Awan menghitam, dan langit bergemuruh membuat Zephan mempercepat kudanya ke mansion. Untunglah mereka tiba sebelum hujan turun. Jorge dan Marie segera menghampiri mereka berdua.
"Perjalanan hari ini sangat menyenangkan, suamiku~" ceria Pricilla dengan mata emasnya berbinar.
"Semua akan terasa menyenangkan, jika bersama mu, istriku~" Zephan menurunkan Pricilla dengan hati-hati dan memeluknya. Namun Pricilla kebingungan saat Zephan malah terus menggendongnya menuju mansion.
Saat tak sengaja melihat ke arah gerbang, Pricilla melihat keributan. Lalu penjaga melaporkan bahwa ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan ku tapi Zephan langsung mengatakan untuk mengusirnya tanpa memikirkan apapun.
"Zephan, tidak! Setidaknya aku harus melihat siapa wanita itu, mungkin dia membutuhkan pertolongan ku" tegas Pricilla membuat Zephan menghela nafasnya.
"Baiklah. Tapi jika dia mengatakan omong kosong, aku akan mengusirnya" Pricilla langsung mengangguk dan hujan mulai turun rintik-rintik.
Zephan dengan cepat berlari sambil menggendong Pricilla menuju ke dalam mansion. Itu membuat Pricilla geli dan terkekeh kecil. Saat tiba di dalam, Zephan berjalan menuju ke kamar mereka namun tiba-tiba seorang wanita yang berpakaian compang-camping berlari menghalangi mereka dengan balita di gendongannya.
"Sial! Mengapa kau berani menyusup dan menghalangi jalanku?!" Marah Zephan dengan mata merah menyala membuat wanita itu gemetar.
"Saya mohon,maafkan saya, Grand Duke. Tapi saya tidak punya banyak waktu, anak saya memiliki penyakit yang tak bisa disembuhkan oleh siapapun... Saya mohon kemurahan hati sang peri untuk menyembuhkannya" air mata wanita itu mengalir dan terduduk lemas di lantai sambil memangku balitanya yang sudah lemas.
Hati Pricilla terenyuh, dia seperti sedang melihat dirinya saat kecil dulu, dimana ibunya hancur karena dia tak sadarkan diri. Sebelum Zephan sempat menolak, Pricilla langsung menggeleng lalu meminta Zephan menurunkannya.
Alasan mengapa Zephan ingin menolak bukan karena dia sombong sebagai bangsawan dan tak ingin menolong rakyatnya, tapi karena dia tau biasanya setelah keturunan peri menyembuhkan seseorang dengan kekuatan tenaga mereka akan terkuras dan mereka akan lemas untuk beberapa hari.
"Suamiku, aku ratu peri, bukan keturunan peri atau apapun itu. Jangan remehkan aku mmm~" Pricilla berusaha untuk memberikan penjelasan selembut mungkin pada Zephan.
"Baiklah, namun jika terjadi sesuatu kamu harus berhenti. Berjanjilah, Pricilla"
"Aku berjanji~" Pricilla mencium pipi Zephan, lalu lelaki itu menurunkannya.
Pricilla segera menghampiri wanita itu, tangannya gemetar karena sudah menunggu dari tadi diluar gerbang yang dingin membuat Pricilla berkaca-kaca.
"Semua akan baik-baik saja~ Siapa namanya?" Tanya Pricilla melirik gadis mungil itu. Dia menderita penyakit kulit yang mengerikan dan sulit untuk disembuhkan oleh dokter manapun. Jika meminum obat yang bagus itu hanya meredakan rasa sakit sementara, lagi pula wanita itu tak mungkin punya unag sebanyak itu untuk membeli obat itu terus menerus.
"Alexa~"jawab singkat wanita itu, melihat anaknya yang terengah-engah dan kesakitan.
Pricilla mengangguk dan tersenyum lembut lalu mengulurkan tangan menyentuh dahi Alexa. Perlahan tubuhnya bersinar oleh cahaya putih yang perlahan semakin bersinar hingga silau. Mata emas Pricilla bersinar terang dan telinganya meruncing.
Mata Zephan membulat, jantungnya berdetak kencang. Seakan dia sedang melihat perlahan wanita itu mulai menghilang menjadi cahaya. Naluri posesifnya muncul, dia ingin menghentikan Pricilla lalu mendekapnya erat sambil memohon untuk tetap tinggal bersamanya. Tapi dia tau, itu hanya ilusinya. Dia akan mencoba percaya pada Istrinya, Wanitanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Male Lead Itu Milikku
RomanceStatus : End Male Lead itu hidupku, satu-satunya yang dapat membuat ku bertahan di dunia yang memuakkan ini. Jika dia mati maka apalagi yang harus membuat ku bertahan? Ku kira aku mati, ternyata takdir mengizinkan ku untuk tinggal di dunianya. "Gran...
