"Tidak! Ini mustahil!" Ucap Tetua yang baru saja saja melihat Pricilla.
Zephan membawa Tetua ke kediamannya diam-diam seperti kesepakatan mereka. Saat ini Tetua memakai tudung hitam yang tak ada seorang pun bisa mengenalnya.
"Ada apa Tetua?" Khawatir Zephan melihat reaksi dari Tetua.
"Tunggu dan kau akan melihat hal menakjubkan sebentar lagi" ucap Tetua lalu beliau membacakan sebuah mantra.
Zephan menunggu dengan seksama dan ritual itu berlangsung cukup lama. Tetua bahkan terlihat kelelahan dan mantra yang dibaca belum terputus. Ada suatu aura yang kuat berasal dari pria paruh baya itu. Zephan menggenggam tangan istrinya yang mulai menghangat. Secerah harapan timbul di benaknya.
"Pricilla..." Panggilnya berharap gadis itu mendengarnya.
Tubuh Pricilla semakin hangat dan Zephan merasakan aura yang besar dari tubuhnya.
"Pricilla..." Serunya lagi dan tak terasa air matanya menetes. Sebuah perasaan hangat timbul pada dirinya. Ia mencium tangan Pricilla.
Mata Zephan membulat saat sebuah cahaya yang sangat terang muncul, ia menutup matanya.
DREP!
Begitu Mata Zephan terbuka dan ia melihat sosok gadis yang terbaring tadi kini memeluknya erat.
"Aku pulang Zephan" Suara lembut itu kembali terdengar di telinganya. Suara yang begitu ia rindukan, yang mampu membuat hatinya meleleh sekarang.
"Selamat datang, istriku" Ia mengelus rambut putih yang selembut sutra itu. Perlahan Zephan menarik diri dan melihat wajah gadis itu. Ia nampak lebih cantik dan segar sekarang, dengan mata keemasan yang seterang mentari.
Kerinduan berat dan seakan tak bertemu setelah sekian lama, membuat Zephan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir pink itu dengan lembut. Pricilla, terkejut namun tak ada penolakan, ia mengalungkan tangannya di leher Zephan. Membiarkan ciuman mereka semakin dalam.
"Ekhem" Suara itu dengan cepat menyadarkan Zephan dan mendorong Pricilla lembut. Ia lupa bahwa masih ada Tetua di sini, wajahnya bersemu merah.
Pricilla menoleh dan melihat Tetua menatapnya lembut lalu membungkuk padanya.
"Hormat saya kepada Ibu dari para peri, Lucya Ardea"
"Eh?!" Kejut Pricilla. Dia juga sepertinya pernah mendengar nama itu tapi ia tak bisa mengingatnya.
"Zephan, apa yang terjadi?" Sambung Pricilla meminta penjelasan.
"Ini Tetua, Pricilla. Beliau adalah orang yang paling tau tentang peri dan beliau juga yang berhasil membangunkan mu" Mata Pricilla membulat, ia berusaha untuk mencerna keadaan.
"Tidak apa. Anda akan mengingat semuanya saat waktunya tiba. Jika begitu saya pamit dulu" Tetua undur diri di temani oleh Zephan karena dia sangat berhutang budi padanya.
Pricilla mencoba memahami apa yang terjadi. Aneh, ia tidak ingat apapun tentang kejadian sebelumnya. Ia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah cermin yang besar.
"Ini! Aku?!" Kejutnya sambil menganga tak percaya. Ia mencubit pipinya dan itu sakit, berarti ini bukanlah mimpi.
Sekarang penampilannya benar-benar mirip seorang peri dari negeri dongeng. Dan warna matanya berubah. Apakah ini sebabnya sikap Zephan mulai berubah ya? Hingga dia mau mencium Pricilla.
"Eh!" Wajah Pricilla memerah menyadari bahwa dia baru melakukan first kiss dengan suaminya.
BRAK!
Benar, Pricilla pingsan di tempat. Jantungnya tak bisa terkendalikan lagi, ia bersumpah jika memang ini ajalnya, ia akan mati dengan tenang.
Di saat bersamaan Zephan yang baru saja membuka begitu kamar, langsung terlonjak kaget.
"Istriku!!!"
___________________________
Ruang berwarna putih,gadis itu mengedarkan pandangannya. Tak ada siapapun selain dirinya di sana. Ia mencoba berdiri dari duduknya namun tidak bisa, ada suatu yang menahan kakinya tapi itu tak terlihat. Lyli tiba-tiba ketakutan, ada hawa yang tak mengenakan muncul di sekitarnya.
"Hallo anak kesayangan Duke~" Lyli segera menoleh dan dia melihat sosok gadis yang wajahnya tertutupi tudung putih. Namun, Lyli masih nampak melihat rambut putihnya yang sangat panjang melewati pinggangnya.
"Si-siapa?!" Tanya Lyli ketakutan, ia merasa nafasnya tercekat. Gadis itu terkekeh, membuat Lyli semakin merinding.
"Bagaimana rasanya berada di atas awan selama ini hmm? Di sayang oleh seluruh orang di kekaisaran. Pasti sangat menyenangkan bukan?" Tampak seringai dari wajah itu, karena tudung hanya menutupi setengah wajahnya. Lyli terdiam membisu, ia mematung.
"Kau merasa hidupmu sangat damai setelah menjadi Putri Duke, hingga lupa jati dirimu yang sebenarnya ya~" sambungnya. Lalu tiba-tiba ia menghilang di depan gadis itu.
"Jangan lupa bahwa kau hanya wadah sementara, Lyli"
DEG!
Lyli membuka matanya, keringat bercucuran. Ia melihat sekeliling, ternyata ia hanya bermimpi. Tapi saat ini ia masih merasakan ketakutan itu dalam dirinya. Setiap kata-kata gadis itu, itu sangat membekas di kepalanya.
"Apa maksudnya sementara?"
______________________
"Zephan... Maaf telah membuatmu panik" Ucap Pricilla yang baru saja bangun dari pingsannya. Zephan hanya bisa menghela nafas panjang, ia sangat takut Pricilla tidak sadarkan diri lagi.
"Tubuhmu masih belum stabil" Zephan membelai wajah Pricilla, dan tentu saja gadis itu tersipu. Ia memegang tangan Zephan yang mengelusnya lalu menciumnya.
"Kenapa sekarang kamu seperti sangat mencintaiku?" Tanya Pricilla serius, ia mau mengkonfirmasi perasaan Zephan padanya.
Zephan terdiam sesaat, ia sedang mencari kata-kata yang tepat. Ia sudah berjanji untuk menyatakan perasaannya pada Pricilla begitu ia bangun.
"Ya... Memang begitulah keadaannya" Zephan mencium pucuk kepala Pricilla dengan lembut dan penuh kasih.
Pricilla mematung, ia tak percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya. Tanpa sadar air matanya mengalir, itu bukan rasa sakit tapi kebahagiaan.
"Kenapa? Apakah ada yang sakit?" Khawatir Zephan. Pricilla langsung menggeleng cepat lalu memeluk Zephan erat.
"Terima kasih... Aku sudah lama menunggu hari ini datang..." Lirih Pricilla di telinga Zephan. Lelaki itu mengusap punggung Pricilla lembut, ini tidak pernah ia lakukan dan tubuhnya bergerak dengan sendirinya.
"Maaf... Membuatmu menunggu lama dan merasakan sakit. Aku berjanji untuk seterusnya akan menjadi suami yang baik, dan aku akan membuatmu menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini. Aku bersumpah" Pricilla yang mendengar hal itu semakin menangis, itu sungguh membuat perasaannya luluh seketika.
Itu adalah kalimat yang sudah ia cari setelah sekian lama. Bahkan di kehidupan sebelumnya sekalipun. Ini makin meyakinkan Pricilla bahwa dia benar-benar telah jatuh hati kepada lelaki berambut hitam pekat itu.
"Aku mencintaimu..." Ucap Pricilla di sela tangisannya. Zephan menarik diri, lalu menatap Pricilla dengan seksama. Ia menyeka lembut air mata yang turun dari mata keemasan itu.
"Aku juga mencintaimu, Pricilla..."
To Be Continued
Happy 7k guys terimakasih 😭
Maaf baru sempat update
Ah di chapter kali ini saya yang nulis tapi saya juga yang baper
Kalo kalian gimana? Tinggalkan kesan kalian di komen guys
Jangan lupa vote juga ya
Paypay!
KAMU SEDANG MEMBACA
Male Lead Itu Milikku
RomantikStatus : End Male Lead itu hidupku, satu-satunya yang dapat membuat ku bertahan di dunia yang memuakkan ini. Jika dia mati maka apalagi yang harus membuat ku bertahan? Ku kira aku mati, ternyata takdir mengizinkan ku untuk tinggal di dunianya. "Gran...
