pagi tapi suasana seolah malam. Banyak siulan burung yang terdengar menyedihkan menyambut langkah gadis itu. Dengan tubuh mungilnya, dia menopang seorang pria yang tak bernyawa namun itu tidak berat baginya, bahkan tak ada hal berat di dunia ini kecuali kehilangan cintanya.
Saat dia masuk ke hutan lebih dalam cahaya dari sebuah tempat di hutan itu mulai terpancar. Seakan matahari hanya menerangi satu-satunya tempat itu. Langkahnya terhenti di bawah sebuah pohon besar yang menjatuhkan butiran cahaya lembut. Dia membaringkan tubuh pria itu bersandar ke batang pohon.
"Ku kira kau tak akan pernah kembali lagi ke sini, Lucya" Lucya langsung berbalik melihat singa besar di hadapannya yang memancarkan cahaya keemasan.
Kerinduan bercampur kesedihan, dia berlari dan memeluknya tubuh berbulu besar itu. Lucya menangis penuh kesakitan, Singa itu mengelus kepalanya dengan salah satu kaki depannya.
"Kau sangat rapuh, Lucya... Aku sudah melarang mu untuk jatuh cinta pada manusia. Dan lihat kamu mendapatkan luka besar di hidupmu..." Suara singa itu penuh pilu dan luka.
"Leo... Ku mohon... Hidupkan kembali Zeno ku... Aku akan melakukan apapun! Aku janji! Jika kamu bisa menghidupkan Zeno kembali aku akan kembali lagi ke hutan dan kami akan tinggal di sini selamanya" pekik Lucya dengan air mata mengalir dan mata keemasannya penuh keputusasaan.
Leo, makhluk suci yang menjaga hutan peri sekaligus teman sejati Lucya yang selalu menjaganya. Dia sangat marah saat Lucya jatuh cinta pada manusia dan pergi dari hutan tanpa mengindahkan perkataannya.
"Lucya, tak ada yang bisa menghidupkan manusia yang telah mati bahkan makhluk suci sekali pun" jawab Leo membuat lutut Lucya lemas dan dia terduduk di atas rumput halus itu.
"Kau tau, manusia bukan makhluk abadi seperti kita. Mereka punya ikatan kehidupan, jika ikatan itu terputus tak ada yang bisa dilakukan oleh siapapun dan apapun itu. Kau harus belajar menerimanya dan tinggallah di sini lagi." Sambung Leo yang prihatin. Lucya langsung menggeleng dengan cepat.
"Tidak! Aku pasti akan menemukan cara agar Zeno ku hidup kembali dan kami akan bersama selamanya!" Teriak Lucya yang tak bisa lagi berpikir jernih. Leo hanya menggelengkan kepalanya.
"Jiwa murni mu sudah ternodai, aku melihat banyak kebencian yang memenuhi jiwa mu. Bahkan kau sudah membunuh manusia. Sadarlah, Lucya! Kau seorang peri, kau tak bisa hidup berdampingan dengan manusia. Mereka makhluk lemah dan penuh dengan intrik tipu daya" tegas Leo membuat mata Lucya membulat karena perkataan Leo benar. Selama dia hidup bersama Zeno, dia sudah melihat banyak sifat manusia yang membuat nya jijik. Bahkan mereka juga yang merebut Zeno darinya.
"Kau benar. Aku sudah bukan lagi peri yang murni dan suci. Biarlah, aku akan melakukan apapun demi menghidupkan cinta ku lagi dan kami akan bersama lagi" Lucya menghampiri tubuh Zeno yang tak bernyawa dan memeluknya.
Leo tak bisa mengatakan apapun, dia selalu kalah akan kekerasan kepala gadis itu. Dia hanya berharap Lucya tak membuat dunia kacau. Lagipula Leo tak bisa meninggalkan hutan karena takdir nya dan dia akan membiarkan Lucya menghadapi takdirnya sendiri. Leo yakin bahwa takdir gadis itu akan baik karena dia seorang peri yang diberkahi.
"Lucya, aku sudah memperingatkan mu lagi. Jika kau sudah hancur bahkan berantakan, pulanglah. Karena di sini rumah mu. Kami selalu menunggu mu selamanya" Leo tersenyum dan mencium kepala gadis itu dengan lembut.
Lalu karena tak ada jalan keluar dari semua ini, Lucya pasrah akan takdir. Namun, dia tak hanya diam. Dia kembali ke istana meski suasana sedang tidak baik dan mulai memimpin pasukan lalu mendapatkan kepercayaan dengan segala cara.
Waktu kian berlalu, Lucya meneruskan perjuangan Zeno untuk membangun sebuah kekaisaran dengan menundukkan berbagai kerajaan. Dia dibantu oleh adik Zeno, Reno. Dia seorang panglima perang yang sangat hebat dan orang kepercayaan Zeno.
Akhirnya setelah perjuangan panjang, Lucya berhasil mendirikan Kekaisaran Wero. Tapi dia tak senang akan hal itu. Dia juga banyak memberikan anugerah dan penghargaan pada orang-orang yang sudah membantunya. Salah satu yang mendapatkan anugerah kekuatan penyembuhannya adalah Viola Granet. Karena dia seorang gadis yang membantu Lucya di masa-masa sulitnya, membuat Viola dan keluarga Granet sangat dihormati.
Lucya yang tak puas dan tak pernah tersenyum. Memberikan semua tugas kaisar pada Reno serta tahtanya yang tak sanggup dia tanggung. Lucya hanya menghabiskan waktu di ruangan istimewa nya bersama tubuh Zeno yang terus dia awetkan di sana. Hingga makhluk itu tiba.
Seekor rubah yang memancarkan cahaya putih seperti cahaya bulan. Dia mengatakan bisa menghidupkan Zeno kembali, membuat secercah harapan bersinar di mata keemasan itu lagi.
"Katakan, apa yang harus kulakukan? Aku akan melakukan apapun" ucap Lucya yang bersemangat.
"Berikan inti mu padaku" jawab rubah itu singkat.
Seorang peri tak punya jantung melainkan inti dari kehidupan mereka. Saat inti itu meredup atau hancur maka mereka akan menghilang menjadi debu. Berbeda dengan Lucya yang merupakan ibu dari para peri, intinya tidak akan redup ataupun bisa hancur. Namun jika dia dengan sengaja mengeluarkan inti itu dari tubuhnya dia akan menghilang.
"Kau gila! Tidak mungkin! Aku tidak mau! Kau rubah penipu!" Tolaknya keras dan memasang ekspresi tak suka.
"Tenang, kau tidak akan menghilang. Karena aku akan membuat mu bereinkarnasi, dan lelaki yang kau cinta itu tak langsung hidup. Aku akan memasukkan inti itu ke tubuhnya yang kosong, dia akan hidup kembali saat reinkarnasi mu sudah berhasil. Aku pastikan saat itu, kalian akan saling mengingat dan bertemu kembali." Jelasnya membuat Lucya tercengang. Dia tau bahwa rubah itu bukan rubah biasa dan pasti dia makhluk suci yang memiliki kekuatan istimewa.
"Lagipula, apakah kau mau terus hidup sepanjang zaman tanpa pria itu?" Sambung rubah itu membuat pikiran kalut Lucya hilang. Hatinya sakit saat membayangkan dia terus hidup tanpa Zeno di sampingnya dan dia terus terbayang dirinya.
Lalu satu pikiran terlintas di kepalanya, jika pun ini tak dapat berhasil atau dia ditipu. Setidaknya Lucya bisa mati dengan tenang tanpa berpikir apapun lagi.
"Baiklah. Aku setuju"
Flashback end.
Air mata Pricilla mengalir deras, hatinya sakit dan nafasnya sesak setelah mengingat semua itu dengan jelas. Kesadarannya kabur, dia tak tau sekarang siapa dirinya.
"Zeno... Zeno ku..." lirihnya tak berdaya. Momen saat lelaki itu mati dihadapannya menimbulkan rasa sakit yang mendalam ku. Perasaan bersalah menghantuinya.
Zeno yang melihat itu refleks memeluk Pricilla erat membiarkan wanita itu terisak di pelukannya hingga kesadaran Pricilla menghilang dengan wajah sembab dan penuh air mata. Zeno mengusap rambutnya dan mencium keningnya.
Brak!
Pintu terbuka dan suara pedang mengacung ke arah lehernya membuat mata merah Zeno menyala penuh kebencian.
"Hari ini. Aku pastikan, akan membunuhmu karena telah menyentuh wanitaku, keparat!"
To be continued
Hallo guys aku update nih
Alhamdulillah UAS ku selesai dan aku usahakan update terus
Dan boleh gak sih kalian follow akun Instagram sama akun WP ku ini
Aku pengen berinteraksi dengan kalian juga biar aku tau gimana yang kalian mau okey🥲
Jangan lupa vote and komen
By istri Matthias 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
Male Lead Itu Milikku
RomantizmStatus : End Male Lead itu hidupku, satu-satunya yang dapat membuat ku bertahan di dunia yang memuakkan ini. Jika dia mati maka apalagi yang harus membuat ku bertahan? Ku kira aku mati, ternyata takdir mengizinkan ku untuk tinggal di dunianya. "Gran...
