Sudah beberapa hari Pricilla mengurung diri di kamar setelah pulang dari kastil. Tinggal tiga hari lagi ritual ulang akan segera diadakan namun perasaannya semakin tak karuan. Pasalnya ia semakin tidak tau siapa dirinya saat ini, semua tampak kacau di kepalanya. Bahkan ia tak sadar bahwa Zephan sudah berada di sampingnya.
Zephan yang menyadari tingkah aneh istrinya, menepuk pundak wanita itu. Membuat Pricilla menoleh lalu tersenyum ke arahnya.
"Zephan, sejak kapan kau di sini? Maaf sepertinya banyak hal yang sedang kupikirkan hingga tak menyadari kehadiran mu" Zephan mengelus kepalanya.
"Tidak apa-apa, jangan memaksakan dirimu. Ingat aku selalu ada bersamamu. Mau kau siapapun, kau tetaplah istriku~" Senyum Zephan yang selalu dapat memberikan ketenangan untuk Pricilla. Ia memeluk suaminya erat, rasanya sangat bahagia dicintai seperti ini.
"Ah~Aku ingin bertanya. Bagaimana jika kita mengadakan resepsi pernikahan dalam waktu dekat ini hmm?" Mata Pricilla membulat mendengarnya.
"Tapi kita sudah menikah, apakah tidak apa-apa untuk mengadakan resepsi?"
"Tentu saja tidak apa. Aku tau ini kesempatan yang berharga. Maafkan sikap burukku yang dulu, aku akan memperlakukan mu lebih baik sekarang. Termasuk pernikahan, tak ada gadis yang tak memimpikan memakai gaun pernikahannya" jelas Zephan lembut, mata Pricilla berbinar-binar. Rasanya sekarang perasaan mereka saling terhubung. Zephan tau apapun yang diinginkan oleh Pricilla.
"Aku... Tentu saja aku mau. Aku ingin memakai gaun yang paling indah di kekaisaran ini, karena aku adalah pengantin yang paling bahagia" Riang Pricilla sambil memeluk Zephan.
"Sepertinya akan lebih indah jika kau memakai mahkota yang kau berikan waktu itu" Zephan membicarakan mahkota ratu pertama yang Pricilla berikan sebagai jaminan kontraknya.
Zephan lalu pergi sebentar untuk mengambil benda itu, tak lama kemudian dia kembali bersama kotak yang terbuat dari perak.
"Sungguh? Inikan harta langka..." Ucap Pricilla tak percaya begitu Zephan mengeluarkan mahkota itu.
"Awalnya, ini merupakan hal yang ibuku inginkan. Tapi sekarang ini menjadi milikmu" Zephan memakaikan mahkota itu ke kepala Pricilla dan begitu dia berdiri sempurna di atas kepalanya.
Jantung Pricilla berdetak kencang, angin berhembus kencang, tatapannya kosong. Ia seakan di bawa ke dunia lain sekarang.
.
.
.
"Wah! Ibu ini sangat cantik. Aku suka ini!" Senang gadis kecil berambut putih dengan mahkota besar di kepalanya. Ia menatap dirinya di pantulan kaca bersamaan pantulan sang ibu.
"Tentu. Itu milikmu sayang~ lihatlah. Rambut putih mu sangat cantik dengan mahkota itu. Kau peri kesayangan ibu" Wanita itu mengecup lembut pipi putri kecilnya.
"Pricilla~ ingatlah kamu istimewa dari keturunan Granet yang lain. Rambut putih dan mata keemasan, benar-benar seperti sosok Ratu Peri~" Gadis kecil itu tersenyum riang mendengar hal itu.
"Wah! Ratu peri! Apakah itu benar ibu?"
"Tentu saja~ karena Ratu Peri itu selalu muncul di mimpi ibu. Dia mengatakan, Pricilla akan menjadi gadis luar biasa dan dia berterima kasih kepada ibu karena telah melahirkan mu ke dunia" Gadis itu begitu senang dan memeluk ibunya.
"Aku sayang ibu!"
.
.
.
"Pricilla! Pricilla!" Pricilla tersadar saat Zephan mengguncang tubuhnya pelan. Ia melihat raut wajah panik suaminya. Air mata Pricilla menetes seketika. Zephan langsung memeluknya erat.
"Ada apa Istriku? Apa yang terjadi padamu?"Tanya Zephan lalu menurunkan mahkota itu dari kepala Pricilla.
"Zephan... Aku ingat! Suatu ingatan yang aku lupakan..." Ucap Pricilla disela tangisannya.
Ingatan waktu ia masih anak-anak masuk ke kepalanya. Bahkan bukan hanya itu, ia tau apa yang sebenarnya terjadi saat itu secara mendetail. Itu membuat kilatan amarah dalam diri Pricilla menyala, dia tidak akan memaafkan mereka. Tidak akan!
_____________________
Lyli berjalan di altar dengan David yang masih setia mendampinginya. Malam ini mengenakan gaun putih sutra membuatnya bersinar di bawah sinar purnama. Ia tampak sangat percaya diri tak ada keraguan meski banyak mata yang memandangi tak suka.
"Lyli~ tenanglah. Aku selalu ada bersama mu, aku percaya padamu" Lyli tersenyum dan mengangguk. Ia sungguh beruntung memiliki David di sampingnya.
Lyli tiba di depan Tetua lalu berlutut, ia melihat ada sebuah kursi seperti singgasana di belakang Tetua. Ia tersenyum berpikir itu disiapkan untuknya.
"Saya siap Tetua" ucap Lyli dengan percaya diri. Tetua mengangguk lalu memulai ritual dan membaca mantra.
Lyli menutup matanya mencoba merasakan energi yang akan memasuki tubuhnya namun. Setelah beberapa saat, ia tak kunjung merasakan apa-apa. Entah hanya firasatnya saja cahaya bulan yang menyinari seperti saat itu sekarang tidak dia rasakan. Dan mantra yang diucapkan oleh Tetua terasa begitu berbeda. Itu bahkan membuat tubuh Lyli terasa berat, seakan gravitasi semakin menariknya ke bawah.
Tiba-tiba suasana hening, hanya terdengar suara langkah kaki seseorang yang semakin mendekati Lyli. Itu semakin dekat hingga membuatnya susah bernafas.
"Selesai"
DEG!
Lyli sontak membuka mata, jantungnya berdetak begitu kencang. Ini tidak mungkin selesai, dia bahkan tidak merasakan apa-apa.
"Tetua, a-apa maksud anda!" Tubuh Lyli gemetar dan keringatnya bercucuran.
"Fufu~ berani sekali kau membuat Tetua mengulang perkataannya, palsu~" Mata Lyli membulat melihat sosok yang sudah duduk di kursi tadi dengan menyilangkan kaki dan menopang dangu dengan tangannya.
Sosok wanita yang ia lihat di mimpinya. Rambut putih yang di terangi cahaya bulan dan mata seterang warna mentari. Wajah angkuh yang membuat semua orang tertunduk padanya, bahkan Kaisar dan Tetua kini berlutut di hadapannya.
"Kita bertemu lagi rakyatku, sepertinya saat ini harus ditegaskan siapa penguasa kalian yang sebenarnya"
"Ka-kakak"
Di saat bersamaan di tempat lain seorang lelaki berambut putih baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Ia menyeringai mengetahui aura yang sangat ia rindukan.
"Lucya~ku.... Akhirnya waktu kita tiba..."
To Be Continued
Hay guys maaf chapter kali ini pendek~
Tapi untuk chapter depan bakal aku usahakan lebih 1k kata oke~
Happy 9k~ nanti klo 10k aku bakal boom up deh hehe
Jangan lupa follow ig aku karena aku udah up spoiler buat chapter ini di sana kalian juga bisa liat siapa yang ada di scene terakhir di Ig aku~
Jangan lupa Vote and komen Minna
Biar rajin up ~
KAMU SEDANG MEMBACA
Male Lead Itu Milikku
RomanceStatus : End Male Lead itu hidupku, satu-satunya yang dapat membuat ku bertahan di dunia yang memuakkan ini. Jika dia mati maka apalagi yang harus membuat ku bertahan? Ku kira aku mati, ternyata takdir mengizinkan ku untuk tinggal di dunianya. "Gran...
