Sudah hampir lima belas menit Pricilla terus berjalan tanpa arah. Sialnya lagi tak ada satu pun orang di tempat itu. Pricilla tak henti merutuki kebodohan dirinya.
"Huwaaa bagaimana ini?! Seharusnya tadi aku mengajak Marie" Pricilla menunduk sedih.
"Lady, apa yang anda lakukan di sini?" Pricilla segera berbalik setelah mendengar suara itu berasal dari belakangnya.
Nampaklah sosok lelaki bertubuh tinggi dengan rambut pirang serta mata yang berwarna emerald. Pricilla menutup mulut tak percaya. Warna rambut pirang hanya dimiliki oleh keturunan kaisar saja. Tak salah lagi dia adalah anak kaisar selain David.
Setelah lama berpikir, akhirnya Pricilla ingat siapa itu. Dia adalah anak dari selir negara lain.
"Salam kepada Yang Mulia Pangeran" Tunduk hormat Pricilla pada lelaki itu.
"Anda tau siapa saya?" Tanyanya lagi dengan sopan sangat berbeda dengan David yang selalu angkuh.
"Tentu. Adakah orang yang tak mengenal Pangeran Esla di kekaisaran ini? Saya rasa itu sangat tidak mungkin" Pricilla tersenyum manis membuat Esla tertengun untuk sesaat. Lalu terkekeh kecil.
Esla Leand Wero- Anak satu-satunya selir dari Kaisar. Dia figuran yang begitu positif, sadar akan posisi sebagai anak dari selir dia tak pernah meminta persaingan untuk tahta. Di novel dia mengasingkan diri dengan memerintah daerah terpencil di negara kelahiran ibunya. Sama seperti Pricilla, kemunculannya di novel begitu minim bahkan tak berpengaruh pada jalan cerita sungguh figuran yang malang. Padahal dia begitu tampan. Tetapi tetap saja lebih tampan Zephan di mata Pricilla.
Esla mendekati Pricilla, ia murah akan senyuman. Pricilla sangat menjaga sikapnya, karena dia sangat menghormati Esla daripada David.
"Bisakah anda menjawab pertanyaan saya sebelumnya terlebih dahulu?" Ucap Esla, Pricilla pun baru ingat akan hal itu.
"Mohon maaf Pangeran, saya dari tadi terus berjalan tanpa arah. Dan tanpa saya sadari saya tersesat." Jawab Pricilla dengan jujur.
"Ah, benarkah? Tidak pernah ada orang yang datang kemari kecuali keluarga kekaisaran. Jika begitu saya akan mengantarkan anda keluar"
"Saya sangat berterima kasih Pangeran" senyum ramah Pricilla.
Mereka kemudian berjalan bersama pergi dari sana. Di sepanjang jalan hanya ada keheningan diantara keduanya. Hingga Esla memulai pembicaraan lagi.
"Apakah ini pertama kali anda ke istana?" Tanya Esla lalu melirik Pricilla.
"Ah, iya. Saya baru pertama kali ke sini, jadi saya mudah tersesat" Jawab Pricilla malu sambil menunduk. Hal itu membuat Esla seakan gemas pada gadis itu.
Banyak gadis berambut hitam yang sudah ia temui, namun kali ini dia merasakan aura yang tak biasa pada gadis itu. Ada sesuatu pada gadis itu yang bisa membuat seseorang tak bisa mengalihkan pandangan darinya. Hal itu juga mirip dengan seseorang yang pernah Esla jumpai. Ah, dia bahkan lupa menanyakan nama gadis di sampingnya.
Langkah Esla berhenti, Pricilla juga ikut berhenti. Dia menatap bingung Esla.
"Lady saya lupa menanyakan hal terpenting tadi"
"Apa itu pangeran?" Tanya Pricilla polos.
"Siapa namamu?" Tanya Esla sambil menatap warna mata silver itu.
Baru saja Pricilla ingin menjawab tiba-tiba seseorang datang di waktu yang tak tepat.
"Pricilla?" Pricilla segera menoleh lalu membulatkan matanya.
"Zephan!" Riang Pricilla yang segera berlari menuju suaminya yang tak jauh dari sana.
Esla menatap punggung itu, ia tak menyangka bahwa gadis itu sangat senang bertemu dengan sosok lelaki di sana. Esla menyusul gadis itu.
"Zephan apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Pricilla yang sangat senang bisa bertemu suaminya. Dia bahkan sudah melupakan peristiwa memalukannya.
"Itu bukan urusanmu" jawab Zephan singkat.
"Ah, ternyata Lady kenalan Grand Duke." Esla muncul di belakang Pricilla. Zephan memasang wajah tak sukanya.
"Tidak. Dia istriku" Zephan menarik Pricilla ke dalam pelukannya.
'Astaga! Cobaan apalagi ini?!' Batin Pricilla yang begitu terkejut sekaligus bahagia.
Esla tampak juga terkejut menerima kenyataan bahwa Pricilla adalah istri dari Grand Duke yang menghebohkan seluruh kekaisaran. Esla tersenyum kecut, padahal dia baru saja menaruh harapan tinggi untuk mendapatkan gadis itu. Ternyata dengan cepat ia merasakan sakit dijatuhkan oleh harapan itu.
"Saya baru tau. Tadi saya membantu Grand Duchess karena dia tersesat." Jelas Esla. Zephan memasang tampang yang sangat dingin sekarang, rasanya ada yang terbakar di dalam dirinya.
"Terima kasih. Kami pamit pangeran" Zephan segera berbalik, membawa Pricilla yang berada di pelukannya.
Esla menatap kepergian mereka dengan pandangan menyedihkan.
"Pricilla...."
_________________________
Pricilla masih mematung di dalam kereta kuda. Tampaknya dia sangat bahagia hingga tak bisa mengatakan apa-apa. Bayangkan saja suami yang kau cintai memelukmu di depan lelaki lain karena cemburu. Ah, serangan yang tak bisa Pricilla tahan.
"Sepertinya kau menikmati perjalanan dengan Pangeran" Ucap Zephan dingin menyadarkan Pricilla dengan cepat.
"Tidak. Aku hanya tersesat kau tau? Padahal aku sudah mengajak mu karena aku tak tau struktur istana tapi kau malah sibuk bekerja" Cibir Pricilla. Zephan tampak tak peduli.
"Suamiku... Dengarlah. Aku hanya mencintaimu seorang di dunia ini. Aku bersumpah akan hal itu. Jadi kau tak perlu cemburu" Zephan tampak kaget mendengar hal itu.
"Aku tidak cemburu. Hentikan omong kosongmu atau aku akan menurunkanmu di sini" Zephan memalingkan wajahnya membuat Pricilla ingin tertawa.
Srett!
Kereta berhenti tiba-tiba, Pricilla tak sengaja terdorong ke depan untunglah Zephan dengan cepat menangkapnya. Wajah mereka begitu dekat, mata mereka saling bertemu. Hening terjadi seakan waktu berhenti. Semua terasa begitu sunyi, hanya terdengar suara deru nafas satu sama lain.
"Tuan!" Panggilan dari luar membuat Zephan dengan cepat mendorong Pricilla dengan pelan ke belakang lagi.
"Ada apa?" Tanya Zephan dengan wajah datar.
"Saya ingin melaporkan sesuatu yang penting tuan" muncul seorang lelaki berjubah. Zephan mau tak mau harus turun karena itu hal penting.
Sedangkan Pricilla sekarang sedang mencoba menahan dirinya serta wajah yang sudah seperti kepiting rebus.
'Wuah jantungku!'
To Be Continued
Hallo guys aku up menemani ngabuburit
Jangan lupa Vote and komen juga lho wajib kalo ngk aku ngambek nih
KAMU SEDANG MEMBACA
Male Lead Itu Milikku
RomanceStatus : End Male Lead itu hidupku, satu-satunya yang dapat membuat ku bertahan di dunia yang memuakkan ini. Jika dia mati maka apalagi yang harus membuat ku bertahan? Ku kira aku mati, ternyata takdir mengizinkan ku untuk tinggal di dunianya. "Gran...
