Chapter 49

4.2K 367 1
                                        

Suara tapak kuda berpacu cepat di dalam hutan yang diselimuti kabut. Rasanya menyesakkan hingga sulit untuk melanjutkan perjalanan ke depan, apalagi suara gagak yang mengiringi sepanjang jalan seolah menyuruh lelaki berambut hitam itu untuk kembali.

Itu terasa familiar, dia pernah kemari melalui hal ini. Dan ini tak seberapa buruk daripada kehilangan wanita yang dia cintai. Adrenalinnya meningkat seiring dengan kegelapan yang semakin nampak. Langkah kuda berhenti di depan sebuah pohon besar karena tak bisa melanjutkan perjalanan untuk ke depan lagi.

"Kerja bagus, terima kasih telah mengantar ku sampai di sini. Tunggu lah sebentar, aku akan membawa Nyonya mu kembali~" Laki-laki itu lalu turun dari kuda dan mengikat talinya di batang pohon itu.

Dia segera melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri kegelapan hutan. Seingatnya pertama kali dia kemari saat dia hampir mati karena dikejar oleh pembunuh bayaran. Itu juga mempertemukannya dengan malaikatnya.

Semakin dalam dia masuk semakin gelap hutan. Zephan tau hal ini terjadi, maka dari itu dia membawa obor lalu menghidupkannya. Langkahnya berlanjut hingga perasaannya tidak enak, dia melihat cahaya emas yang terang di dalam kegelapan dan suara erangan serigala.

"Sial!" Rutuknya dengan satu tangan mengeluarkan pedang dan satu tangan lagi memegang obor agar tetap menyala.

Serigala bermata emas itu perlahan menunjukkan dirinya, dan itu berjumlah lima ekor yang siap menyerang Zephan. Namun itu tak membuatnya takut, di Medan perang lebih mengerikan daripada ini, walaupun dia tau bahwa mereka bukanlah serigala biasa. Pertarungan dimulai saat salah satu serigala itu melolong.

Di tempat lain, wanita itu terkejut mendengar lolongan serigala, pertanda bahwa ada seseorang yang mencoba memasuki hutan peri. Raut wajahnya langsung khawatir dan jantungnya berdetak kencang.

"Apa itu Alexia?!" Dia ketakutan.

"Tidak. Rubah itu tidak gila mencoba menerobos hutan peri meski dia memiliki inti peri" Jawab Leo sambil menggoyangkan ekornya membuat Pricilla bernafas lega.

Pricilla sudah menceritakan semuanya pada Leo tentang bagaimana kematiannya dulu dan semua yang terjadi sampai dia bertemu Zephan. Leo cukup tau sebagian karena pohon Suci. Meski tau tentang apa yang sudah terjadi tak ada yang bisa dilakukan olehnya, itu adalah kehendak alam, tak ada siapapun yang bisa menentang atau mengubahnya. Leo cukup prihatin dengan kehidupan yang di jalani Pricilla tapi di satu sisi dia bangga wanita itu bisa melewati semua hal itu.

Leo hanya mendengarkan cerita Pricilla dengan tenang, dia tau beberapa hal, dia hanya diam tak memberitahu wanita itu agar dia mendapatkan jawabannya sendiri. Mata Leo kadang berbinar melihat perut Pricilla bercahaya tanpa wanita itu sadari.

"Jadi, kau masih marah dengan Zephan?" Pertanyaan dari Leo hanya membuat Pricilla menghela nafas panjang. Dia tau bahwa ini hanya kesalahpahaman.

"Aku seharusnya lebih percaya padanya. Ini gara-gara pikiran ku kalut, aku punya sedikit ketakutan dan kekhawatiran sebab kehidupan kedua ku. Padahal aku sudah berjanji untuk terus percaya padanya..." Mata Pricilla berkaca-kaca, mengapa dia begitu tidak sabaran untuk mendengarkan penjelasan dari Zephan lalu memilih pergi. Dia sangat menyesal sekarang.

Pricilla memeluk lutut dan membenamkan wajahnya di sana. Dia terus dilanda penyesalan yang mendalam, semua pertanyaan di dalam kepalanya hanya mengarah pada dirinya sendiri. Membuat semua hewan-hewan di sekitarnya tampak bersedih juga.

Tiba-tiba angin hangat menerpa rambut putihnya yang menjuntai membuat Pricilla mendongak. Jantungnya berdetak kencang saat dia mengalihkan pandangannya ke arah angin yang berhembus. Mata emasnya melebar melihat sosok yang menuju ke arahnya dengan wajah lelah dan frustasi.

Wajah itu, wajah yang sangat Pricilla rindukan. Wajah yang menjadi penyemangat hidupnya, dia tersenyum manis dengan air mata mengalir lalu berdiri dan berlari ke pelukan lelaki itu.

"Zephan!" Pricilla berhasil memeluk erat tubuh Zephan.

"Pricilla ku~" Zephan mencium pucuk kepala wanita itu dengan rasa penuh syukur, tangannya melingkar erat di pinggang kecil istrinya.

Tak ada kata-kata yang mampu menyiratkan kerinduan mereka bagaikan sudah tak bertemu sekian abad lamanya. Hanya pelukan hangat yang mampu menjelaskan bagaimana mereka saling mencintai satu sama lain. Saat merasa sudah cukup, Zephan melepaskan pelukannya untuk melihat wajah wanitanya setelah sekian lama. Tidak ada yang berubah malah semakin cantik saja.

"Maafkan aku sudah membuat mu menangis dan pergi dariku, Pricilla..." Ucap Zephan dengan tulus.

"Aku sudah memaafkan mu karena memeluk gadis lain. Dan aku juga ingin minta maaf karena tidak mendengarkan penjelasanmu lalu pergi dengan laki-laki lain" air mata Pricilla masih mengalir di pipinya. Zephan mengusapnya dengan jempol lalu mencium kening wanita itu.

"Kau tidak tau, aku hampir gila karena mencari mu di seluruh penjuru." Mata merah Zephan berkaca-kaca karena ketulusan dan kerentanan.

"Sekarang aku berjanji, tidak akan pernah pergi darimu, Zephan~ aku akan selalu percaya padamu~" Pricilla berjinjit lalu melingkarkan tangan di leher Zephan lalu mencium bibir Zephan.

Lelaki itu membalas ciuman penuh kasih sayang itu dan kembali memeluk erat tubuhnya. Ciuman itu terputus membuat mereka berdua terengah-engah. Mata mereka bertemu satu sama lain.

"Aku merindukan mu, Lucya ku~" bisik Zephan.

Jantung Pricilla berdetak kencang dan mata emasnya melebar. Nada rendah yang sangat dia ingat, pandangan mata merah yang familiar. Otaknya tidak dapat memikirkan apapun kecuali lelaki itu.

"Zeno..." Lirihnya dengan suara gemetar.

"Ya sayang..." Jawab Zephan lembut.

"Tidak mungkin..." Lutut Pricilla lemas membuatnya terduduk di atas rumput lembut itu.

Pricilla tak percaya hanya dengan mendengar kata-kata itu, dia bisa merasakan bahwa di depannya adalah Zeno yang sebenarnya. Dan dia bereinkarnasi menjadi lelaki yang dia cintai selama ini, Zephan. Jika ada yang bertanya mengapa dia langsung percaya, itu karena dia merasakan ikatan yang kuat sekarang dengan Zephan.

Angin berhembus dengan lembut membuat kelopak bunga-bunga berterbangan dengan indahnya. Burung-burung berkicau bahagia, butiran cahaya jatuh mengelilingi mereka berdua. Pricilla menatap dalam mata merah itu, sejenak bayangan lelaki di masa lalu itu muncul dan tersenyum padanya.

Zenonya, cintanya, yang sedari dulu dia cintai kini menjadi sosok lelaki yang juga dia cintai dan dia perjuangkan. Seakan memang mereka pasangan yang benar digariskan oleh takdir. Tidak salah lagi.

"Kau takdir ku, Zephan..."

"Dan Kau takdir ku, Pricilla..."

"Dan takdir ini memberikan kita anugerah di dalam sini, Zephan..." Pricilla menyentuh perutnya, sontak mata Zephan melebar.

Jantungnya berdetak kencang, akhirnya dia tau apa maksud bintang yang sudah mereka tunggu. Itu adalah seorang bayi yang akan menyempurnakan hidup mereka, di masa lalu mereka tidak bisa memilikinya, dan takdir mengizinkan mereka memilikinya di masa depan ini.

Zephan berlutut lalu memeluk Pricilla erat. "Terima kasih... Terima kasih... Aku mencintaimu..."

To be continued

Male Lead Itu MilikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang